Mybothsides

Wednesday, August 30, 2006

Aku Bahkan Sudah Mati Sejak Kemarin

Jika aku Ahmad Wahib atau Soe Hok Gie
Pastilah aku sudah mati sejak kemarin
Dan umurku tidak sampai tiga puluh satu

Jika aku dilahirkan di Irak atau Palestina
Pastilah aku sudah mati sejak kemarin
Dan belum tentu tertulis beritanya

Hidup yang kujalani sekarang
Hanyalah kelebihan atas hitungan sewa umur Tuhan
Yang sewaktu-waktu bakal ketahuan
Dan diminta-Nya kembali

Waktuku di dunia ini sudah tidak banyak lagi
Karena aku mestinya sudah mati sejak kemarin

Yang tersisa hanyalah sejumput kesempatan
Yang detik demi detiknya terlalu berharga untuk dilewatkan
Pilihanku hanya berbuat yang terbaik pada siapa saja
Memberikan manfaat semampuku pada alam semesta

Lalu menyongsong kematian sesungguhnya
Dengan wajah memerah yang dihiasi senyuman
Seperti anak muda yang hendak menyatakan cintanya
Tapi ketahuan duluan

Sunday, August 27, 2006

Agency Dangdut



Di kantor sedang gila dangdut. Setiap hari disetel lagu SMS. Lalu soundtrack Mendadak Dangdut alias Jablay. Suasana kerja makin meriah, sekaligus makin norak. Kita sedang menyiapkan atmosfer untuk menikmati hidup dalam ruang kebebasan yang terbatas. Mau tahu efek lagu dangdut dalam menghasilkan output kreatif yang outstanding? Kebetulan saat ini kita sedang mengejar beberapa calon klien besar, beberapa diantaranya dengan pitching.

Saya akan sharing beberapa hari ke depan. Akan menarik jika jadi satu artikel yang agak kompit dan full goyangan. Hari-hari ini saya sedang rush banget, termasuk tidak sempat menikmati libur Sabtu Minggu karena harus presentasi. Dunia ini memang kejam, terutama buat orang yang tidak bersedia berbuat kejam pada dirinya sendiri...

(Pict: www.sinemart.com)

Thursday, August 24, 2006

Di Ujung Hari

Benarkah di ujung setiap penderitaan selalu menunggu jalan terang? Ketika gelap menyempurnakan dirinya, harapanpun meredup. Tuhan nampaknya sedang cuti hari ini. Ketika banyak jalan menjadi buntu, satu-satunya yang tersisa hanya doa. Dan keikhlasan.

Serta satu langkah lagi ke depan...

Wednesday, August 23, 2006

Belajar HAKI Dari Edison



Hambatan yang paling sering dihadapi oleh desainer grafis atau biro iklan (terutama di Yogyakarta) adalah yang menyangkut HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) terhadap suatu image (ilustrasi, fotografi atau bahan desain lainnya) yang akan digunakan dalam suatu creative artwork. Dengan adanya keterbatasan budget akibat nilai jual jasa kreatif yang masih rendah, agak sulit jika seluruh proses kreatif yang memerlukan image yang baik (berkualitas tinggi) dan dengan prosedur yang benar (tidak ngambil punya pihak lain).

Apalagi masih buuuuuanyak (perhatikan tambahan sisipan ‘u’nya) klien yang maunya cuma membayar biaya produksi atas sebuah output kreatif, atau biaya placement doang. Realitanya, memang agak sulit buat biro iklan untuk men-charge biaya fotografi, ilustrasi, model atau bahkan – ironisnya - biaya desain sendiri. Sehingga sebagai jalan pintas, mereka menggunakan image bank yang meskipun sebagian bisa di-download free dari internet (makanya sering ada image sama yang digunakan oleh biro desain yang berbeda). Sebagian yang lain mesti diefek sedemikian rupa – karena tidak gratis – supaya terlihat beda dengan aslinya. Jelas ini sebuah tindakan yang kurang pantas, sebagai akibat kurangnya apresiasi klien dan desainer terhadap proses kreatif.

