Mybothsides

Monday, December 31, 2007

Olok-olok Tahun Baru

Jangan percaya dengan keharusan bahwa setiap pergantian tahun harus dirayakan, harus membuat kita gembira ria sambil lupa diri. Besok pagi tanggal 1 Januari 2008, Anda akan mendapati bahwa sinar mentari yang hadir tetaplah sama seperti kemarin. Hujan yang turun atau mendung yang menggantung adalah warisan masa lalu yang itu-itu juga.

Tahun baru bukan urusan negara, bukan urusan anak istri, bukan urusan pacar, bukan urusan betapa kencang terompet kita tiup dalam suka cita. Tahun baru semata-mata urusan pribadi masing-masing kita: just for you and you are alone.

Jadi saya menyebut setiap Hiburan bertajuk Old & New adalah olok-olok. Menonton televisi siaran langsung tahun baru adalah olok-olok. Terompet adalah olok-olok. Pesta kembang api adalah olok-olok. Berkumpul menghitung detikan menjelang jam 12 malam adalah olok-olok.

Nasib kita, kebahagiaan dan kesedihan kita adalah tanggung jawab kita sendiri. Kita bisa bahagia setiap hari dan merayakan diam-diam rasa syukur atas kehidupan kita setiap pagi, tanpa berlebihan. Nanti jadi olok-olok juga. Tanpa bermaksud sok tahu sehingga Andapun akan mengolok-olok saya, berikut ada beberapa hal yang bisa kita lakukan pada 31 Januari 2007 agar terhindar dari tradisi olok-olok setiap tahun:

  • Menonton film V for Vendetta
  • Membaca buku 101 Things to Do Before I Die
  • Duduk sendirian di pinggir pantai sambil berdoa semoga turun hujan
  • Mematikan jam, hp dan seluruh lampu rumah dan menikmati indahnya kegelapan
  • Berjalan kaki menjauhi keramaian sampai pagi tiba
  • Menulis puisi dan membacanya keras-keras
  • Menukar terompet orang lain dengan buku self help
  • Memberikan terompet tersebut + uang secukupnya pada pengemis yang kelaparan
  • I'tikaf di masjid
  • Sholat tahajjud bersama di luar rumah
  • Menonton pagelaran wayang semalam suntuk
  • Berada di ruang gawat darurat rumah sakit
  • Meniup terompet sendirian di tengah kuburan
  • Merayakan tahun baru di rumah yatim piatu atau panti jompo
  • Mengirimkan sms ucapan tahun baru pada Fidel Castro dan Aburizal Bakrie
  • Mengirimkan bantuan ke lokasi banjir
  • Menonton film di 21 Cieneplex yang judulnya dipilih dengan undian
  • Meminta penjaga toko buku memilihkan buku dan kita tinggal membayarnya
  • Tidur di trotoar jalanan bareng gelandangan
  • Menyediakan parkir gratis pada para pengunjung hiburan tahun baru
  • Meng-copy postingan ini, memfotokopinya dan membagikannya sebagai selebaran di keramaian acara Tahun Baru



Demikianlah beberapa ide yang semoga membuka alternatif selain mesti keluar ruangan dan beramai-ramai melakukan hal-hal yang gitu-gitu aja. Capeeekk dehh... Jadikan malam tahun baru meninggalkan pengalaman yang berkesan sepanjang hidup kita yang sementara ini. Takut dianggap berbeda dan ngeri dituduh konslet syarafnya? Tolong beritahu saya, benarkah orang yang merayakan tahun baru sejak umur 5 tahun sampai 30 tahun dengan meniup terompet terus menerus adalah waras? Please deh...

Biar makin lengkap, saya dengan senang hati memasang sebuah foto di posting ini. Anda tahu foto siapa ini? Yak benar: selamat mengolok-olok diri sendiri. Jangan takut, gak perlu jaim. Jaga image itu takhayul: just be yourself. Be comfort with that, more or less. Itu salah satu tanda kedewasaan.

Selamat memaknai diri Anda yang baru esok hari, tahun yang berganti sih biarin aja berlalu...

Saturday, December 29, 2007

Sekali Lagi: Sholat dan Sedekah

Jika Anda hari ini sedang berada di bumi yang tergenang air setinggi dada atau sepohon kelapa, jika hari ini Anda sedang merintih di ruang gawat darurat rumah sakit akibat bencana, jika saat ini Anda sedang berada di lorong gelap setelah tanah longsor mengubur rumah Anda, jika rasanya beban hidup di dunia ini sudah tak sanggup lagi kita tanggungkan saking beratnya: serahkan semuanya pada Allah dengan mengerjakan sholat dan sedekah.

Jika Anda hari ini tidur di kasur empuk berselimut tebal dalam ruangan Full AC yang dijamin tidak bocor, jika hari ini Anda membaca postingan saya ini via hotspot sambil nyruput secangkir vanilla latte di Starbucks, jika di penghujung tahun ini ratusan milyar proyek bisnis Anda sedang dirayakan setelah kontraknya Anda menangkan, jika rasanya dunia bagai surga dan tak ada satupun masalah yang nampak di mata Anda yang fana: ingatlah pada Allah dengan mengerjakan sholat dan sedekah.

Lho, mengapa dunia yang kontras bertolak belakang ini memerlukan formula yang sama: sholat dan sedekah? Saya telah mengalami lebih dari cukup bahwa surga dan neraka dunia itu fana, tidak kekal adanya. Nasib bisa berbalik 180% hanya dalam hitungan menit, bahkan detik. Sekedipan mata. Lihat nasib milyarder yang tewas setelah helikopternya gagal mendarat di atap hotelnya sendiri yang super mewah. Lihat hotel super deluxe yang sewa kamarnya seharga 2,5 juta sehari runtuh diguncang gempa bumi 55 detik. Lihat penjual asongan yang memenangkan hadiah tabungan milyaran. Lihat Thukul Arwana, lihat Basuki, lihat Ahmad Albar, lihat Fariz RM, lihat Benazir Bhutto, lihat akhir nasib George W. Bush kelak.

Frank Costello di film Departed bilang,"Saat sepucuk pistol ditodongkan kepalamu, apa bedanya kamu jadi penjahat atau polisi?"

Dalam pandangan mafia dan orang kebanyakan, mungkin tak ada bedanya. Saat bunyi dor meletus, nyawa Anda akan pergi meninggalkan kepala yang berlubang ditembus peluru. Tapi demi Allah, nasib pelaku kebaikan dan kejahatan itu bagai langit dan bumi: tidak peduli apakah hidup mereka diakhiri dengan peluru yang sama.

Anda memerlukan sholat dan sedekah untuk bisa selamat mengarungi dunia yang penuh tipu muslihat ini: bukan kekuasaan, kekayaan atau senjata.

Thursday, December 27, 2007

Keberuntungan

Berapa banyak pun latihan, betapa berhati-hatinya pun, hanya masalah keberuntungan kamu akan terbunuh atau tidak. Seberapa pun kuatnya dirimu, saat kau berada di tempat dan waktu yang salah, kau akan terbunuh. Mereka yang pulang hidup-hidup dari peperangan adalah orang yang beruntung, bukannya yang paling unggul.

- Kutipan bebas dari Thin Red Line -

Wednesday, December 26, 2007

Saya Tak Sanggup Menolong...

Saat itu jam 16.00 lalu lintas di jalan menuju Godean macet, di tengah kemacetan ada 2 mobil berhenti di tengah jalan posisinya agak meyamping. Empat orang laki-laki berperawakan besar turun dari mobil yang di depan, tanpa ba bi bu memukuli sopir yang ada di dalam mobil belakangnya. Pengemudi naas itu tidak berdaya dan hanya bertahan mukanya ditonjokin, terlihat darah mulai mengucur. Tapi empat orang pengeroyoknya tak peduli dan terus memukul dari jendela yang terbuka, lalu menggedor kap dan atap mobil. Beringas sekali! Mungkin tadi ada serempetan atau tabrakan kecil, saya kurang tahu. Lalu seorang perempuan keluar dari mobil yang di belakang dan mencoba menghentikan pemukulan, tapi justru perlakuan kasar diterimanya. Dia didorong tepat di muka oleh seorang laki-laki dengan sangat kasar sambil mengeluarkan sumpah serapah.

Setelah puas menghajar, mereka berempatpun masuk mobil lagi dan dengan kasar menstarter mobilnya keluar dari kerumunan. Tinggal pengemudi mobil babak belur berdarah dan perempuan (istrinya?) menangis keras-keras. Barulah orang-orang mulai berani mendekat, meminggirkan mobil dan memberikan pertolongan.

Dan di situlah saya: terpaku tak berbuat apa-apa. Ada lebih kurang dua puluhan orang berada di sekitar TKP dan hanya memandang pengeroyokan itu. Semua orang yang saya lihat, semua tidak berbuat apa-apa. Gejala apa ini? Ya Allah, saya merasa berada di Jakarta bukan di Jogja...

Entahlah, saya sendiri merasa begitu bersalah sampai berkeringat melihat kekejaman di depan mata saya, saya hanya terdiam. Rasanya pengecut sekali. Seharusnya saya turun dari motor dan melerai pengeroyokan itu, meskipun saya tak tahu siapa yang salah di antara mereka. Tapi toh itu tak penting karena faktanya pengeroyokan itu terlalu kejam jika disaksikan lebih dari dua puluh pasang mata di tengah kemacetan jalan. Toh semuanya bisa dibicarakan baik-baik di pinggir jalan.

Dan, ya: saya memang penakut. Saya merasa takut mereka akan mengeroyok saya, karena saya sok ikut campur. Dan memang kecil kemungkinan menang lawan tim preman itu. Tapi di dalam hati saya yang paling dalam, saya merasa hancur. Saya merasa bukan diri saya lagi. Saya menyesal setengah mati, saya malu pada sang korban. Saya malu pada perempuan yang berani melawan 4 laki-laki pengeroyok (mereka berempat lebih pantas disebut betina). Saya merasa bukan manusia utuh lagi: jika saya yang dipukuli dan begitu banyak orang berkerumun tanpa satupun menolong, betapa remuk hati saya. Sakitnya pasti melebihi remuknya wajah saya.

Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini. Ampunilah ketakutan hamba-Mu ini... hamba tak sanggup berkata-kata, hamba tak sanggup bersuara...

Saturday, December 22, 2007

Sahabat Sinterklas


Buat pengunjung setia blog ini saya sampaikan: Met Natalan en Tahun Baruan, Guys :) Mari rayakan dan sambut 2008 dengan penuh syukur, kreatif en fun, yeahh... semangat dunk!!!
(Thanx to Mas Heru untuk penampilannya yang sangat prima sebagai Kijang Sinterklas berhati emas)

Friday, December 21, 2007

Saya Belum

Saya belum bikin resolusi untuk tahun 2008. Saya belum bikin list calon penerima Mybothsides Award 2007. Saya belum menentukan tanggal pernikahan. Saya belum posting blog lagi secara teratur. Saya belum menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor. Saya belum beresin urusan pindahan rumah. Saya belum tobat (lagi). Saya belum menulis diary. Saya belum... Saya belum... Saya belum...

