Mybothsides

Friday, September 29, 2006

Promosi di Nomor Buntut

Ketika menemui perusahaan untuk menawarkan penanganan kampanye promosi mereka secara integrated, ternyata jawaban yang saya terima sering sangat menyedihkan:
  • Kami tidak punya anggaran promosi, lagipula begini aja udah laku kok
  • Jangankan mau promosi Mas, mau bayar karyawan aja ngos-ngosan
  • Omzet sedang turun, anggaran promosi kami dibatalkan oleh Direksi

Hal penting yang saya catat: ternyata promosi belum mendapatkan prioritas yang penting di banyak perusahaan. Kesan yang saya peroleh, jika ada dana lebih tak terpakai, baru boleh promosi. Promosi masuk prioritas nomor buntut. Jadi saya tidak heran jika banyak perusahaan di Indonesia yang tidak populer, tidak branded. Jumlah perusahaannya sih buanyak, tapi tidak jelas positioning-nya.

Lihatlah Mc.Donalds, Coca Cola, Apple, Microsoft, Nike atau Adidas. Secara kualitas kita tidak kalah dengan mereka (malah produksinya di sini), tapi secara brand? Jangan dibandingkan jika nggak ingin malu.

Banyak decision maker di perusahaan kita yang hanya percaya pada tangible assets (aset yang terlihat) dan tidak peduli pada intangible assets (aset tak terlihat). Mereka akan mengeluarkan dana berapapun untuk renovasi gedung dan mendatangkan mesin produksi baru, tapi tidak sepeserpun untuk membangun merk dan menciptakan pasar baru. Akibatnya, perusahaan memang masih bisa untung tapi pencapaiannya hanya segitu-segitu aja dari tahun ke tahun (syukur jika gak sampe gulung tikar).

Tapi pandangan negatif itu bisa jadi disebabkan oleh trauma kegagalan promosi. Dari banyak kasus, kegagalan di bidang ini disebabkan iklan dibuat oleh orang yang kurang memahami ilmu periklanan. Biasanya dengan alasan penghematan (mencari agency yang biayanya paling murah) atau biar proyeknya gak dikerjakan orang lain. Tanpa pengetahuan yang cukup, agency akan didikte oleh klien dan membuat kreativitas tidak berkembang. Tujuan promosipun gagal total.

Atau jika iklan itu dibuat oleh agency yang mengerti prinsip-prinsip ilmu periklanan, namun agency tersebut lebih memilih tunduk kepada kemauan kliennya daripada kehilangan klien tersebut. David Ogilvy pernah mengatakan: the job of agency is to tell clients the needs they don’t know, not just to do what clients told them. Agency mesti mengedukasi klien kebutuhan mereka yang sesungguhnya demi kebaikan klien: nggak cuma ngikut apa maunya klien aja.

Untuk mengefektifkan promosi, yang terpenting adalah ide yang mengarah kepada pencapaian tujuan, bukan budget-nya. Adalah efektifitas strateginya, bukan seberapa besar dan seberapa seringnya iklan dipasang.

Iklan termahal bukan iklan yang nilai tagihannya paling tinggi. Iklan termahal adalah iklan yang tidak efektif, seberapapun murahnya iklan itu dibuat. Bukan pada biaya bikinnya, tapi pada akibat negatif yang harus diderita sebuah brand ketika dikomunikasikan secara tidak tepat.

Dan iklan-iklan yang - secara de facto - di-approve oleh dept. purcashing dan bukan dept. marketing communication: seringkali terjebak menjadi sumber pemborosan yang luar biasa, meskipun dalam budget seolah hemat tak terkira.

Dari Mana Ide Kreatif Lahir?

Sumber inspirasi dalam penciptaan ide kreatif bisa berasal dari bermacam-macam hal. Jika disederhanakan: ide itu bisa didapatkan secara conventional dan/atau uncoventional.

Secara biasa-biasa aja, atau dengan cara yang berbeda dari biasanya. Conventional merujuk pada peran logika (otak kiri) dalam memahami permasalahan dan mencari solusi pemecahannya lewat analisa data yang bisa didapatkan dari internet, perpustakaan, riset, dll. Sementara uncoventional merujuk pada peran kreatif (otak kanan) yang dibutuhkan dalam proses idea development atas solusi logis yang telah ditemukan.