Tentu saja kita tidak bisa membiarkan situasi yang membelenggu kreativitas ini terus berlanjut. Perlu lebih sering diadakan penyadaran dan edukasi atas pentingnya penghargaan terhadap karya kreatif. Hal ini tidak saja ditujukan buat klien yang memang price minded, tapi lebih penting juga terhadap biro-biro desain yang sekedar order minded. Asal ada margin keuntungan dari setiap order, langsung saja dikerjakan tanpa mempertimbangkan kualitas output kreatif dan fungsi komunikasit persuasifnya terhadap target audience.

Idealnya, kita memperlakukan image bank hanya sebagai sumber inspirasi untuk visualisasi sebuah ide. Dari pijakan itu, kita wajib membuat bentuk visualisai, ikon atau ilustrasi yang berbeda. Jika kita sedang buntu banget, untuk menyegarkan otak, bolehlah kita lihat-lihat image bank (yang memang jenisnya beraneka macam itu) sehingga kita mendapatkan perspektif visual baru. Atau – seperti yang terjadi di biro iklan Jakarta – kita beli aja hak pemakaian image-nya jika memang budget untuk itu terpenuhi. Sehingga kita tidak terlibat dalam upaya pelanggaran HAKI orang lain.

Memandang lebih jauh ke depan, kita juga mulai perlu berfikir untuk melindungi karya kreatif kita dengan mendaftarkan hak ciptanya. Seperti juga yang pernah saya alami ketika mendaftarkan situs kantor saya:
www.petakumpet.com ternyata sudah ada yang mendaftarkan nama itu untuk sewa selama 10 tahun dan dalam kondisi underconstruction, sehingga situs yang kita pakai sekarang adalah: www.petakumpetworld.com. Agak kepanjangan sih menurut saya, tapi gimana lagi? Saat itu kita memang belum punya hak patennya.

Thomas Alva Edison yang lebih kita kenal dari mahakarya bolamnya, ternyata memiliki lebih dari 1000 paten untuk penemuan-penemuannya yang lain, yang ketika dikembangkan menjadi sebuah industri oleh General Electric (Edison sendiri salah satu founder-nya) akhirnya mendatangkan kekayaan yang tidak akan habis bahkan setelah Edison meninggal dunia.

Sekedar selingan: tahukah Anda siapakah yang memiliki paten untuk mesin ketik dengan kecepatan rendah untuk menghilangkan suara gaduh? Atau roda pengerek dengan gigi-gigi lengkung untuk meminimalkan gesekan? Agak aneh mendengar bahwa pemilik ide itu adalah Albert Einstein, si penemu teori relativitas (E=m.c2).

Tapi yang patut dicatat adalah kesadaran Edison dan Einstein untuk mendaftarkan penemuannya ke lembaga paten di awal tahun 1900-an. Apakah kini di tahun 2006 (seabad kemudian) kita telah memiliki kesadaran itu?

Kesadaran yang masih minim di kalangan insan kreatif di daerah mungkin sama minimnya dengan tingkat pengetahuan kita tentang HAKI dan segala manfaatnya. Ada baiknya proses kreatif penciptaan yang dilakukan denga susah payah itu mulai dipikirkan hak ciptanya, sehingga tidak dimanfaatkan sepihak oleh mereka yang tidak berhak.


Selamat berkarya dengan ide-ide yang lebih kreatif lagi dengan proses yang benar. Selanjutnya, biarkan HAKI melindungi karya tersebut untuk kepentingan Anda. Tidak saja untuk sekarang, tapi juga buat masa yang akan datang.

Sunday, August 20, 2006

Cool Costume



Jika benar kostum Spiderman 3 adalah hitam begini, pasti akan cool banget. Dari sekian jagoan komik yang diangkat jadi film, kostum Spiderman menurut saya paling berhasil. Perpaduan merah dan biru tuanya pas. Ornamen jaring-jaring yang menyelimuti tubuhnya pas. Kacamatanya keren. Apalagi jika hitam begini trus ketemu Venom. Wow!!!

Kostum Superman Return birunya terlalu muda, Daredevil nggak keren, apalagi Spawn: mending baca komiknya deh! At least, sampai hari ini saya masih penggemar berat komikus Todd Mc.Farlane. Meskipun kalah bagus, kostum Batman Begin mendingan, lebih baik ketimbang Batman sebelumnya.

Dunia kita yang sumpek ini, kadang-kadang memerlukan sosok superhero berkostum keren. Bukan hanya untuk menangkap penjahat, tapi juga untuk menyalurkan naluri kenak-kanakan kita. Dimana kita bisa berbuat dan bertingkah laku konyol, tapi orang lain tidak mentertawakan: namanya juga anak-anak.