Sudah 5 hari ini saya dianugerahi Allah demam tinggi, hidung mampet dan sakit kepala yang alhamdulillah bikin saya tak bisa bekerja maksimal: saya bahkan tak bisa undur diri sekejap untuk memasukkan rongsokan tubuh saya ke tempat beristirahat yang lebih nyaman. Saya ini manusia tak tahu diuntung, punya tubuh titipan Tuhan pakenya sembarangan. Terus menerus dihajar pekerjaan dan pemikiran yang memeras keringat dan syaraf: mencapai puncaknya saat saya memutuskan untuk pulang ke Rembang setelah memberikan pelatihan pada dosen-dosen ASDI di Solo. Perjalanan nonstop sepanjang 18 jam membuat tubuh saya berteriak-teriak minta ampun: sayapun menyerah.

Rasa sakit diberikan Allah untuk mengingatkan: Rief, istirahat dulu. Jangan mau diperbudak pekerjaan. Percuma sukses kalo tubuh ringsek. Saya hanya memandang langit-langit, rebah tak berdaya dengan selimut menutupi tubuh yang mandi keringat, sambil berdoa semoga masih ada waktu tersisa untuk menyelesaikan tugas-tugas saya di dunia ini. Kematian tiba-tiba Basuki saat bermain futsal begitu mengagetkan saya: skenario Tuhan kadang kita tak pernah perkirakan.

Steve Jobs pernah bilang,"Mudah saja buat saya saat harus mengambil keputusan dari beberapa pilihan yang sulit. Saya bayangkan ini hari terakhir saya di dunia, dan keputusan apakah yang akan saya pilih di akhir hidup saya itulah yang akan saya ambil."

Saat tubuh kita tak berdaya, kita merasa Tuhan begitu dekat. Meskipun pikiran macet, tapi kepasrahan akan mencerahkan hati. Terima kasih Tuhan, tanpa sakitmu yang masih menemaniku sampai hari ini: Engkau telah menyelamatkanku dari penyakit kurang ajar dan kurang bersyukur atas kesehatan yang Kau berikan.

(Posting ini adalah tenaga pinjaman dari masa depan, bisa jadi setelah ini saya akan ambruk lagi dengan penuh rasa syukur karena telah mengobati kerinduan saya untuk menyapa Anda semua, sahabat-sahabat saya...)

Support World Silent Day



Saatnya Indonesia maju ke depan menyelamatkan dunia: seharusnya dari dulu begitu!
Hari ini saya beroleh berkah karena desain kampanye World Silent Day alias Hari Nyepi Internasional ternyata dibikin oleh sahabat saya Pak Eko (mantan Creative Head Petakumpet): wahhh, bener-bener bikin bangga! Bukan sekedar karena international taste-nya pada desain ini begitu kuat, tapi justru inilah wujud riil sumbangan dunia kreatif untuk menyentuh hati umat manusia agar care pada bumi tempatnya hidup. Ini juga bukti bahwa Indonesia sangat kuat aspek persaudaraannya: Hari Nyepi berasal dari ritual umat Hindu dan sebagai seorang muslim saya pikir nilai positifnya dalam konteks muamalah (hubungan sosial) luar biasa. Pak Eko-pun pasti juga tak ribut mempersoalkan Islami atau tidaknya ide ini. Jika ini bisa terwujud jadi sebuah gerakan internasional: alangkah bahagianya saya, alangkah bahagianya negeri ini, juga seluruh dunia layak menyambutnya dengan tangan dan hati terbuka.
Semoga dunia international tak menyikapinya secara negatif karena masalah agama, masalah negara pengusulnya (Anda tahu betap tak credible-nya negeri kita di mata dunia), masalah siapa yang bakal dapat nama ataupun masalah tetek bengek teknis lainnya yang remeh temeh tak bermutu.
Negara-negera besar, berhentilah berpikir picik. Please stop being stupid! Please open your eyes and wake up! Intan tetaplah intan meskipun di kubangan kotoran kerbau. Jadi bersiaplah: satu lagi tonggak sejarah sedang ditancapkan anak bangsa khatulistiwa ini untuk sebuah dunia yang lebih baik!

Tuesday, December 18, 2007

Tentang Polling Itu


Akhirnya, 123 suara memberikan pendapatnya di polling sederhana hasil coba-coba fasilitas baru blogger. Jumlah korespondennya mungkin tak cukup untuk menjadikan polling ini valid, tapi saya ingin mengambil sisi positifnya: setruman semangat karena 55% koresponden menginginkan ada buku lahir dari 'blog latihan' ini yang lahirnya karena dikompori Pak Eko dan gara-gara ada heboh blogger Jogja ditangkap polisi dulu itu. Sekarang ia jadi teman baik saya (mungkin karena saya bukan polisi). Bukannya saya ingin ikut-ikutan ditangkap polisi, karena emang udah pernah (saat razia SIM atau helm standar), tapi saya merasa bahwa blog is so powerfull.
Dan kenyataan bahwa 45% masih ragu-ragu, merasa belum saatnya bahkan menolak menunjukkan bahwa saya masih harus banyak belajar lagi: masih banyak bolong dan kekurangan yang mesti diperbaiki jika ingin jadi lebih baik dan terus maju. Percayalah saya tak akan lelah untuk terus merasa lapar dan bodoh.
Btw, terima kasih untuk teman-teman baik yang telah memberikan suaranya, saya mungkin tak tahu Anda satu persatu tapi yakinlah bahwa di hati saya kebaikan Anda telah ter-record dengan harddisk emas (dulu sih tinta emas), he he he... :)


Monday, December 10, 2007

Idenya Keren


Stiker ini nemu di warung bakso deket UNY. Sebenernya sih biasa aja, tapi ide dan copy writingnya TOP! Mungkin inilah deskripsi yang mendekati prinsip ideal copy writing: satu kata mungkin kurang, tapi dua kata mungkin terlalu banyak.

Sunday, December 9, 2007

Tempat Berteduh

Kejadian ini saya alami - kalo tidak salah ingat - saat saya masih kelas 5 SD. Saat itu bersama ayah saya naik motor dari Rembang ke Sragen. Motornya Honda CB 70, jarak tersebut ditempuh dalam 5 jam-an. Karena masih kecil, saya biasanya dibonceng di depan. Duduk di atas tanki bensin.

Menjelang maghrib sekitar jam 17.30 kami mulai masuk kota Sragen saat tiba-tiba hujan mengguyur deras. Karena tak bawa jas hujan, ayah saya meminggirkan motor dan kita berteduh di bawah teras sebuah toko yang tampak tua dan kebetulan sedang tutup. Tapi beberapa bagian baju telah terlanjur basah sehingga saya yang kecil mulai merasa dingin. Kami ada di situ kurang lebih seperempat jam dan hujan belum juga reda.

Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dan tampaklah pemilik rumah, seorang Tionghoa tua yang tertatih-tatih membuka pintu kayu yang emang berat dan besar. Dia berkata,"Sini masuk dulu, minum teh di dalam."

Ayah saya terkejut, sayapun demikian. Ayah berkata demi sopan santun,"Terima kasih Cik, kami disini saja. Bentar lagi reda kok..."

Ibu tadi menjawab,"Sudah kubikinkan, ayo diminum dulu.."

Kamipun tak bisa menolak. Lalu masuk dan duduk di sebuah ruangan. Kebetulan agak gelap, hanya satu lampu sekitar 10 watt yang menyala. Di meja kecil telah terhidang teh panas dan makanan kering. Dan Ibu itu menemani kami menghabiskan teh yang sungguh menyegarkan.

Yang saya ingat sampai sekarang: kelihatannya Ibu itu bukan golongan orang berpunya. Kursinya kayu sederhana, hanya ada sepeda jengki disandarkan di dinding triplek yang berdebu. Mungkin lama tak dipakai karena rusak.

Tapi itu semua tidak menghalanginya membukakan pintu dan menyuguhkan teh pada dua tamu yang tak diundangnya. Apa yang dilakukannya mungkin terasa bagai hal kecil belaka. Tapi di lubuk hati saya terdalam, yang saya alami begitu luar biasa. Saat kami pamit ketika hujan mulai reda, saya dan ayah hanya berpandangan. Beliau tak mengucapkan petuah apa-apa, hanya tersenyum. Baginya cukuplah, anaknya menyerap apa yang dilihatnya dengan mata polos anak-anak.

Dalam kehidupan saya selanjutnya, beberapa kali saya berteduh kadang di teras rumah atau toko besar yang pasti lebih kaya, tapi pemiliknya tak punya hati sebaik Ibu pembuat teh tadi.

Sampai sore ini hujan turun lagi membawa ingatan saya ke masa itu, tempat berteduh dan secangkir teh sore itu: memberi pelajaran terindah bahwa untuk berbagi kita tak perlu menunggu kaya.

Semoga Allah membahagiakan Ibu yang baik hati itu, yang teh hangatnya seperti baru saja saya teguk beberapa saat lalu dan aromanya yang khas masih terasa di hidung saya meskipun peristiwa ini telah berlalu hampir 20 tahun yang lalu.

Thursday, November 29, 2007

Bad Dayz

Saat hari buruk datang, apa yang akan kau lakukan?

Kemarin, saya berangkat ke Jakarta. Berangkatnya agak pagi karena ada titipan dari seorang kolega dan janjian ketemu di bandara. Dan ada satu lagi titipan klien, mesti nyampe Jakarta jam 12 siang. Berikut beberapa kejadian yang saya alami hari itu:
  • Pesawat saya delay dari jam 08.40 menjadi 09.00
  • Sampai Jakarta udah jam10.00 lebih nungguin bagasinya molor lalu naik Damri, ketiduran buru-buru turun di Gambir jam 11.45. Buku saya Ultimate Money Machine-nya Robert G. Allen ketinggalan di bawah kursi. Saat mau kembali buat ngambil, malah bingung karena kurang lebih 10 bis Damri di Gambir. Tadi saya naik bis yang mana?
  • Naik Taxi Bluebird di Gambir dapet sopir yang gak hafal jalan, diminta nanyain alamat malah balik minta saya yang nanyain. Waktu mau turun, ongkosnya Rp 15.000,- tapi uang Rp 50.000,- gak ada kembaliannya. Mmmm.. akhirnya tanpa kembalian.
  • Titipan klien diterima on time. Tapi kolega yang titip tadi malah pulang ke Jogja dan gak jadi ambil titipannya minta dibawa lagi ke Jogja. Lho, buat apa titip ya?
  • Sorenya mau Kebayoran Baru, ketemu sopir bajaj yang gak hafal jalan lagi, tanya-tanya lagi dehh...
  • Pulangnya mau ke Town Square naik bajaj, yang ini lebih parah: malah muter-muter di Kemang padahal waktu ditanya bilangnya tahu jalan. Setelah bayar Rp 10.000,- pindah naik Taxi Bluebird lagi. Yang ini mendingan agak pinter sopirnya.