Ide kreatif kadang berasal dari dalam ruang meeting kreatif, tapi bisa juga tercetus di taman kanak-kanak, mall, bengkel kereta api, warung koboi, atau – yang paling sering – toilet!

Itulah sebabnya timbul kecenderungan dari biro iklan, biro desain atau seorang desainer grafis untuk ‘mewarnai’ output kreatif yang dihasilkannya. Bagaimanapun juga, tidak ada bentuk ideal atau ruang kosong penciptaan yang lepas sama sekali dari background kreatornya (pendidikan, hobi, lingkungan, kebiasaan, dll.). The man behind the mouse adalah aktor paling penting dalam proses kreatif. Kecenderungan ini sama sekali tidak dilarang, tetapi sebaiknya diletakkan pada porsi yang pas, sehingga bisa memberikan daya dukung optimal pada rangkaian proses perancangan komunikasi visualnya. Bukannya malah berdiri sendiri sehingga menimbulkan kebingungan audiens: ini konsep sama visualisasinya rasanya kok gak nyambung sih?

Pembuatan serangkaian creative artworks (dalam bentuk kampanye komunikasi visual yang integrated) tetap harus memperhatikan tahapan perancangan yang disusun untuk memenuhi kebutuhan komunikasi visual yang jauh lebih kompleks, tidak sekedar artistic looked semata.


Dan desainer atau art director/copy writer bukanlah hero yang bisa bekerja sendiri dalam proses penciptaan ide kreatif. Mereka adalah anggota tim yang berfikir, berdiskusi dan bertindak, bahkan bernafas sebagai sebuah tim.

Tanpa itu, revolusi tak pernah ada di dunia ini. Inovasi menjadi kata yang kesepian. Dan desainer akan menjelma 'seniman nanggung'. Penginnya idealis, tapi gak nyambung.

Quote of The Week

Kerja itu cuma selingan, untuk menunggu waktu shalat...

- Pak Azis -

Sunday, September 17, 2006

The Creative Man Behind Apple



Watch this incredible guy! Check out who he is here

Apa Adanya

Tidak mudah untuk bicara apa adanya di blog seperti ini. Guy Kawasaki, pengarang buku Rules for Revolutioners mengatakan, menulis di blog jangan seperti menulis diary tapi seolah-olah menulis buku atau artikel. Jadi ada gunanya buat yang baca. Dan otomatis pengunjungnya akan makin banyak.

Tapi satu kesulitannya, kadang-kadang ada buah pikiran yang tak bisa diformulasikan dalam bentuk 'layak baca.' Mungkin hanya cemooh, kemarahan, kesedihan atau sekedar angin lewat. Atau mungkin lebih baik yang begituan ditulis di diary personal aja ya? Karena sekali online, maka orang dari kutub utarapun bisa mengakses. Dan celakanya, kadang-kadang orang-orang yang kenal kitapun membacanya.

Lalu muncullah komentar yang miring: Kok kamu sekarang begitu sih? Kenapa pikiranmu jadi picik begitu sekarang? Setelah kubaca tulisanmu di blog ternyata kamu orangnya nggak dewasa.. dst. dst..

So, apakah kita harus nulis yang baik-baik saja di sini? Semuanya kembali pada kita, toh blog yang kita tulis cuma cermin. Dan jika cermin harus dibelah karena muka yang buruk, maka kita tak akan punya cermin lagi.

Dan muka yang burukpun tak berubah jadi baik karenanya...

Saturday, September 16, 2006

Saatnya Belajar Bikin Iklan Lagi

Dari mulai Rabu udah di Mercure Hotel, Ancol untuk mengikuti rangkaian acara Citra Pariwara. Baru nyampe Jogja tadi malam. Beberapa kegiatan yang diadakan cukup menarik, terutama seminarnya: para pembicaranya top semua dan materinya sangat menarik buat refresh otak yang lama beku karena kurang update. Exhibition-nya juga keren, baik pameran iklan internasionalnya maupun pameran entry CP 2006. Tapi yang bikin betah justru lokasinya yang persis di pinggir laut, saya bisa menghabiskan puluhan bahkan ratusan halaman buku setiap sore di pantainya.