Kita semua yang beranjak dewasa perlu kostum khusus agar aman jika suatu hari pengin jadi kanak-kanak kembali. Kostum itu namanya kedewasaan. Berfungsi untuk menumbuhkan kekuatan super: keberanian menjadi diri sendiri.

Titipan Pesan

Buat temen-temen yang pengen liat karya-karya Petakumpet yang dapet award di Pinasthika 2006, silakan maen aja ke blognya Dedi. Karyanya dipajang disitu.. Enjoy :)

Saturday, August 19, 2006

Iklan Petakumpet di Cakram



Beginilah penyikapan kami atas karya yang dihasilkan oleh tim kreatif kami dengan sepenuh hati. Meskipun kalah di Pinasthika, nampaknya artwork yang kalahpun sangat pantas dipasang sebagai iklan. Apapun yang dihasilkan dengan sepenuh hati, pantas dihargai. Kami mensyukuri kemenangan dengan penghormatan yang tulus kepada yang kalah. Kami percaya roda kehidupan terus berputar, kami tidak akan menyesal jika suatu saat berada di bawah. Asal kami telah mengupayakan yang terbaik. Sisanya biar Tuhan yang atur...

Tuesday, August 15, 2006

Interview yang Konyol

Berbicara di depan todongan mikrofon wartawan bukan hal baru buat saya, tapi saya masih juga sering ngawur karena menganggapnya sebagai ngobrol biasa sesama teman. Ngobrol dengan wartawan akan mengakibatkan exposure yang dikalikan tergantung medianya. Jika TV, maka akan ditonton oleh berapa juta orang dalam durasi berapa menit. Jika majalah atau surat kabar maka tergantung oplaagnya berapa ribu. Dan saya memang sering 'asal' jawab. Padahal jika wawancara itu bagus, maka hasilnya akan luar biasa. Tapi jika buruk, maka efek negatifnya juga berlipat ganda. Apalagi jika live alias gak bisa diedit.

Berikut contohnya beberapa wawancara yang saya lakukan setelah Petakumpet mendapatkan lagi gelar The Most Creative Agency pada Pinasthika Ad.Festival tahun ini:

Tanya: Apa persiapan khusus Petakumpet sehingga mampu mempertahankan prestasinya tahun lalu?

Jawab: Tidak ada persiapan khusus, kita menjalaninya setiap hari. Brainstorming, mencoret karya-karya yang buruk, mengejek mereka yang tidak kreatif, memilih karya terbaik tiap bulan itu merupakan kebiasaan. Ada Pinasthika atau tidak itu tetap kita lakukan. Hal-hal rutin yang biasa saja...

Tanya: Siapa kompetitor terberat di ajang ini?

Jawab: Mmmm... ada sih kompetitornya. Tapi yang terberat adalah prestasi kita di masa lalu. Kita harus segera melupakan hasil terbaik yang pernah kita dapatkan agar tertantang menghasilkan sesuatu yang lebih baik lagi..

Tanya: Bagaimana perasaan Anda setelah memenangkan gelar The Most Creative Agency di Pinasthika tahun ini?

Jawab: Gimana ya? Biasa-biasa saja.. Bukannya tidak bahagia, tentu bahagia. Tapi melakukan yang terbaik untuk memenangkan sebuah kompetisi bagi saya adalah nature, sesuatu yang alamiah. Bukan sesuatu yang luar biasa. Jika kita tidak berhasil memenangkan sebuah kompetisi, berarti ada yang salah.. Dan kami berusaha keras untuk sekecil mungkin melakukan kesalahan.

Tanya: Saya lihat Anda pake pin bertuliskan: gak bisa bikin iklan jelek. Anda adalah orang yang terlihat percaya diri, pendapat Anda?

Jawab: Mas, beberapa orang sering menuduh saya justru arogan, atau Anda juga ingin menyebut saya arogan tapi nggak enak aja kan? But it's fine. Pin ini juga cuma dikasih staf saya buat dipakai lucu-lucuan, kami bikin kurang lebih 50 pin dengan desain yang berbeda-beda, lucu-lucu semua dan Anda baru lihat satu yang saya pake. Tapi saya percaya, setiap kemenangan itu hanya sementara. Setiap saat akan selalu ada yang dengan senang hati merebutnya dari tangan Anda. Itu yang membuat saya harus memaksa diri saya dan tim saya untuk selalu melakukan yang terbaik. Karena jika tidak, maka orang lain yang akan melakukannya. Hari ini kami memenangkan sesuatu, tapi di hari lain kami harus kalah beberapa kali. Hidup ya begitu, kami menjalaninya dengan riang hati. Kami menikmatinya..