Jika dirasakan tentu bikin kesel, hari itu segala sesuatu seperti tidak pada tempatnya. Tapi kalo direnungkan lebih dalam lagi: emangnya kenapa? Dan apakah melampiaskan amarah akan membuat hati kita menjadi lebih damai dan segala sesuatunya menjadi lebih beres? Saat ketemu sopir yang nyebelin, saya hanya diam. Saya ingin tersenyum sok positive feeling, tapi sejujurnya berat banget. Dan saat memberikan lima puluh ribuan dan gak dapet kembalian - secara manusiawi - juga berat. Terutama karena itu sopir nyebelin banget: tapi ya sudahlah. Kan Tuhan juga yang ngatur rejeki tiap orang. Mungkin udah rejeki dia, kita cuma tempat lewat aja.

Jadi lepaskan saja: biarkan hal-hal buruk berlalu. Malam itu di Town Square, seorang teman lama menraktir hot green tea di Coffee Bean, lalu pulangnya dianter naik mobilnya. Masuk kamar hotel dan mandi air panas. Rasanya seger banget.

Tuhan memang Maha Adil. Secangkir green tea gratis dan dianter ke hotel saja sudah melebihi jumlah 'kerugian' saya hari itu. Belum nginep di hotelnya.

Jadi sebenarnya saat kita pasrah dan tak mengeluh, hal-hal buruk akan menyingkir dan berganti kebaikan semata. Jangan menyalahkan siapapun saat keburukan datang, tetaplah berfikir positif. Dan jika ingin tak terbebani, kita nikmati saja saat keburukan menghampiri. Dengan tetap bersyukur. Enjoy aja. Seperti saat Kevin Costner ditanya tentang kariernya yang naik turun di film ia menjawab,"Saya nikmati saja perjalanannya. Namanya juga kehidupan..."

Oya, ada cerita dari Mahatma Gandhi yang saya kutip dari bukunya Robin Sharma Who Will Cry When You Die. Suatu ketika saat mau naik kereta yang mau berangkat, salah satu sepatunya terjatuh ke rel. Tak sempat lagi untuk diambil karena kereta sudah mulai melaju, Gandhi malah melepas sepatunya satu lagi dan dilemparkannya ke dekat sepatunya yang jatuh duluan. Temannya sangat heran dan bertanya,"Apa yang kamu lakukan?"

Sambil berjalan memasuki gerbong kereta bertelanjang kaki, Gandi menjawab,"Jika ada yang menemukan sepatuku, dia akan menemukannya lengkap sehingga bisa dimanfaatkan. Kalau cuma satu, maka sepatuku hanya jadi sampah dan takkan berguna buat siapapun."

Gandhi tidak mengutuki musibah, ia mengubahnya menjadi ibadah.

Monday, November 26, 2007

Agenda Acara Citra Pariwara 2007

Berikut agenda acaranya. Siapa tahu ada temen-temen yang perlu dicopy aja. Insya Alllah saya datang, semoga lebih gayeng tahun ini...

Saturday, November 24, 2007

Sukses itu Berbahaya

Kesuksesan adalah kegagalan yang tertunda. Entah kenapa saya kok menyenangi kutipan plesetan begini. Karena yang saya alami, kalo kita sedang sukses rasanya gampang banget merasa bangga. Merasa apa-apa bisa, merasa tak ada orang lain yang lebih baik dari kita. Dan setahu saya disitulah bahayanya. Karena formula kesuksesan sering tak bisa diulang, melainkan harus dipikirkan ulang terus menerus.

Kesuksesan tak pernah sempurna, makanya kita mesti waspada. Saat kita melewati sebuah tikungan dalam perjalanan ke masa depan, kita tak pernah tahu apa yang menunggu di baliknya. Kesuksesan adalah saudara kembar kegagalan: hanya bentuk dan rasanya yang tidak sama.

Jika saat ini Anda masih berkubang kegagalan, tersenyumlah. Jika saat ini Anda sedang menikmati kesuksesan, berbagilah. Kedua hal tersebut tak abadi. Saat situasi sebaliknya terjadi - baik pelan-pelan maupun tiba-tiba - kita tak lantas kaget, euphoria dan lupa diri. Dan jangan lupa bersyukur, inilah wujud kesuksesan yang sesungguhnya.

Thursday, November 22, 2007

Kuliah Umum Tentang Koran Merapi

Buat temen-temen mahasiswa Atmajaya peserta kuliah umum saya kemarin, berikut beberapa sample materi promosi Koran Merapi untuk menambah wawasan. Jika ada hal-hal yang perlu ditanyakan silakan email saya di arief_009@yahoo.com






Monday, November 19, 2007

Ada yang Baru


Thanks to Pak Eko, website Petakumpet kini berganti tampilan. Sangat melegakan melihatnya berubah dari dominan hitam bergeser ke putih, terasa lebih dinamis dan lebih menjual (Hallahh!)

Sunday, November 18, 2007

Usulan Buat PSSI


Buat calon pengganti Ketua Umum PSSI Nurdin Halid, saya punya usulan yang sangat serius: jadikan Jose Mourinho Pelatih Timnas Indonesia. Masa' orang-orang super kaya Indoensia kalah sama Thaksin Sinawatra yang mampu bayar Sven Goran Ericsson? Duuh, Pak Putera Sampoerna, Pak Budi Hartono (Djarum), Aburizal Bakrie.. tolong dunk do something for this lovely country.

Jika bener Mourinho jadi pelatih Timnas, saya janji akan beli kostum asli timnas buat dipake ngantor deh. Demi Indonesia apa sih yang enggak?

Demi Perdamaian

Menurut Anda, apa yang perlu dilakukan bangsa Indonesia agar bisa hidup damai dengan Malaysia?
a. Mengakui Isabella sebagai lagu nasional Indonesia
b. Mendirikan Partai TKI di Malaysia
c. Menawarkan pindah KTP Indonesia kepada Siti Nurhaliza
d. Mengekspor lumpur Lapindo ke Malaysia
e. Obbie Mesakh mengarangkan lagu nasional untuk Malaysia

Belajar Adil

Menurut Anda, jika seorang polisi naik kendaraan roda dua melewati sebuah operasi SIM & STNK yang diadakan kepolisian, dia akan tetap diperiksa atau dipersilakan tanpa diperiksa?

Saturday, November 17, 2007

Muka Bloon Mana Dipercaya Orang?

Cuma mau cerita pengalaman kecil aja. Jumat sore kemarin, saya harus transfer uang sejumlah 300 ribu ke rek Mandiri. Rencananya mau lewat bank, tapi tak sempat setor ke Mandiri sampai baknya tutup jam 15.00 sementara saya adanya cash. Lalu disetorlah ke mesin setor BCA, karena di Jogja Mandiri tak punya mesin setor. Mikirnya sih nanti akan ditransfer ke Mandiri lewat ATM Bersama. Tapi sampai malem nyoba ATM kemana-mana hasilnya nihil. Bisanya cuma cek saldo ama tarik tunai aja, transfer tidak bisa. Dan bank tentu saja tutup. Saya nyari teman yang punya ATM Mandiri tidak ketemu, yang ketemu saldonya tak cukup.

Alhasil, saya nyoba cara tradisional: nunggu di ATM Mandiri buat nitip transfer ke orang yang mau ambil duit. Nanti saya akan minta mereka transfer dan bukti transfernya saya tukar uang cash. Simple banget. Pikir saya, toh cuma 300 ribu ini.

Tapi ternyata, setiap orang yang saya temui mukanya jadi aneh: sepertinya takut dan tak ada satupun yang mau menolong. Beberapa malah curiga. Saya udah nyoba pake cara baik-baik minta tolongnya bahkan dibantuin ngomong ama pacar saya (anaknya imut, berjilbab, sopan dan ramah: ups!), tetep aja tak berubah. Tak ada yang percaya pada muka bloon saya (dan pacar saya) yang kecapekan nunggu di ATM Mandiri berjuang untuk bisa nitip transfer. Sayapun pasrah, saya tidak menyalahkan mereka. Hari gini sungguh beresiko untuk menolong orang asing, apalagi di ATM ada stiker berbunyi: Awas, Hati-hati penipuan di ATM.

Lemaslah saya sambil pergi meninggalkan ATM. Saya berjanji pada diri sendiri: jika suatu saat kondisinya berbalik, semoga Allah membukakan mata hati saya untuk menghilangkan syak wasangka dan suudzon, siapa tahu mereka yang kita curigai penipu bener-bener orang yang sangat membutuhkan pertolongan. Tapi karena kita menutup mata, hilanglah kesempatan untuk menjadikannya ladang amal. Inilah dunia kita sehari-hari, makin sedikit orang yang bisa dipercaya, makin banyak orang menjadi asing, yang berarti makin besar peluang kita untuk berbuat kebajikan, untuk menjadi rahmatan lil 'alamiin.

Keesokan harinya - saat dalam kebingungan - suaminya Mbak Rina (seorang staf saya di kantor) ternyata punya ATM Mandiri, masih ada saldonya. Dan Alhamdulillah masih percaya sama saya, sehingga kisah inipun - atas pertolongan Allah -bisa happy ending..

Tuesday, November 13, 2007

Keajaiban Diam-diam...

Saat itu tahun 1995, di kontrakan Kuncen. Ada Itok, Udin, saya dan Eri. Yang lain saya lupa, tapi kita ngobrol tentang Studio Petakumpet: bagaimana membagi pekerjaan dan hasilnya (untungnya). Waktu itu ada yang bilang,”Pren, kita gak bisa begini terus. Kerja selesai lalu untungnya dibagi semua, lagipula belum ada aturannya sehingga tergantung koordinatornya siapa. Kalo koordinatornya adil, semua akan hepi. Tapi jika tidak? Sekarang mungkin belum terasa masalahnya karena kita baru bagi-bagi seratus atau dua ratus ribu rupiah. Tapi kalo besok yang dibagi seratus atau dua ratus juta gimana? Apa gak malah jadi bertengkar hebat antar teman? Dan sekarang di tahun 2007, kita bicara lebih dari seratus dua ratus juta dan syukurlah semua sudah ada aturannya sehingga tak perlu bertengkar antar teman.

Pada saat bikin Company Profile bertema Fresh Ideas for a New World tahun 1998, oranye sebagai warna korporate Petakumpet disepakati: tanpa konsep dan alasan apa-apa kecuali terlihat semangat dan segar aja. Nah, waktu kantornya pindah ke Gedongkiwo yang ditumbuhi pohon nangka tahun 1999.. saat nangkanya berbuah dan dibuka: dagingnya berwarna oranye. Bukan kuning seperti biasanya. Serius! Rasanya kayak warna korporatnya telah direstui alam semesta.

Waktu bikin Company Profile bertema Dreamlight tahun 2004, ikon yang dipakai adalah kunang-kunang: juga masih tanpa konsep dan alasan yang jelas kecuali ingin berbeda ketimbang tahun sebelumnya. Desainnya penuh kunang-kunang sampai semua Corporate ID-nya juga. Dan saat tahun 2007 kita pindah kantor ke Dreamlab Building di Jl. Kabupaten keanehanpun berlanjut: di sekitar gedung seluas 970 m2 itu terhampar sawah nan luas. Dan bila malam tiba: sawah-sawah itu penuh kunang-kunang. Bukan satu dua, tapi penuh kunang-kunang. Ya Allah, takjub saya!