Just info, entrynya ada 850. Lebih sedikit daripada Pinasthika tahun ini (1024 entry). Tapi pasti banyak faktor penyebabnya, misalnya harga entry yang relatif mahal.

CP 2006, sekali lagi bukan ajang awarding yang cukup friendly buat Petakumpet. Dari 4 entry yang kita kirim (KR Versi Pincang BerhatiEmas, KR Versi Punk Mulia, Jogja Dogdayz Anjing Terbang & Jogja Dogdayaz Anjing Kencing), tak satupun yang masuk list finalis. Dan tanpa pernah diduga: Perwanal Saatchi & Saatchi tampil sebagai Agency of The Year, menyalip Lowe dan JWT. Zaini dan Hakuhodo dapet 2 bronze. Medcom lewat TVC Kecap Belibis dapat silver, Telesklebes dapet bronze TV PSA. Prestasi alumnus Pinasthika masih mengulang tahun lalu, 1 silver 1 bronze.

Memang banyak kejutan terjadi, BBDO Indonesia kabarnya gak bawa metal satupun. Begitu pula Playgroup yang berjaya tahun kemarin. Juga Srengenge. Dan Petakumpet yang masih stag, terhenti pada titik puncak Pinasthika saja. Terlepas bahwa banyak agency besar pulang bawa angin, hasil yang diraih Petakumpet tentu sangat mengecewakan. Saya paling benci menerima kekalahan. Kekalahan itu merusak nature saya, merusak kebiasaan saya untuk selalu berusaha mencapai yang terbaik. Kekalahan membuat kepala saya pening. Meskipun untuk itu semua, saya lebih memilih bercermin daripada menyalahkan orang lain. Saya pastikan kesibukan saya akan bertambah dengan menggali kekurangan yang masih ada di internal.


Kebencian dan kemarahan atas prestasi yang buruk itu akan jadi bahan bakar untuk menghasilkan yang lebih baik di CP tahun depan. Sekali lagi selamat buat semua pemenang, semoga bisa berprestasi lebih baik tahun depan. Jika tidak, tentu kami yang akan mengambil kesempatan. Kami bener-bener lapar untuk bawa pulang award dari CP. Mungkin lebih dari sekedar lapar.

Sementara ini, sambil menunggu waktunya tiba untuk berkompetisi kembali tahun depan: saya dan teman-teman kreatif harus belajar bikin iklan lagi. Good - aja - is not enough, apalagi kalo ndak good!

Sunday, September 10, 2006

Slevin



Minggu kemarin nonton film ini. Gak ada rencana mau nonton film apa, jadi jalan aja ke 21 Plaza Ambarrukmo. Insting saya mengatakan Lucky Number Slevin yang pas. Film yang lain: Mendadak Dangdut (udah nonton), Snakes on Plane (saya gak tertarik judul ama posternya) dan beberapa yang lain agak lupa (atau mereka tidak mampu membuat saya mengingatnya).

Saya nontonnya berdua ama Adek. Agak heran juga dia nggak protes nonton film action beginian. Klop, deh! Btw, menurut saya film ini plot-nya cukup bagus. Dipersiapkan dengan detail. Tanpa plot yang cerdas begini, sisi ceritanya sih udah klasik. Temanya tentang balas dendam. Yang menarik adalah, clue-nya disebar di sepanjang film secara acak sehingga kalo nggak ngeh nggak akan ketahuan.

Morgan Freeman jadi penjahat: Dalam berapa film ya dia jadi penjahat? Kayaknya jarang, biasanya jadi good guy. Tapi kayaknya di film ini semuanya penjahat deh, kecuali Lucy Liu. Tapi saya suka karakter Slevin (ini nama samaran, aslinya Henry) karena dia mengaku punya penyakit gak bisa kuatir, gak bisa cemas. Tetap cengar cengir meskipun situasi sangat gawat. Keren!!

Satu catatan yang saya bawa pulang: nothing new under the sun. Tapi dari hal-hal sederhana yang sangat diperhatikan detailnya, dipandang dari sudut yang baru akan tercipta sesuatu yang sangat menarik. Dan sesuatu yang menarik, biasanya lebih mudah dijual. Saya adalah salah satu korbannya, he he he ;)

Quote of The Week

Jangan mati-matian mengejar sesuatu
yang tidak bisa dibawa mati...