Tanya: Apa pengaruh kemenangan ini terhadap bisnis Anda?

Jawab: Saya percaya pengaruhnya akan positif, tapi bisnis ya bisnis.. Kemenangan ini tidak berarti apapun kalo kami tidak bisa mentransformasikan kemampuan kreatif kami ke business value. Ini justru tantangan terbesar yang ada di depan mata: kami juga ingin memenangkannya. Dan inilah justru yang paling penting untuk membuat sebuah institusi built to last. Saya tidak ingin Petakumpet menjadi kumpulan seniman kreatif, saya ingin Petakumpet menjadi The Most Admired Company in The World.

Tanya: Apa statement terakhir Anda untuk mengakhiri interview ini?

Jawab: Tidak ada. Saya harus kembali bekerja...

Notes:
Ini adalah contoh wawancara yang buruk, saya mengutipnya disini agar kita semua belajar untuk tidak melakukan hal-hal yang buruk. Untuk jadi cermin. Saran beberapa teman saya, lebih baik lagi jika jawabannya lebih santun dan membuat semua orang senang. Entahlah, setiap kata yang meloncat keluar dari mulut saya tiba-tiba saja keluar. Kadang-kadang emang gak pas. Tapi mungkin itu karena passion saya. Atau mungkin karena bodoh. Atau kombinasi keduanya. Susah memang menuju kesempurnaan...

Wednesday, August 9, 2006

Arief Award for Chelsea FC



Untuk musim kompetisi Premiership 2006/2007 ini, akhirnya saya pilih Chelsea FC sebagai tim dengan kostum home & away terbaik. Tentu saja versi saya. Bentuknya simple dan sangat berkarakter. Pas dengan selera saya. Saya tidak menyukai kostumnya Manchester United dengan logo AIG besar dalam kotak di bagian depan. Terlihat kaku. Vodafone - secara visual - menurut saya lebih pas dengan MU. Sedangkan Arsenal dengan Fly Emirates-nya juga terlihat ndak catchy, logo O2 di kostumnya yang merah marun kemarin nampak lebih gagah. Btw, kostum Arsenal musim lalu menurut saya kostum terbaik yang pernah dipake Arsenal.

Kostum terbaik kedua pantas diberikan pada Liverpool, perpaduan merah dan gold-nya pas. Ndak rame, juga sangat berkarakter. Sponsornya juga Adidas, salah satu brand favorit saya.

Kenapa Liverpool kalah dari Chelsea dalam hal kostum? Karena saya lebih menyukai warna biru.

Itu saja? Lha iya, ini kan penghargaan versi saya..

Alasan yang lebih logis dan argumentatif? Ndak ada, toh ini cuma kostum bal-balan..

(pict source: www.chelseafc.com)

Tuesday, August 8, 2006

Semalam Tanpa Iklan

Malam ini saya bener-bener ingin istirahat dari berbuat, berbicara dan berfikir tentang iklan. Stop! I'm done, finished! Melihat beberapa pekerjaan desain grafis dan iklan menumpuk yang menunggu di-approve, rasanya seperti - mengutip Soe Hok Gie - melihat tumpukan tai di meja.

Rasanya saya mau muntah. Setiap hari hampir 24 jam otak saya berputar-putar: iklan, iklan, iklan. Award, award, award. Billing, billing, billing. Brainstorm, brainstorm, brainstorm. Revisi, revisi, revisi. Berulang-ulang, rasanya saya jalan di tempat. Begitu lama saya terobsesi dengan semua ini: saya ingin berhenti sejenak. Menghentikan saklar otak saya biar agak dingin.

Saya mulai terkenang kebaikan hati nenek saya yang beberapa hari lalu meninggal karena kanker. Saya telah berziarah ke makamnya meskipun tak sempat menemaninya saat dikuburkan. Kubur yang sederhana dalam hamparan tanah yang penuh sesak dengan nisan di daerah Jakarta Pusat. Dengan angin kering yang berdesir dan daun-daun yang mulai berguguran dimakan usia. Saya merasa sangat berdosa karena belum bisa membalas kebaikannya yang tak terhingga. Malam ini saya hanya bisa mengirim doa...