Dan selanjutnya, apakah keajaiban ini akan terus hadir? Saya belum tahu, tapi saya sudah mimpi siang malam Petakumpet bakal jadi covernya Fortune Magazine. Saya mimpi Petakumpet jadi The Most Creative Agency di Citra Pariwara. Btw, bukan tugas saya mengundang semua keajaiban ini hadir. Tuhan telah mengatur semua itu. Saya hanya sejenak bermimpi untuk lalu harus kembali bekerja, terus bekerja…

Monday, November 12, 2007

Ada Titipan dari Langit Ketujuh


Preview Tekyan Page 1, 2, 3





Tekyan diterbitkan oleh Balai Pustaka, merupakan pemenang lomba cergam Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Mengambil tema sosial yang sangat relevan dan jarang dimunculkan dalam komik Indonesia: tentang anak jalanan. Dari kisah si anak jalanan (istilah jalanannya: tekyan ), kita dibawa menengok secercah suasana gerakan reformasi 1997-1998.
Salah satu sindiran nakal dalam komik ini adalah gambaran sipir penjara yang mirip sekali dengan (mantan presiden) Soeharto. Masih bisa ditemui di toko-toko buku atau saat pameran buku IKAPI. Anda yang suka ini mungkin tertarik pula membaca
Kecoak, Ayam Majapahit, dan Panggil Aku Wartini Saja.
- Comment Ruang Baca Edisi Cetak Tempo, 26 Februari 2006 -

Busy Monday

What a busy day! Start woke up at 4 am, watching Die Hard 3 (With Vengeance), at 6 doing some design works with a cup of hot coffee. Wrote and checked new emails. Meeting in the morning, some instruction to staffs, going outside to meet client (Angkasapura, Plaza Ambarrukmo), PPPI meeting, back to office in hard rain (some billboard's falling down), meeting with President Director, some instructions to staffs (again), writing letters to clients (so many letters today), took a bath in the office (give time to go home), start working again... Finally, there's time to write blog for a while. Thank God!

But, my day hasn't over yet. Time counting... Go go go....

Friday, November 9, 2007

Bisnis yang Dholim

Tahukah Anda bahwa di negeri ini: orang miskin memberi harta pada orang kaya, orang bodoh memberi nafkah pada orang pinter dan perusahaan kecil memperkaya perusahaan raksasa? Dan segeralah terkejut: sistem seperti ini telah berlangsung begitu lama dan hampir setiap orang melihatnya sebagai kewajaran, sebagai sesuatu yang baik-baik saja.

Satu contoh, berapa jam waktu yang dihabiskan masyarakat kita untuk nonton sinetron sampah dengan sukarela? Rata-ratanya sekitar 1 - 2 jam sehari, atau malah lebih. Berapa banyak iklan yang tayang pada durasi 1-2 jam tersebut? Mungkin lebih 30 iklan. Berapa tarif iklan 30 detiknya? Sekitar 5 - 15 juta rupiah tergantung rating acaranya. Siapa yang paling untung? Para pembuat sinetron sampah. Para pengiklan. Siapa yang dalam rantai makanan paling dirugikan? Ya mayoritas masyarakat kita. Dan sialnya, kita nggak nyadar. Atau sadar, tapi tetap nontoooon terus...

Contoh kedua, lihat anak-anak kita yang sekarang sekolah dari mulai SD sampai SMU. Lihat buku pelajarannya. Siapa yang bikin? Orang-orang 'pinter'. Berapa banyak buku yang dibikin? Puluhan bahkan ratusan juta eksemplar. Siapa yang paling diuntungkan? Penerbit, Distributor, Pengarang. Siapa yang harus membayar mereka? Orang tua murid atau muridnya sendiri. Apakah mereka menjadi pinter setelah belajar buku paket? Tidak juga, lihatlah jumlah penganggur di negeri ini. Lalu pertanyannya, kok bisa proses pembodohan ini diterus-teruskan? Karena kita menganggapnya wajar, anak sekolah ya perlu belajar. Belajar perlu buku paket. Padahal segala yang baunya paket bikin tidak kreatif. Kalo tidak kreatif berarti gak siap memecahkan persoalan. Nah!

Satu contoh lagi, banyak perusahaan kecil (seperti Petakumpet) yang melayani beberapa perusahaan besar. Benar-benar besar, beberapa malah multinasional. Ordernya tak selalu besar, kadang kecil-kecil. Gak pernah ngasih uang muka dan maunya bayar mundur di belakang kadang sampai 3 bulan bahkan 6 bulan. Semua biaya ditanggung pelaksana order padahal untungnya sering gak signifikan. Akibatnya cashflow gak lancar, sementara perusahaan besar punya keuntungan mainin cashflow 3 bulan. Udah modalnya jauh lebih besar masih tega memaksa perusahaan kecil memodali pekerjaan promosi mereka. Waktu saya pernah protes, mereka bilang: ini aturan main disini, kalau nggak setuju ya nggak usah kerjasama. Gobloknya, karena kerjaan emang gak mudah didapat order mustahil itu diterima juga. Perusahaan besar makin besar dengan menginjak perusahaan kecil, yang kecil tetep aja kecil jika masih kuat diinjak. Yang gak tahan diinjak akhirnya mati.

So, yang seperti ini menurut saya namanya dholim. Saya belum tahu bagaimana mengubahnya. Jelas betul bahwa semakin kuat dan semakin besar perusahaan maka kekuatan menindasnya juga makin besar meskipun caranya juga makin halus, makin tak kentara, malah seringkali sesuai hukum dan peraturan perundang-undangan.

Tapi jika negeri ini mau maju, sistem bisnis dholim ini mesti diluruskan. Aturan mainnya disesuaikan dengan nilai keadilan dan win win solution. Jika aturannya belum bisa ditegakkan, paling tidak kita mulai dari diri kita sendiri: perusahaan kecil kita jangan ikut-ikutan dholim. Jika kelak tumbuh dan berkembang jadi raksasa, juga gak boleh ikut arus jadi dholim. Semakin besar kekuatan, harusnya semakin besar tanggung jawab, harusnya semakin mengayomi yang kecil-kecil.

Tapi syukurlah bahwa Tuhan hanya menilai dari amal ibadah kita, bukan dari besarnya kekuasaan dan kekayaan bisnis kita di negeri fana ini..



Thursday, November 8, 2007

Mengajari Orang Berdoa

Ini cerita yang saya kutip dari seorang teman.

Di pintu surga, seorang kyai terkejut. Di depan antriannya ada seorang sopir: yang jika dilihat dari sisi apapun takkan bisa lebih sholeh darinya. Maka kyaipun bertanya pada malaikat penjaga,"Maaf lho mas malaikat.. Bukannya saya mau protes, tapi mengapa pak sopir ini antriannya ada di depan saya. Padahal (sambil membetulkan sorbannya) saya kan - ehem.. maaf lho - lebih banyak ibadahnya..."

Malaikat tersenyum dan balik bertanya,"Pak Kyai, berapa orang yang pernah belajar doa padamu dan mengamalkannya dengan sungguh-sungguh?"

"Yang belajar tak terhitung, mungkin ribuan.. Tapi saya tak tahu berapa yang sungguh-sungguh mengamalkan doanya.."

Malaikat kembali tersenyum dan berkata,"Makanya antrean Anda di belakang sopir bis ini, dia lebih banyak mengajak orang berdoa ketimbang Anda. Saat di dunia, dia memang tak banyak ibadahnya. Selama 40 tahun jadi sopir ia justru sering ugal-ugalan nyopirnya. Dan saat dia ngebut, seluruh penumpang bis berdoa begitu khusyuknya meminta keselamatan pada Tuhannya. Doa yang sesungguhnya, dari hati yang paling dalam. Banyak yang sampai cemas berkeringat dan mencucurkan airmata lantaran takut tak terkabul doanya."

"Gimana, sudah jelas Pak Kyai?"

Wednesday, November 7, 2007

The Next Big Thing


Rasanya gak sabar nunggu waktu itu datang: energi buat menyalakan industri kreatif berbasis komik meledak-ledak, tak dapat lagi ditahan. Tapi bikin komik lagi bukan sekedar klangenan alias cinta monyet semata. Ndak cuma hobi, ndak cuma balas dendam.
Setelah ngobrol panjang selepas lebaran kemarin, rasanya memang dunia komik Indonesia perlu mendapat tamparan super keras sekali lagi buat bangun!
Dan kamipun berkumpul: Yudi Sulistya (Senior Illustrator Petakumpet, Juara Komik Nasional), Apriyadi Kusbiantoro (Studio Urakurek, Animator Iklan, Juara Komik Nasional), Eri Setiyono (Infinite Frameworks, Animator, Multimedia Designer, Juara Komik Nasional), Ahmad Faisal Ismail (Sebikom, Kreator Sukribo Kompas, Juara Komik Nasional) dan saya (tukang bikin minum, motongin kertas dan juru ketik) untuk membicarakan project serius ini.
Dan projectpun dimulai: kami butuh satu tahun (tanpa diskon) hanya untuk bikin script yang inspired, baik untuk komik-komik kami yang di-reborn maupun judul yang Gress. Tanpa script yang kuat, illustrasi sekeren apapun pasti gak bunyi. Mmm.. apalagi jika asal-asalan demi kejar setoran.

Waktu setahun persiapan rasanya tak bakal cukup untuk karya yang sungguh-sungguh. Adrenalin ini terus bergolak, tak sabar menunggu karya itu lahir...

Sunday, November 4, 2007

Iseng

Hujan begitu deras di luar, saya terjebak di Dunkin Donuts Plaza Ambarrukmo. Tadi barusan present logo Ambarrukmo Phone Market. Karena kalo mau dapet internet akses mesti beli secangkir kopi dulu: jadi deh bekerja di Dunkin siang ini. Cek email, revisi desain logo, kontak klien-klien. Not so bad lah, thanx to Macbook. Kalo dulu laptop Toshibanya gak bisa wifi, jadi rasanya beruntung sekali hari ini. Mmmm.. gak terasa kopinya dah mau abis, dan kayaknya hujan mulai reda. I should go, ngejar setoran lagi. Nguber klien lagi. Sampe ketemu dengan postingan berikutnya. Hope dari tempat yang lebih cool...

Thursday, November 1, 2007

Hidup Itu Rapuh

Saya punya seorang teman. Teman saya itu punya Paman. Orangnya sehat, gagah, jarang banget sakit dan selalu menjaga kesehatan. Hidupnya tidak macem-macem, berjalan wajar apa adanya. Umurnya sekitar 45 tahun. Sampai pada suatu hari, dia naik motor. Juga tidak ngebut, sekitar 40 km/jam lah. Di tengah jalan dia merasa ada yang salah, nafasnya terasa sesak. Dia berhentikan motornya, mesin dimatikan. Kunci motornya masih ada di setang, belum dilepas. Lalu dia duduk sebentar, kemudian... meninggal.