- Emha Ainun Nadjib -

Sunday, September 3, 2006

Inovasi: Mendahului Jaman

Satu sikap mental yang diperlukan oleh seorang enterpreneur adalah inovatif. Artinya tidak sekedar mengikuti arus yang dibawa zaman, tapi menjadi pioneer yang berani melaksanakan perubahan untuk sesuatu yang baru, yang lebih baik meskipun kadang harus mendahului zamannya. Seperti kata Steve Jobs (CEO Apple Computer & Pixar Animation): innovation distinguishis between leader and followers. Hanya ide-ide inovatiflah yang akan membuat kita unggul dalam kompetisi kreativitas.

Tanpa inovasi, komputer akan tetap berbobot 1,9 ton seperti penemuan pertamanya. Jogja Jakarta akan kita tempuh berminggu-minggu dengan naik kuda dan bukan 55 menit naik pesawat seperti sekarang. Inovasi adalah suatu keniscayaan buat mereka yang ingin bisa survive di abad informasi ketika segala sesuatunya bergerak cepat dalam hitungan sepersekian detik. Fenomena email, broadband network, video streaming, game online, mms, adalah beberapa bukti serius bahwa tanpa inovasi dalam ide-ide kreatif, kita akan ketinggalan jaman. Duduk termangu sendirian di masa lalu. Apa yang kita banggakan hari ini, bisa jadi akan basi besok pagi.


So wake up, Guys! Great ideas become less great everyday it is delayed.

Manajemen Mood



Kalau sedang mood, kita bisa seharian nongkrong di depan monitor, mengutak-atik desain dalam keasyikan. Dan hebatnya, mood yang bagus akan membuat output kreatif kita benar-benar bagus bahkan kadang lebih bagus dari yang diharapkan. Mood ini sangat diperlukan untuk menghasilkan karya yang di atas standar, yang bukan asal jadi. Tapi datangnya mood sering tidak terduga. Dalam situasi tertentu, mood bahkan menguap hilang selama berhari-hari meninggalkan kita dalam dalam kebuntuan ide.

Saya punya pengalaman buruk menyangkut manajemen mood. Saya pernah gagal mengisi rubrik Salvo di edisi 4 Blank! magazine (alm.) gara-gara ide yang macet meskipun telah nongkrong di depan komputer dan baca buku macem-macem, seminggu penuh. Saya tidak tahu harus diapakan seluruh bahan yang sudah terkumpul itu. Pada detik terakhir deadline, akhirnya saya menyerah dan rubrik tetap itupun sukses tergusur artikel yang lain.

Satu lagi ketika menyiapkan tulisan ini, lama sekali saya memikirkan tulisan yang pas untuk di-posting dan sampai kemarin malam saya masih belum tahu mau nulis apaan. Apalagi mikirin ilustrasinya mau pake apa. Barulah menjelang deadline, saya dipaksa oleh kondisi waktu yang tinggal sedikit itu sedemikian rupa sehingga katup yang membuatnya buntu tiba-tiba jebol tanpa saya tahu bagaimana prosesnya. It’s just happened. Saya cuma tahu dari bukti otentiknya: tulisan ini bisa tersaji di hadapan Anda sekalian.

Nah, saya yakin mereka yang mengaku (atau tidak mengaku) dirinya kreatif pernah mengalami kebuntuan semacam itu, seperti pengarang yang kehilangan kata atau pelukis yang kehilangan imajinasi warna. Bagaimana mengatasinya?

Yang harus saya ingatkan sebelumnya adalah, mood tidak bisa didatangkan serta merta kapanpun ia dibutuhkan. Yang bisa kita lakukan adalah menciptakan kondisi-kondisi dimana mood itu mudah muncul untuk selanjutnya bisa menghidupkan élan kreativitas kita. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, diantaranya:

Menentukan Tujuan yang Jelas
Dalam memecahkan masalah, akan lebih simple jika kita memahami batasan-batasannya. Sehingga kita tidak berfikir terlalu luas. Kita bisa berfokus pada upaya problem solving jika tujuan yang akan kita capai elas. Tujuan itu akan memandu otak kita secara sadar maupun tak sadar dan mengarahkannya mencari jalan keluar atas permasalahan yang kita hadapi. Ide atau solusi akan datang seperti sebuah cahaya yang menerobos lubang eternit kecil dalam sebuah ruang yang gelap. “Eureka!” kata orang Yunani.