Lalu saya baca tulisan tentang politik. Menikmati lagi Catatan Pinggir-nya Goenawan Mohamad. Dan mengagumi Daniel S. Lev, seorang Indonesianis yang baru saja 'pergi' berdekatan waktunya dengan guru politik yang lain: Riswandha Imawan. Sekedar cerita, saat reformasi 1998: saya sempat menulis beberapa artikel, semuanya tentang politik, gerakan mahasiswa dan kebangsaan. Juga beberapa puisi kritik sosial. Dan pamflet protes. Entah dimana catatannya saat ini.

Saya juga menyukai sastra: puisi, prosa bahkan novel. Ada dunia baru yang terbangun setiap kali di tangan saya tergenggam sebuah buku dan mata saya mulai membaca huruf demi hurufnya. Jangan tanyakan kenikmatannya, apalagi jika dilakukan di sore hari ditemani secangkir teh panas. Sinar yang menerobos daun memantulkan warna keemasan. Di mata saya, duniapun berkilauan.

Hmmm... saya merasa telah terlalu lama meninggalkan hidup saya yang utuh. Hidup saya yang tidak terkungkung dalam wilayah tertentu, terpenjara ruang dan waktu. Sayapun pamit sebentar dari tugas rutin untuk berkunjung ke dalam diri saya sendiri. Menutup semua pintu, mematikan ponsel, memutar instrumen yang tenang, menghirup harum kopi dan duduk terdiam. Tidak berfikir, tidak ngapa-ngapain. Hanya membiarkan seluruh indera saya untuk menikmatinya. Dan merenung...

Benarkah dunia ini yang saya inginkan untuk ditekuni dan menghasilkan pencapaian yang dahsyat? Cukup berartikah semua award kreatif yang selama ini menjadi obsesi saya? Cukup pentingkah periklanan hadir sebagai bagian industri? Dan apa yang telah saya lakukan dalam usia setua ini, apa yang saya capai? Lalu apa yang sebaiknya saya tuliskan di nisan saya kelak?

Saya malu.. Saya merasa belum berbuat apa-apa. Kenangan prestasi di dunia kreatif pada masa lalu itu telah saya buang semua ke selokan. Puluhan award itu kini berdebu, beberapa patah karena gempa. Bahkan saya tak bisa merawatnya dengan baik. Saya merasa kosong..

Saya ingin memulai hidup saya dari nol, dari bukan siapa-siapa.. Mungkin dengan itu saya akan menghemat banyak waktu saya dari melakukan hal-hal yang tidak perlu. Saya nikmati beberapa jam tanpa iklan di malam ini, sambil berdoa bahwa puluhan tahun ke depan hidup saya akan jauh lebih berarti...

Friday, August 4, 2006

Kenapa Tuhan Menciptakan Bangsa Israel?



Pertanyaan ini tiba-tiba mengganggu pikiran saya, ketika melihat foto SBY sedang salaman dengan Ahmadinejad Presiden Iran. Lha gimana tidak, Israel itu ibarat anak nakal yang saat sedang nakal-nakalnya dan harus dijewer biar sadar... eeee... malah dilindungi Bapaknya dengan membabi buta: right or wrong my son! Anaknya nakal dan bapaknya telah disetir dengan rasa sayang absolut yang membutakannya: jikapun harus melawan akal sehat seluruh dunia.

Kalo Amerika mau jujur melihat mukanya di cermin: maka tampaklah negeri super maju yang dalam pilihan tindakannya melindungi Israel, terpampang wajah yang setolol-tololnya. Sudah tahu salah, masih dibelain. Sudah tahu kejam sama rakyat sipil, masih dilindungin. Dan sudah tahu memperburuk citranya di mata dunia internasional, malah dibangga-banggakan.

Lalu kenapa Tuhan menciptakan bangsa tengil itu? Mungkin pertanyaan yang sama bisa juga diajukan: kenapa Tuhan menciptakan nyamuk? Lalat? Pisang goreng yang jatuh ke sungai? Kentut yang baunya memenuhi ruang kelas? Koruptor? Amrozi? Mercon bantingan? Kenapa? Kenapa Tuhan menciptakan bangsa yang kehadirannya senantiasa menimbulkan kerusakan?