Mungkin jalan hidup begini tidak terlalu mengagetkan buat Anda, cara meninggal yang lebih aneh juga pasti lebih banyak. Di koran Merapi (koran lokal Jogja) pernah diberitakan seorang Ibu sedang buang air besar di atas jumbleng (lubang yang berfungsi WC, tapi langsung gak pake diguyur). Ternyata pijakannya patah dan ibu itu masuk ke dalam jumbleng. Meninggal.

Tapi inilah misterinya hidup. Apa yang kita perjuangkan sepenuh hati, apa yang kita cintai mati-matian, apa yang kita bela sampai titik darah penghabisan, apa yang bikin Hitler kumat stresnya sehingga membunuh jutaan orang: semua itu rapuh. Sangat rapuh. Kita akan gampang kecewa jika menginginkan hidup ini mengikuti semua kemauan kita. Di film Bruce Al Mighty, jadi Tuhanpun ternyata bukan solusi untuk memenuhi keinginan manusia yang terus berubah, terus bertambah terus terus terus.

Keinginan manusia baru berhenti ketika mulutnya diberi makan tanah kuburan. Ada baiknya kita merasa bakal mati besok pagi, agar yang terbaik dari hidup yang rapuh ini bisa kita perbuat. Agar tak menyesal ketika malaikat maut menyapa di tengah jalan atau di dalam kamar saat kita sendirian, tapi kita lupa menyiapkan bekal untuk perjalanan panjang.

Dalam kelebihan atau kekurangan, dalam kekayaan atau kemiskinan, dalam sehat atau sakit, kita menjalani hidup yang rapuh. Justru karena itu kita mesti banyak bersyukur.

Saturday, October 27, 2007

Arek Nekad


Biarpun capek karena jaga stand di Tradexpo 5 hari berdiri terus tanpa kursi tapi masih bisa leyeh-leyeh sambil tetap berpromosi (boleh dilangkahi tapi jangan diinjak, wa ka ka kaa... )

Hari Blogger Indonesia

Biar gak lupa aja, kalo ternyata para blogger sudah punya hari khusus untuk ngeblog secara nasional ya hari ini 27 Oktober. Kalo usul saya, Hari Blogger Indonesia ini mustinya libur nasional. Dan pada hari itu seluruh akses untuk ngeblog serta pake internet digratiskan. Nggak rugi kan kalo digratisin sehari? Gimana Pak Menteri, Ketua Asosiasi Warnet, Direktur Telkom Speedy, Ketua DPR, Pak Presiden? Gimana, setuju?

Saturday, October 13, 2007

Tribute to DPS & Ethan Hawke


Ziarah ke Diri Sendiri

Menyusuri sepanjang kota yang kosong dan toko serta supermarket yang tutup. Warung makan yang tutup. Pedagang kaki lima yang tutup. Merasakan kesendirian dalam jalan yang lengang. Mencoba mengakrabi sunyi, berlebaran dalam diam. Tak ada sms, tak ada telepon basa basi, seluruh maaf sudah kusiapkan sebelum kesalahan dilakukan. Tapi entahlah apakah dunia juga menyediakan maafnya untuk di-download gratisan, juga maafnya saudara dan handai taulan atas kesalahan yang kulakukan.

Sekali lagi, saya hanya perlu minggat dari tradisi, kapok oleh rutinitas dan melawan itu semua meskipun sekedar jadi negasi. Tak mudah mencari makna, tapi tak larut menjadi sekedar bebek budaya pastinya perlu diperjuangkan: kita kadang masih sungkan dan tak enak hati. Tapi relung hati terdalam juga perlu dikunjungi dan diajak silaturrahmi. Jiwa kita yang mati karena beban kerja dan tuntutan duniawi juga perlu diziarahi. Agar senyum itu mengembang dari dalam dan cahayanya menerangi yang di luar.

Saat sepi menyesap, kita sesungguhnya tak sendiri. Sungguh-sungguh tak sendiri...

Friday, October 12, 2007

Lebaran Itu...

Saat lebaran datang, pertanyaan itu hinggap: pantaskah saya lebaran?

Saat takbir bergaung di sudut-sudut kota, seseorang dalam gelap mengorek-ngorek sampah mencari yang tersisa. Saat keluarga berkumpul dalam tawa riang, seorang ibu menidurkan bayinya tanpa selimut di trotoar pinggir jalan. Saat milyaran sms terkirim bertarif 300-an, sebungkus nasi hampir basipun tak mudah didapatkan.

Mmmm... Mungkin tak penting benar bertanya tentang kepantasan. Ini hidup, begitulah warnanya. Setiap makhluk menerima nasibnya. Lebaran ya lebaran, tapi setelah itu hidup toh tak seluruhnya kembali suci. Tak banyak yang berubah, kasih sayang dan kemurahan yang ditempa Ramadhan pun akan kembali sunyi.

Tapi jangan bersedih, Saudaraku. Tak selamanya hidup akan bergelut kesedihan dan penderitaan. Tak selamanya mereka yang berlebihan akan sanggup menikmati kemewahan itu sendirian. Lebaran selalu datang setiap tahun, membawa nikmat yang mungkin sekejap. Tapi lebaran selalu hadir di hati, untuk yang tunduk dan ikhlas menyadari: tanpa hari sucipun, kebahagiaan hadir saat berbagi...

Wednesday, October 10, 2007

Ngapain?

Seorang sahabat saya sarjana ilmu sosial yang lama tak jumpa suatu hari tiba-tiba bertanya: aku itu heran sama orang-orang yang tiba-tiba demam sedekah. Ngapain kalo cuma ngasih gelandangan sebungkus nasi? Besok toh mereka lapar lagi. Ngapain kalo cuma ngasih seribu rupiah, nasib pengamen kecil itu toh tak berubah. Besok pasti ngamen lagi di sini. Ngapain bagi-bagi Supermi sama orang miskin, mereka toh miskin karena malas. Lagipula, emang punya kompor? Kasih kompor dong ama minyaknya sekalian. Memberantas kemiskinan itu tidak bisa dengan memberikan ikan, you harus kasih kailnya. Klo ngasih ikan doang, you nggak mendidik mentalnya. Mereka akan terus meminta-minta, bahkan mungkin jumlahnya makin bertambah. Karena sepertinya orang-orang itu memberi sedekah niatnya cuma pengin dapat balasan rejeki dari Allah yang berlipat tapi males berfikir yang lebih sistemik. Yang memberdayakan gitu loh, bukan cuma kenyang sebentar besoknya tetep jadi gelandangan.

Saya hanya menelan ludah dan menerawang. Memangnya saya ini siapa sehingga dianggap 'mampu' memanggul problem kemiskinan struktural seberat itu? Sedangkan Khalifah Umar memberi tauladan dengan memanggul sekarung gandum agar rakyatnya yang kelaparan bisa makan. Benar bahwa berbagi sebungkus nasi atau sekeping uang logam tak akan mengubah apa-apa, yang miskin mungkin tetap miskin. Tapi sedekah itu manfaat terbesarnya bukan buat yang diberi, tapi yang memberi.

Sedekah akan membawa hati kita menjadi kaya, semiskin apapun kita. Lagipula, tak semua sedekah bisa sampai ke tangan yang tepat. Bahkan oleh Tuhan, sedekah pada orang yang salah pun (orang kaya, orang jahat, orang kafir) tetap diterima-Nya. Tapi namanya belajar, segala sesuatu harus melewati proses. Yang bersedakah karena pamrih agar Allah menolongnya dari kesulitan ya tidak apa-apa. Yang bersedekah agar cepet dapat jodoh ya boleh saja. Bahkan yang bersedekah agar terlihat bahwa ia pemurah 'mungkin sedikit lebih baik' ketimbang yang khotbah doang tak bersedekah apa-apa. Wallahu 'alam.

Suatu hari nanti, kita akan bertemu lagi dan berfikir yang lebih sistemik untuk tidak sekedar bersedekah secara konsumtif. Kita akan ngobrol panjang lebar tentang kultur sedekah, tak cuma buat yang kaya tapi juga buat Saudara kita yang miskin. Allah sendiri telah berjanji bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta, malah menambah dan menambah. Jadi pasti cocok kalo diterapkan pada Saudara kita yang kekurangan dan pengin tercukupi kebutuhannya.

Tapi sampai segala sesuatunya siap, tolong jangan melarang siapapun yang mampunya hanya sedekah ikan, bukan kail. Kita bahkan tak tahu, apakah Saudara kita di luar sana, di gubug tak berlampu dan pinggiran sungai rawan banjir masih bisa menikmati hidupnya besok pagi dengan senyuman, jika di malam dingin ini tak ada sesuatu yang bisa dimakan.

Monday, October 8, 2007

Blank!

Kadang ada waktu-waktu tertentu ketika kita merasa blank, gak tahu mau ngapain, bingung mesti gimana, mengerjakan hal yang remeh temeh padahal ada tugas besar yang harus diselesaikan. Jadinya malah bengong, gak ngapa-ngapain. Plus rasanya males banget, bahkan untuk tidur aja masih males. Ayo, siapa yang pernah ngalamin pegang mouse-nya... (nah, banyak yang pegang kan?)

Sebenernya ini gejala wajar. Sangat manusiawi sehingga tak perlu kuatir. Kalo di komputer ini seperti proses download atau upload. Terlihat di monitor gak ngapa-ngapain kecuali kedip-kedip doang, tapi sebenernya di internalnya kerja keras luar biasa. Jika kapasitasnya gak kuat, bisa hang deh komputernya.

Nah, jika suatu hari (ini bisa berlangsng berhari-hari bahkan berminggu-minggu) mengalami kondisi seperti ini: pikiran kita jangan dipaksa. Apapun pekerjaannya, segawat apapun, tinggalkan dulu sementara, bener-bener dilupakan. Lalu kerjakan hal-hal yang menjadi kesukaan kita, hobi misalnya. Atau sekedar bengongpun ok. Atau jalan keluar makan di angkringan. Atau kabur ke tepi pantai (buat yang rumahnya deket pantai). Intinya, segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan persoalan yang memberatkan pikiran kita. Tujuannya, ya biar gak hang: nanti lebih repot. Biar relaks, biar gak tegang.

Kalo saya lebih senang untuk mengikuti irama hati: asal masih dalam batas wajar, saya ikuti aja maunya keinginan dan tubuh saya. Kalo pengin tidur, saya puas-puasin tidur sampe sehari semalam kalo perlu. Sampe bosen tidur pokoknya. Kalo mau nonton film, nonton aja. Kalo mau sendiri di pinggir sawah sampe malem, ya ayo aja. Selalu ada mentalitas anak kecil di diri kita yang kadang harus kita penuhi keinginannya. Karena setelah itu melewati titik ambang batasnya - percayalah - air bah ide dan kreativitas akan membanjiri hari-hari selanjutnya: sampai kita kehabisan waktu, sampai kita lupa bahwa pernah blank beberapa hari sebelumnya.

Begitulah, selamat menikmati kebengongan. Selalu bersyukur dan tetap semangat!