Menyelesaikan Pekerjaan Sampai Tuntas
Penyakit yang bisa menimbulkan kebuntuan ide adalah kebiasaan menunda-menunda pekerjaan. Atau melaksanakannya setengah-setengah. Terutama jika ada beberapa pekerjaan yang sedang kita laksanakan bersamaan. Tanpa prioritas yang tepat, ini semua akan menjadi beban yang menghalangi otak berpikir jernih sehingga kebingungan mana yang harus diselesaikan lebih dahulu. Semakin banyak pekerjaan yang bisa kita tuntaskan sesuai schedulle-nya, semakin ringan beban otak kita dan mood-pun akan lebih sering muncul.

Menciptakan Atmosfir Kreatif
Penting juga untuk menciptakan suasana kerja dan lingkungan yang kondusif agar mood bisa sering datang. Atmosfir kreatif itu akan membuat fisik dan psikis kita menjadi nyaman dan tidak tertekan. Ada yang mengatakan bahwa ruang kerja yang berantakan menandakan seseorang itu kreatif. Saya tidak akan menyalahkan penilaian tersebut, asalkan penghuni ruangan itu tidak mengalami kesulitan ketika mencari ballpoint atau halaman buku tertentu akibat banyaknya barang lain yang berserakan. Karena kebersihan dan kerapian tempat kerja, saya pikir akan berguna untuk merangsang otak kita untuk menata file informasi di dalamnya sehingga mudah diakses kapanpun kita butuhkan. Analoginya hampir sama dengan harddisk yang sering di-defrag dengan yang tidak.

Berfikir Berbeda
Berhubungan dengan ruangan yang bersih dan tertata, tidak ada salahnya juga pada suatu ketika sengaja dibikin berantakan jika telah mulai menimbulkan kebosanan. Ruangan tersebut bisa ditata ulang dengan cara yang berbeda, untuk menumbuhkan tunas mood yang baru. Manusia kreatif adalah makhluk yang dinamis, yang tidak begitu nyaman dengan rutinitas dan kebiasaan yang itu-itu saja. Sekali waktu, pergilah ke tempat yang belum pernah dikunjungi, saksikan film-film indie dari Afrika atau Italia (yang non Hollywood), sendirian di tengah lapangan sepak bola, berbicara dengan orang asing, mencoba tidur di kamar mandi, avonturir dari kota ke kota lain tanpa bekal, dan lain sebagainya. Agak aneh mungkin buat orang kebanyakan, tapi Itu akan menyegarkan otak kita dengan hal-hal baru, serta melatih kita untuk melihat sesuatu dengan perspektif yang berbeda. Saya pernah menonton film Jerry Maguire-nya Tom Cruise sekitar sepuluh kali. Ada banyak adegan, perkataan atau ekspresi wajah unik yang terlewatkan ketika saya baru menontonnya pertama kali. Saya bisa menemukan ‘keindahan’ itu setelah menontonnya berkali-kali. Dan memikirkannya dengan cara yang berbeda.

Berani Gagal
Tidak semua gagasan kreatif bisa diwujudkan dengan baik. Kegagalan adalah hal yang manusiawi dan dapat menjadi pelajaran terbaik. Dibutuhkan toleransi yang cukup atas kegagalan sehingga kita bisa mencapai kesuksesan di kesempatan berikutnya. Kegagalan tidak menjadi persoalan yang besar, selama kita telah melaksanakan yang terbaik semampu kita. Bill Gates (Chairman Microsoft Corp.) pernah mengatakan: When you’re failing, you’re forced to creative, to dig deep and think hard, night and day. Every company needs people who have been trough that, who have made mistakes and then made their mistakes asa great lesson to be better.

Gimana? Udah dapet ide baru lagi? Belum? Kalo begitu coba dibaca lagi dari awal.. He he he :)