Saya tidak pernah membenci bangsa Israel, saya benci tindakannya. Saya tidak anti Amerika, tapi saya muak melihat kebodohan logika dan kebutaan hatinya dalam melindungi Israel. Saya sampai curiga jangan-jangan semua yang kebiadaban yang terpampang di depan mata kita itu memang disengaja. Memang ada skenarionya.

Saya mencintai semua bangsa, dari presidennya sampe rakyatnya yang tidur di kolong jembatan. Saya mencintai orang-orang Israel yang masih bisa merasa ngeri melihat darah muncrat dan anak-anak tak berdosa yang tidak saja kehilangan kesempatan belajarnya tapi juga nyawanya yang masih hijau. Saya mencintai mereka yang berani mengungkapkan kebenaran meskipun dinginnya ujung senapan menyentuh keningnya yang gemetar.

Seperti sebuah kutipan yang saya ingat selalu,"Penyerangan militer dan peperangan adalah terorisme skala besar yang dibiayai dengan anggaran."

Mungkin itu salah satu alasan kenapa Tuhan menciptakan bangsa Israel. Untuk menguji rasa cinta kita pada kehidupan.

Tuesday, August 1, 2006

Karena Dilarang Merokok

Ini kisah nyata. Saya denger sendiri dari orangnya di angkringan deket kantor. Berikut ceritanya:

Dulu saya Islam. Tapi setiap ikut jumatan khotbahnya lama, bikin ngantuk. Lalu pindah agama, tapi di gereja banyak sekali nyanyiannya. Saya gak bisa nyanyi dan malah bingung. Lagipula, saya tidak bisa meninggalkan rokok. Saat ibadah di masjid maupun di gereja, saya tidak boleh merokok. Dan sekarang saya tidak punya agama. Saya merokok kapanpun saya mau. Rasanya kok lebih bebas.

Semua yang mendengar mencoba memberi nasehat, tapi selalu mentok: setahu saya memang mayoritas khotbah di masjid bikin ngantuk. Tapi terus terang saya tidak tahu apa yang terjadi di dalam gereja. Dan faktanya memang tokoh kita ini tidak bisa lepas dari rokok, sejak SD. Rumah ibadah memang tak pernah ramah pada perokok.

Saya tidak sedang membahas perbandingan agama. Juga tak punya maksud tertentu untuk menilai agama tertentu. Saya hanya melihatnya dari sudut pandang universal: ritual ibadah kita terasa kurang 'hidup'. Kurang punya 'ruh'. Kurang mampu membuat jamaahnya inspired. Dan para petinggi keagamaan selalu berdalih, ibadah ya dari dulu begitu. Jangan diubah-ubah, dosa besar. Kafir kamu nanti! Kalau ngantuk itu artinya kamu nggak punya niat. Bukan khotibnya yang salah, khotib ya begitu itu. Namanya juga khotib!

Tapi ketika ada hamba yang imannya terbang seperti itu, tidakkah kita semua - para pemeluk agama apapun - perlu bercermin? Tidakkah kita perlu memikirkan ulang kontekstualitas pesan kita kepada para jamaah sehingga meresap dalam ke dasar hati mereka?

Saya ingat satu khotbah Gus Mus di mesjid Rembang saat Jumatan beberapa tahun yang lalu. Di awal khotbah beliau berkata,"Saya tidak akan khotbah lama-lama. Hanya 10 menit. Tapi khotbah saya ini sangat penting buat diri saya dan Anda sekalian. Mohon didengarkan baik-baik karena tidak akan saya ulangi..."

Seluruh jamaah mengangkat kepalanya, memberikan perhatian yang penuh. Mereka pikir, toh cuma 10 menit. Dan khotbahnya bener-benar pada intinya, sangat menyentuh. Buktinya, udah lewat lebih dari 10 tahunan dan saya - salah satu jamaahnya - masih mengingatnya. Mungkin itu sebabnya Gus Mus jadi orang besar. Kyai, penyair, tokoh masyarakat, sekaligus orang biasa.

Mungkin tokoh di awal tadi perlu ketemu Gus Mus. Saya tahu mereka akan langsung akrab, karena keduanya perokok kelas berat...