Sunday, October 7, 2007

Mencari Teladan

Rasa-rasanya memang tak mudah untuk mencari teladan di dunia yang tak sempurna ini. Atau memang tak perlu, lantaran selalu terdapat kekurangan dari siapapun tokoh yang dianggap 'pantes' jadi teladan. Tak juga presiden, penyair, pemusik, penyanyi, bahkan ustadz. Ustadz? Ya, atau kyai. Rasanya masih belum lama saat AA Gym menikah lagi, banyak umat yang sebelumnya menjadikan beliau teladan lalu berpaling tak mau datang mengaji lagi. Trus Yusuf Mansur yang sempat bikin klarifikasi ke publik lantaran 'merasa' dituduh ustadz komersil lewat postingan di sebuah blog. Juga Zainuddin MZ dai sejuta umat, kemana beliau sekarang? Bahkan Emha Ainun Nadjib atau Nurcholish Madjidpun tak luput dari aspek manusiawi: mereka tak sempurna sehingga 'dianggap' tak pantas diteladani sepenuhnya.

Kita ini jadi umat ya aneh, maunya niru terus gak mencoba mengembangkan penalaran dan kreativitas sendiri untuk belajar dan mengembangkan diri dengan merdeka. Mentalitas kita itu diberi ilmu bukan mencari ilmu. Jadi saat sang patron ternyata tak sesuai yang diharapkan lantaran punya cacat, kaburlah kita sambil menyumpah-nyumpah sang patron yang dianggap mengecewakan hatinya. Lha ya repot to kalo gitu terus, sebagai bangsa kita bakal jalan di tempat.

Buat saya pilihannya ada dua, yang pertama jangan meneladani tokohnya alias orangnya. Jadi kalo besok ketahuan sang tokoh punya belang, kita tak kecewa. Toh yang kita teladani, pemikiran dan tindakannya yang baik-baik aja dan yang berguna buat mendewasakan hidup kita. Yang kedua, total sekalian kalau mau meneladani. Ya baiknya, ya buruknya, satu paket sebagai manusia. Jadi kita bisa menerima karena toh setiap manusia punya kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Kita juga tak lalu kecewa di tengah jalan, kita tahu persis untuk tak berharap lebih pada sosok manusia.

Mmm, sebenarnya ada pilihan ketiga. Kita teladani saja Tuhan, Dia Maha Sempurna. Tapi gimana caranya wong kita ini potongane gak sempurna gini? Nah, sekarang saatnya mikir serius ketimbang sibuk nyalahin orang lain, ketimbang sibuk mengutuki tokoh ini dan itu. Insya Allah, segala sesuatunya akan baik-baik saja. Silakan mengambil teladan dari siapapun yang pantas diteladani, tetap open mind dan selalu sabar setiap terjadi hal yang tak sesuai keinginan kita...

The Secret of Giving


Ini adalah free download wallpaper, teksnya saya kutip dari Ust. Yusuf Mansur, silakan di-copy dan digandakan. Semoga bermanfaat sebagai sarana mengingat Allah, Sang Maha Pemberi...

Friday, October 5, 2007

Menyusun Mozaik Kebangkitan Iklan Indonesia

The future belongs to those who believe in their beautiful dreams
- F. D. Roosevelt -

Pada tahun 2010, sebuah agency lokal dari Indonesia terpilih sebagai Agency of The Year di Asia Pacific Adfest. Secara keseluruhan, agency-agency dari Indonesia jika digabungkan perolehan awardnya paling banyak dibanding tetangganya: Thailand, Jepang, Singapura, Malaysia dan Negara-negara lainnya. Oya, jangan lupa bahwa anak-anak muda kita kembali meraih The Best di Young Lotus Award, mengulang prestasi tahun sebelumnya. Dan di tahun 2010, senior-senior periklanan Indonesia akhirnya berhasil mengikuti jejak yuniornya dan meraih yang terbaik di AP Adfest.

Ahh, semoga Anda tidak kecewa jika saya memulai tulisan ini dengan bermimpi, yang mungkin akan dianggap terlalu mengada-ada. Lagipula, saya belum pernah sekalipun hadir di perhelatan AP Adfest sehingga makin absurd-lah mimpi yang saya tuliskan. Tapi karena mimpi masih gratis, jadi saya tak perlu bayar mahal untuk bermimpi yang tinggi-tinggi.

Yang saya tahu banyak di antara kita yang sangat berharap bisa dapat award di AP Adfest, Cannes Lions, New York Festival atau festival iklan internasional lainnya. Nyatanya, beberapa sudah mulai bawa pulang awardnya. Tapi mimpi ini harus dilanjutkan, beranilah menjadi yang terbaik di semua kategori: jadilah Agency of The Year di ajang kompetisi award tersebut.

Ok, setelah melanglang buana ke langit saya akan mengajak Anda sekalian menjejakkan kaki lagi di bumi. Jika tujuan sudah ditetapkan, sekarang kita cari tahu bagimana cara mencapainya. Apa yang sekarang kita punya dan apa yang kita perlu lakukan segera.

Mimpi Ini Bukan Hanya Tanggung Jawab Jakarta

Dari pelajaran yang didapatkan dari festival iklan internasional, mayoritas iklan award winning adalah hasil kolaborasi yang intens antara agency dan kliennya, sehingga dari sisi kreativitas, agency memiliki ruang yang cukup untuk bereksplorasi. Sementara klien di sisi lainnya sangat mempercayai bahkan memberikan dukungan sepenuhnya.

Industri ini terus bergulir dan tarik menarik kepentingan di dalamnya begitu kuat: dari agency, klien, media, media specialist bahkan pemerintah. Kepentingan masing-masing pihak untuk mendapatkan manfaat terbesar dari sebuah proses kampanye periklanan jarang menghasilkan kesepakatan terbaik: sehingga mayoritas output iklan yang dinikmati masyarakat lebih banyak berisi pengumuman, saran untuk segera membeli atau undian berhadiah sebagai cara instant untuk meningkatkan penjualan.

Tapi inipun OK, sejauh memang aspek jangka panjang dari industri periklanan ini juga menjadi bahan pertimbangan agar industri ini bisa berkembang dan makin besar kontribusinya bagi masyarakat luas. Bukannya makin berkurang revenue-nya dan punah karena kesalahan dalam sistem pengelolaannya.

Inilah yang saya maksudkan bahwa Jakarta tak bisa dibiarkan sendirian memanggul beban untuk mewakili wajah dunia periklanan Indonesia di mata internasional. Teman-teman kreatif di agency Jakarta bekerja begitu berat, selalu kelelahan di ujung hari saat melangkah pulang kantor, dihajar begitu banyak pitching, berperang dengan waktu untuk menghasilkan suatu kampanye promosi yang begitu complicated. Jangankan menghasilkan output yang layak tanding di award competition, bikin scam ad pun mungkin sudah tak punya waktu dan energi lagi.

Dengan kompetisi yang begitu berat dan margin keuntungan yang main tipis karena banyak agency tak bervisi panjang ke depan, saya khawatir industri ini terus menurun keuntungan ekonomisnya dan tidak menarik minat investasi lagi. Meskipun saya masih meyakini, industri ini secara fundamental masih sangat prospektif ke depannya.

Menengok Potensi di Luar Jakarta

Saya ingin mengajak Anda untuk melihat alternatif lainnya, keluar sebentar dari rutinitas dan keruwetan sehari-hari. Bagaimana jika kita bisa mengembangkan sentra kreatif (SDM, pembelajaran, pengerjaan) di luar Jakarta. Pertimbangannya: daily live-nya tidak seberat Jakarta, living cost lebih rendah, tuntutan bisnis belum begitu berat, sehingga masih cukup waktu untuk merenung, brainstorm dan bereksplorasi dalam eksekusi kreatifnya. Dan dengan mulai rutinnya kegiatan pengmbangan kreativitas iklan, saat ini tersedia lebih dari cukup mahasiswa calon SDM kreatif yang handal, yang saipa bersaing dengan senior-seniornya.

Pinasthika, Jawa Pos Adfest, Layang Kancana, ADOI Award dan Citra Pariwara adalah modal yang kita miliki sebagai ajang seleksi alam atas karya-karya iklan terbaik dari seluruh Indonesia. Tentu dengan karakteristik dan benchmark yang kontekstual di wilayah kompetisinya masing-masing. Dari output pemenang yang didapatkan pun, terbukti bahwa teman-teman agency dari Jogja, Solo, Surabaya, Bandung dan kota-kota lainnya mampu memberikan perlawanan yang manis terhadap kolega-koleganya dari Jakarta. Bahkan di Pinasthika, mayoritas pemenang berasal dari luar Jakarta. Bohlam Advertising, sebuah agency yang lahir di kampus Atmajaya Yogyakarta berhasil meraih The Best TV Ad. di Pinasthika 2007, mengalahkan semua agency lokal di Indonesia. Bayangkan!

PPPI sebagai induk advertising agency, tentu diperlukan perannya yang sangat signifikan dalam proses penataannya sehingga semua award competition di negeri ini terintegrasi dengan tujuan bersama untuk bertarung di kompetisi internasional yang lebih tinggi, demi Indonesia. PPPI bisa menatanya sedemikian rupa sehingga masing-masing award competition ini bisa saling melengkapi dan membawa manfaat sebesar-besarnya buat industri dan agency. Misalnya dari sisi jadual pelaksanaan, jenis entry, pilihan juri dan sebagainya, seperti mozaik yang kemilau karena ditata dengan sangat pas.

Waktunya Berubah

Mungkin agak naïf di jaman kompetisi bisnis begini brutal, saya masih bicara membawa nama Indonesia untuk menangin International Award. Biarlah para pakar periklanan lainnya yang akan membahas sisi bisnis kreatifnya. Tapi saya hanya ingin setia dengan apa yang menjadi alasan utama saat kita semua terjun di bisnis kreatif: mengapa kita memilih advertising sebagai core business, bukannya bidang lainnya.

Karena industri yang jualannya ide ini seharusnya mampu mengaktualisasikan diri dan kreativitas kita sepenuhnya, sehingga setiap jam kerja kita bisa dinikmati dan membahagiakan. Sehingga kita tak lagi lelah di ujung hari, bermimpi buruk dalam tidur yang pendek dan tergesa-gesa menyambut pagi untuk didera kesibukan bikin iklan yang makin membuat kita lelah hari demi hari.

Kita harus mulai berbenah. Mulai menghargai diri dan waktu kita, demi kelangsungan dan pengembangan industri ini ke depannya. Saya berharap kita bisa memulai upaya ini dari diri kita masing-masing meskipun dari yang kecil-kecil dulu dan jangan ditunda lagi.

Saya yakin Indonesia bisa unggul tidak hanya di Asia Pasifik, tapi juga di dunia. Dan kita bisa menikmati prosesnya dengan riang hati. Dan saya juga yakin, apa yang akan terjadi tahun 2010 bukan hanya mimpi semata dimana orang-orang akan tertawa saat tidak menjadi kenyataan. Saya juga tahu saya tidak sendirian dengan mimpi ini, Andapun – dalam bentuk yang mungkin berbeda – berhak memimpikan pencapaian-pencapaian yang bahkan lebih baik.

Saya menyelesaikan tulisan ini menjelang pagi yang cerah saat angin dingin sepoi menemani. Tepat di depan saya gunung Merapi yang megah menyapa ramah. Di sebelah kanan semburat sinar matahari kemerahan yang lembut menerpa. Di bawah, hamparan sawah hijau diselimuti embun luas membentang, menyegarkan hati dan jiwa. Di Jogja, juga di kota-kota lain dimana kesibukan belum mengambil alih hidup kita: kemewahan sederhana ini masih mungkin kita nikmati sambil kreatif berkarya. Anda di Jakarta pun berhak menikmatinya.

Persoalannya, berani berubah tidak?



Notes: tulisan ini dimuat di Majalah Cakram Terbaru Edisi Oktober 2007, beberapa diedit oleh Redaksi dan memang lebih pas. Tapi di sini saya posting versi aslinya, sebelum diedit. Ada sedikit perbedaan, silakan temukan yang mananya.

Tuesday, October 2, 2007

Tuhan Ada di Emperan Jalan

Ya, Tuhan memang ada di emperan jalan dan di pojok-pojok tak terlihat mata. Tuhan bersembunyi, takut pada segala sesuatu yang terang. Tuhan tengkurap atau berbaring, atau menerawang jauh dan kosong. Tuhan berbalut kain robek, kotor dan bau, beralas kardus dan koran bekas. Tuhan mengais-ngais sampah mencari sisa makanan yang semoga belum basi. Tuhan merintih, perutnya melilit minta diisi tapi cuma ada angin dan air comberan. Tuhan yang disembah-sembah dengan khusyuk di mesjid dalam jamaah yang wangi dan bersih, menggigil kedinginan dimangsa angin malam yang jahat.

Tuhan menyapa kita semua dengan tatap mata kesakitan, kita menutup hidung dan pura-pura memandang kelap kelip lampu reklame di pertokoan raksasa. Tuhan menyingkir di pohon besar tempat orang kencing diam-diam, menikmati bau pesingnya dalam kesedihan yang tak terperikan.

Tuhan sering hadir tak seperti persangkaan kita. Tuhan sering menyelinap menggoda. Kita yang harus membuka mata dan hati lebar-lebar agar kehadiran-Nya dalam hidup kita tak sia-sia. Kita bilangnya muslim, atau mukmin bahkan pemuka agama, membaca Qur'an fasih dan ber-umroh puluhan kali. Tapi saat Tuhan menengadahkan tangan, kita tak paham malah menyapa,"Maaf tak punya uang recehan..."

Tuhan tak marah saat kita nilai lebih rendah dari recehan. Tapi alam semesta yang tak rela. Ketika Sang Pencipta tak disapa dengan cinta, maka Iapun pergi membawa kasih sayang-Nya. Dibiarkannya hamba yang tak peduli, yang tak menyapa, yang tak terbuka hatinya. Dibiarkannya dalam kesulitan hidup yang ia ciptakan sendiri, karena egoisme yang tumbuh dari keserakahan hatinya.

"Mengapa tak Kau jawab doa-doa kami ya Tuhan yang Maha Pengasih? Mengapa tak Kau selamatkan kami dari pemimpin yang dholim? Mengapa tak Kau tunjukkan jalan kami dengan cahaya-Mu? Mengapa Kau tinggalkan kami dalam masalah besar yang tak mampu kami selesaikan?"

Bagaimana doa kita akan didengar kalau saat Ia menyapa kita selalu membuang muka?

Thursday, September 27, 2007

The Godfather


Selama 2 hari berturut-turut menjelang sahur, saya memenuhi impian lama: menikmati film Godfather Part I, II, III. Total 9 CD. Impian yang berawal dari pertanyaan sederhana: saat semua orang membicarakan film lama ini dan begitu banyak bintang besar plus sutradara sekelas Francis Ford Coppola ada di dalamnya, pastilah ini bukan film biasa. Dan heii, saya belum menontonnya. Yang kedua, saya sedang mencari satu model pembelajaran tentang kepemimpinan.

Setelah hampir berbulan-bulan pencarian tanpa hasil, malam itu di sebuah rental di saya menemukannya, lengkap 3 seri. Dan kuliahpun dimulai: start jam 12 malam sampai pagi tiba, 2 hari lamanya. Dan Thank God: film ini secara utuh mampu memberi deskripsi tentang warna-warni perjalanan hidup anak manusia dari lahir, tumbuh dewasa, sampai maut menjemput. Dengan karakter yang kuat dari para pemerannya serta skenario dan plot yang begitu natural: rasanya inilah film terbaik yang pernah saya tonton seumur hidup saya.

Ok deh, mungkin saya berlebih-lebihan, tapi saya belajar jauh lebih banyak dengan menghabiskan sekitar 9 jam menonton Godfather ketimbang seluruh waktu sekolah formal saya (17 tahun) belajar tentang Pendidikan Moral Pancasila. Dalam kekejaman mafia dan aroma darah muncrat, keindahan terbangun tanpa harus pusing memikirkan apakah ini baik atau jahat, benar atau salah.

Seperti penari yang begitu menghayati musik pengiringnya, Vito Corleone (Robert de Niro, Marlon Brando), Michael Corleone (Al Pacino) dan Vincent Corleone (Andy Garcia) menghipnotis saya: bergerak perlahan, menghardik, membidik (atau dibidik), mengorganisasikan pasukan (manajemen), merencanakan pembunuhan (planning), negosiasi, berlari dalam desing peluru, menghadapi konflik internal, pengkhianatan, kekejaman, jaringan (networking), menyumbang kemanusiaan, menolong yang papa, menjadi teman dekat Paus Johanes Paulus, berdialog dengan maut.

Inilah kitab manajemen terlengkap: semua sisi dikupas, ditelanjangi, dihancurleburkan. Apakah seorang Godfather mampu meraih kebahagiaan dalam hidupnya yang penuh ancaman (mengancam atau diancam), saat setiap detik maut mengintai di sela makan malam yang mahal diiring tawa dan canda ria anak-anak kecil di sekelilingnya. Tak mudah hidup dengan kuasa yang nyaris mutlak, setiap orang pasti berminat mencabut nyawa si empunya. Nikmat yang fana dan pengorbanan yang sia-sia.

Dan akhirnya, memang bukan kebahagiaan yang sedang dikejar. Tapi ambisi, demi keluarga, demi kehormatan dan ironisnya: juga demi Tuhan. Tuhan rasanya tak campur tangan dalam kehidupan indah berbalut kekejaman ala mafia: seperti Andrea Hirata saat mengatakan Tuhan tahu tapi menunggu.

Di akhir film Godfather III, di ujung VCD yang ke-9 Tuhanpun hadir: tampak longshot Michael Corleone duduk di kursi dalam umurnya yang sangat senja, mungkin lebih dari 80 tahun ditemani seekor anjing kecil yang mengais-ngais di antara kursinya. Ia senantiasa selamat dari beberapa rencana pembunuhan oleh musuh-musuhnya. Lalu kepalanya tertunduk, tubuhnya pelan-pelan merosot, kakinya tertekuk. Kursi yang tak imbangpun rubuh. Tanah menerima tubuhnya dengan sedikit gerakan debu, tak dahsyat seperti film silat Indonesia dengan debu dari bahan tepung. Tanpa suara. Anjing kecilnya sedikit terkejut lalu kembali mengais. Seolah tak terjadi apa-apa.

Sang pensiunan Godfatherpun mati sendirian, bukan oleh pelor lawan-lawannya. Tanpa kuasa, ia bukan apa-apa kecuali seonggok tubuh ringkih berdebu. Lalu dimana bahagia? Lalu dimana Tuhan? Lalu dimana keadilan buat korban-korbannya? Lalu dimana hukum baik buruk berlaku?

Pertanyaan ini memenuhi kepala saya saat kamera makin menjauh: mayat tokoh mafia terbesar di dunia mulai samar diselimuti debu, angin yang berhembus, anjing yang tak peduli, kursi rubuh dan bangunan berbatu yang sunyi: semua nampak sama, hanya kumpulan benda-benda.

Dari jendela ruangan saya, matahari pagi mulai mengintip: membawa hangat di dada. Sebuah akhir proses kuliah yang nyaris sempurna, yang celakanya juga tak terjawab semua... tanya itu masih menggantung. Sayapun beranjak, membuka pintu dan tersenyum. Yang terbaik hari ini, tentulah tak abadi. Atas kuasa Tuhan, akan selalu hadir yang lebih baik lagi esok hari.

Tuhan tahu apa saja yang akan kita capai di akhir hidup kita, tapi Dia menunggu. Dia membebaskan kita untuk mencari tahu seolah hidup yang kita jalani tak pernah usai. Dia menunggu saat akhir hidup kita, untuk memberikan pesan pada yang masih tinggal: bahwa proses belajar selalu berulang dan tak pernah usai...

Doa yang Biasa

Tuhan, aku tidak memintamu untuk menjadikanku kaya raya karena kekayaan tak ada artinya tanpa kesadaran bahwa itu semua fana
Tuhan, aku tidak memintamu untuk menjadikanku jenius luar biasa karena kejeniusan tanpa kedewasaan hanya akan menimbulkan marabahaya
Tuhan, aku tidak memintamu untuk menjadikanku pemimpin masyarakat karena tanpa keikhlasan kepemimpinan hanya mengundang malapetaka
Tuhan, aku tidak memintamu untuk membebaskanku dari permasalahan karena setiap masalah adalah peluang terbaik untuk memahami kehidupan
Tuhan, aku tidak memintamu untuk menjadikanku pemenang karena setiap kemenangan yang masih mengalahkan bukanlah kesejatian

Hanya satu yang kumintakan pada-Mu dari lubuk hatiku terdalam, izinkan aku untuk memahami segala kehendak-Mu sehingga aku tak repot-repot membawa ambisiku yang fana
Sehingga saat Kau panggil aku untuk menghadap-Mu tak kusesali sedetikpun hidupku di dunia-Mu ini...

Saturday, September 22, 2007

Malu Pada Anak Muda

Ini pengakuan jujur saya: rasanya usia yang beranjak pelan-pelan telah merenggut api kreativitas saya, kengototan saya, keberanian untuk breakin' the rule, anti kemapanan saya, pemberontak kecil di otak saya, spirit petualangan saya, ke'keras'an kepala saya... Begitu banyak yang pelan-pelan tanggal, seperti ular yang mlungsungi alias ganti kulit.

Sialnya, kulit pengganti yang baru tak juga lebih baik: dalam hitungan bisnis posisi modal saya di bidang kreativitas minus. Makin tambah umur tapi makin tak kreatif. Sebentar-sebentar puas, gampang capek, mudah ngantuk, selalu kepayahan setiap terbentur masalah yang seolah tanpa solusi. Kalo mungkin saya akan gulingkan penguasa dalam diri saya saat ini dan saya akan gantikan dengan Arief yang berumur 6 tahun: yang masih polos dan tak takut apapun.

Ah, saya malu pada anak-anak muda yang dulu sering saya maki-maki ketika desainnya jelek, saya malu pada mereka yang tertunduk di hadapan saya menyetorkan revisi iklannya yang ke-8, setelah saya sobek yang ke-7, saya malu pada anak kecil yang tak berhenti menangis sampai ibunya membelikan mainan. Saya harus belajar lagi dari mereka, kebo nyusu gudel. Biar malu-maluin sekalian, asal jadi diri sendiri dan tak menipu hati nurani...

Buat yang pengin naik pangkat, saya ada warning: jadi Managing Director itu bahaya buat kreativitas, pertimbangannya jadi banyak dan seringkali kompromis atas nama kepentingan orang banyak. Tapi mungkin perlu sekali-kali pake kacamata kuda dan bergerak terus ke depan mengikuti nurani yang bicara. Menabrak tembok, menyeberang jalan tanpa melihat kiri kanan, tidur di tengah lapangan bola, apa saja yang mungkin atau tak mungkin diterima akal.

Karena setelah saya pikir-pikir lagi: Managing Director berumur 32 tahun toh juga manusia..

Thursday, September 20, 2007

Jatuh Cinta pada Dunia yang Tak Sempurna

Yup! Tepat sekali, saya memang pencinta dunia. Dunia yang kita tinggali ini begitu penuh warna, di dalamnya tersimpan seribu semilyar setrilyun misteri yang memompa adrenaline memancar deras. Dunia yang terus berteriak: go go go...

Dan ya, saya memang pencinta dunia. Saat sore datang dan sinar matahari berangsur melembut dalam nuansa sapuan kuas raksasa oranye: dunia bergerak melambat. Tuhan menciptakan sore hari begitu indahnya, sehingga dalam situasi setegang apapun: sore memberikan suasana santai yang saya butuhkan untuk tetap tenang, untuk tetap nyaman. Dalam angan saya yang paling ekstrem, saya mengandaikan meninggalkan dunia ini di sore hari yang tenang saat banyak manusia beranjak pulang dari kerja. Saat-saat kita hadir utuh sebagai manusia, bukan desainer, direktur, pencopet, tukang becak atau penyanyi dangdut. Bukan pula aksesoris dan kulit-kulit lainnya. Di saat seperti itulah kelak: saya ingin menutup mata...

Ah, tolong jangan tuduh saya sekular lantaran jatuh cinta pada yang fana. Dunia yang saya ingin menyentuhnya dengan sepenuh jiwa, adalah dunia yang sama yang digambarkan dengan begitu melankolis di buku Alan Lightman 'Mimpi-mimpi Einstein'. Adalah dunia yang bukan negasi dari akhirat: saya merasa akhirat sesungguhnya telah hadir di antara kita sekarang, hanya kita yang tak mampu melihatnya, tak cukup memahaminya. Keabadian yang dikandung akhiratnya, benihnya disiapkan oleh dunia.

Sudah jadi keyakinan saya untuk terus menebar cinta, pada dunia yang tak sempurna ini. Pada para penjahat kelas teri yang meregang nyawa. Pada koruptor kakap yang menangis di pojok penjara ber-AC dengan laptop menyala. Pada Yudhoyono yang sendiri di ujung hari dengan secangkir teh hangat dan buku tebal di tangan, merenungkan nasib Indonesia. Pada Jusuf Kalla yang terus bergerak agar negeri ini tak beku dimakan usia. Pada para pelacur ber-koyo yang masuk angin karena semalaman tak dapat tamu. Pada petani di sebelah kantor yang setia menumbuhkan hamparan padi untuk saya nikmati pemandangan hijaunya. Pada kekasih kecil saya yang begitu cantik jiwanya, yang sekarang sudah lebih gemuk daripada saat pertama ketemu dulu.

Jika tiba waktunya kelak saya akan pergi, biarlah kenangan rasa syukur atas ketidaksempurnaan dunia ini yang akan saya ceritakan pada Tuhan: betapa Ia begitu serius mempersiapkan setiap detailnya buat kita umat-Nya. Dan Tuhan tahu, saya berterima kasih begitu dalam atas Maha karya-Nya.

Bukan kesempurnaan yang membuat saya jatuh cinta, tapi cintalah yang membuat ketidaksempurnaan ini menjadi begitu luar biasa.

Mourinho


Gak ada hujan gak ada angin, malam ini datang berita yang mengejutkan itu: Mourinho meninggalkan Chelsea. Saya yakin ini dampak dari tidak disiarkannya EPL di TV umum, saat musim kompetisi berjalan saya belum pernah melihat Chelsea bermain. Saya tak mengikuti perkembangan perseteruan Mourinho - Abramovich. Rasanya memang kurang sreg, jadi penikmat bola via detik.com atau surat kabar, secara cuma baca reportase tak bisa melihat gerakan bola di-drible atau shooting ke gawang dengan akurasi tingkat tinggi.

Tapi Mourinho akhirnya pergi, meninggalkan segudang prestasi. Juga segudang tanya. Hampir sama dengan perginya Fabio Capello, bahkan setelah mempersembahkan gelar La Liga ke Real Madrid. Dua sosok pelatih hebat yang harus pergi karena tak sepakat dengan pemilik klub, bukan karena tak berprestasi.

Semenjak Thierry Henry pindah ke Barca awal musim kemarin, inilah berita terpanas di EPL minggu ini. The Special One - dengan segala bentuk keunikannya - adalah sosok fenomenal.

Di kantor saya yang lama, juga yang baru: saya setia memajang poster besarnya. Sebuah wajah dingin dan keras, serta sorot mata yang tajam dalam nuansa hitam putih. Dan ucapannya yang membuat bulu kuduk meremang: It can not be easy to follow a manager who thinks differently.

Sure, Jose. Good luck anyway, may the force be with you..

Tuesday, September 4, 2007

Ramadhan di Ujung Jalan

Ahh, rindu itu menggunung: sahur gudeg di depan gereja saat pagi buta, buka puasa angkringan di pinggir sawah dengan backsound adzan maghrib yang sayup-sayup, tarawih yang meskipun banyak lubang tapi selalu diupayakan untuk meredakan jiwa dari deraan pekerjaaan. Takbir yang bersahutan dengan anak-anak berbaris membawa obor di sepanjang pantura di malam lebaran. Tinggal saya tertegun dalam bis malam yang membawa tubuh lelah ini untuk pulang dan menikmati lagi tanah suci tempat kelahiran.

Ramadhan sudah mengintip di ujung jalan, dengan senyumnya yang menawan. Mampukah saya membahagiakannya tahun ini? Saya masih tertegun: rindu itu membuncah. Dada saya terasa penuh, mirip anak ingusan yang jatuh cinta pada pandangan pertama.

Ahh, Ramadhan: peluklah jiwaku dalam hangat cinta-Mu...

Monday, September 3, 2007

Alhamdulillah Tahun Ini Kalah



Jangan tanya pada saya mengapa tahun ini Petakumpet kalah. Jangan tanya mengapa meraih award terbanyak kok tidak jadi agency of the year. Saya sendiri juga tidak bertanya, saya sibuk bersyukur. Dalam kondisi serba pas-pasan, semangat tim saya masih tetap tinggi. Masih bisa kirim entry 45 karya. Masih bisa joged saat penyanyi melantunkan lagu dangdut di atas panggung. Masih bisa tepuk tangan barengan.

Saat kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan logika penalaran mereka, merekapun tak protes. Tim saya hanya tertawa kecil, saya ada di sana: terharu saat saat sahabat saya Eko Eddi Sucipto (mantan Creative Had Petakumpet) masih bersedia dengan antusias naik panggung menerima award. Rasanya tak ada yang berubah: kebersamaan itu begitu kuat terasa. Pun saat makan bersama di Gudeg Mbak Sri: begitu banyak lelucon berhamburan, begitu banyak keisengan dan begitu keras tawa terdengar.

Tak ada kesedihan karena baru saja kehilangan gelar The Most Creative Agency di Pinasthika 2007. Hanya ada syukur, karena yang terbaik dari kemampuan kita sudah dipersembahkan. Tahun ini tak ada agency yang lebih banyak award-nya ketimbang Petakumpet: seperti tahun-tahun kemarin.

Tapi tak ada gelar yang dibawa pulang. Tak ada sesal, sedih dan dendam. Sebagai sebuah tim, kami telah beranjak dewasa. Berjuang bukan lagi soal kalah menang. Mudah untuk bersyukur saat hari baik datang, tapi tetap bersyukur saat hari buruk menyapa: awalnya mungkin sulit tapi kami sedang mencobanya.

Dan saya menyadari telah salah menilai: tak ada hari buruk. Selama bibir kita basah dengan Alhamdulillah, semua hal baik adanya. Semua hal terbaik telah dituliskan sejak zaman azali. Semua yang buruk kita hapus dengan amal setiap hari.

Inilah maktoub. Mari kita jalani takdir dengan besar hati...

Wednesday, August 22, 2007

Terus Melangkah...

Satu yang saya pelajari dari Buku Pursuit of Happyness, saat keadaan memaksa kita untuk menyerah atau bertahan: kita harus terus maju. Saat sepasukan menyerang dan satu atau dua anggotanya tertembak tewas tepat di sebelah kita, kita harus terus maju. Kehidupan punya seribu sisi, yang setahu saya tak ada manusia yang mampu menjaga semuanya dalam kondisi sempurna. Selalu ada kekurangan, selalu ada kesalahan, selalu ada cacat.

Saat kita merasa hidup tak berguna, saat orang-orang mulai menyalahkan, saat teman-teman terbaik mulai pergi meninggalkan, saat seolah-olah kita tinggal sendirian saja di bumi yang kejam ini, saat otak buntu bahkan linglung, saat doa tak terjawab, saat-saat kita merasa segala sesuatu menjadi tidak mungkin kecuali menyerah, teruslah melangkah maju. Meskipun selangkah, meskipun setengah langkah...

Terus melangkah maju, itulah inti permainannya. Kesuksesan adalah bagaimana memahami yang tak dipahami logika, dan mengikuti keyakinan kita yang terdalam. Tuhan sudah tak sabar ingin menemui para pemenang yang babak belur dengan hadiah utama-Nya yang tak main-main.

Jangan menoleh ke belakang, jangan berbelok, teruslah melangkah maju...

Tuesday, August 21, 2007

Big Ideas are Like Wells

What is a big idea?

The easy way out, would be to say that a big idea is something opposite to a one off, a stand alone idea. Another attempt: a big idea is an idea bigger than just one ad.

That's a nice start; something like: a big idea is a container for more, other ideas. And I guess that is true. A big idea is like a well - it is a source for further thinking. It offers a basic thought that is interesting in itself but might also spark further thinking.

Because, I agree to what I read from other planners: ideas can be too big. They can be so big that they rule out other ideas, fresh thinking and renewal. In particular ideas that are highly executional, visual tend to work as a harness rather than a springboard.

Personally I like ideas based on compelling truths - some point of view that at least a vast group of people can easily embrace. When the all guiding thought takes the form of an opinion, when it is about taking sides, then it gets really interesting. Such ideas organize people pro and contra. They create some sort of tention. They are high in energy and can even get electrifying. Yet, big ideas are like wells.

There's a lot where it came from and like water wells, you automatically keep coming back for more.

Notes: saya dapet artikel ini dari milis CCI, dari copy postingannya Mas Daniel Rembeth. Kayaknya keren buat recharge dan dibaca ulang. Enjoy :)