Mybothsides

Sunday, July 30, 2006

Apa Adanya

Tidak mudah buat seseorang yang telah memiliki 'posisi tertentu' untuk tampil apa adanya, tanpa topeng. Seolah setelah masuk strata tertentu dalam lingkungan sosial kita, jabatan kita, prestasi kita, kekayaan kita: banyak hal yang kemarin bebas kita lakukan menjadi serba tidak pantas, tidak sopan, tidak boleh.

Secara sadar, kita menaruh belenggu emas dalam diri kita dan membawanya kemana-mana, meskipun terasa membebani tetap kita seret-seret terus karena hampir setiap orang melakukan hal yang sama: seolah memang seperti itulah adanya dari dulu.

Coba bayangkan: pantaskah seorang Menteri mengikuti lomba foto amatir tingkat kecamatan? Pantaskah seorang kyai ikut lomba balap karung? Pantaskah Nadine Candrawinata menimba di sumur? Pantaskah Juri Citrapariwara ikut lomba poster anti korupsi? Pantaskah seorang Raja mengepel lantai istananya sendiri?

Menurut saya: sangat pantas!

Hanya satu catatannya: selama ia jujur pada dirinya sendiri dan merasa nyaman melakukan itu semua. Kita ini membayar terlalu mahal untuk image/citra diri alias topeng, sambil melupakan perlunya membangun karakter dan kepribadian.

Jadi diri sendiri itu tidak mudah. Serius! Rasa malu, nggak nyaman, takut dikomentarin, takut dianggap gila, takut dikucilkan: semua itu resiko yang nyata. Tapi menjadi orang lain, selalu mencoba tampil sempurna, baik hati dan 'seolah' suci: resikonya lebih gawat lagi. Ongkosnya super mahal dan sangat merepotkan. Membuat batin tertekan, menjauhkan diri dari kebahagiaan.

Kita semua masih punya hak untuk merdeka dari segala belenggu itu, melepaskan segala topeng yang menipu di depan cermin. Hidup kita tidak akan hancur hanya karena orang tahu kentut kita bau, kalo tidur ngiler, tidak bisa buang air kalo nggak jongkok atau mencret ketika makan burger. Ketidaksempurnaan itu sangat manusiawi.

Nurani kita sudah lama kesepian: saatnya kembali jadi diri sendiri.

(thanx to Indra atas kedahsyatan editing fotonya di banner)

Saturday, July 29, 2006

OOT: Ijinkan Saya Jualan

Image Hosted by ImageShack.us

Seperti yang saya duga, posting ini akan menimbulkan perdebatan serius. Beberapa teman mencuci saya habis-habisan. Berikut kira-kira comment yang saya terima:

  • Ngapain dimuat disitu, cukup klien aja yang tahu kalo diskonnya cuma 2%. Ndak usah diumumkan terbuka.
  • Mas jangan jual murah donk! Itu namanya tidak menghargai kreativitas..
  • Masa' Petakumpet jualan obral begitu. Kasihan brand-nya Mas..

Saya jadi inget postingan Herman Saksono: ketika semua orang melihat apa yang kita lakukan, maka rasanya kita tak bebas lagi. Rasanya diawasi terus dan takut salah. Akibatnya takut ngapa-ngapain. Dan tidak berbuat apapun.

Tapi untungnya saya sudah selesai dengan semua itu. Sepanjang keyakinan saya mengatakan apa yang saya lakukan bener dan untuk tujuan yang bener, terjadilah apa yang harus terjadi.

Berikut tanggapan saya:

  • Mungkin teman saya merasa saya sedang menjemur celana dalam di depan rumah: tidak salah tapi kurang pantas. Jika fee agency yang kecil dianggap aib dan hanya pantas dimasukkan surat ke klien: anggapan itu mungkin benar. Tapi media specialist tidak memposisikan fee kecil sebagai celana dalam, fee kecil tersebut dijadikan faktor kali dan akhirnya menjadi pendapatan yang luar biasa besar dan membuat agency kebakaran jenggot. Saya berfikir dengan pola pola pikir yang sama: apa yang pantas masuk surat penawaran ke klien, pantas juga diiklankan. Yang penting buat saya, faktor kali. Toh saya hanya perlu 1 atau 2 orang traffic buat running dan semua placement bayar di depan.
  • Justru saya sangat menghargai kreativitas. Tanpa itu ngapain Petakumpet repot-repot jadi Agency of The Year? Dan karena saya menjunjung tinggi kreativitas, maka fee agency saya 0% kan. Klien wajib bayar biaya kreatifnya, biaya placement-nya free aja. Saya tidak ingin berkompetisi dengan media specialist di level ini. Ndak worth it.
  • Sebuah brand dibangun dengan kejujuran. Cita-cita saya adalah membangun industri berbasis kreatif, artinya nilai bisnis kreatifnya harus ada. Cash flow harus jalan, order harus masuk. Karyawan harus gajian. Seperti senior saya bilang: award gak bisa dimakan. Tapi saya tidak mempertentangkan bisnis dan award. Saya ingin dua-duanya sinergis: kreatifnya kuat, bisnisnya kuat. Bukan kreatifnya kuat, bisnisnya mediocre. Sampai saat inipun orang-orang masih bilang Petakumpet mahal. Paradigma ini yang harus saya ubah: sudut pandang klien yang mesti diedukasi. Jika sudut pandangnya bener, jasa Petakumpet itu sangat murah. Dan memberikan kemurahan pada klien, bukan dosa buat saya.

Meskipun tampilan iklannya cenderung hard sale: message saya sesungguhnya adalah agar industri periklanan mulai mengatur infrastrukturnya. Agency akan bersaing dengan agency. Media specialist-pun akan bersaing dengan sesamanya. Bukan seperti sekarang ketika agency harus bersaing dengan agency dan media specialist. Babak belurlah agency.

Notes:

Btw, ini pesan penting buat Anda semua yang punya 'kelainan' pemikiran seperti saya, juga buat Herman: jangan berhenti untuk menyuarakan keyakinan. Dulu bangsa ini pernah punya Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, Tan Malaka, Sutan Syahrir,Chairil Anwar dan masih banyak lagi yang baru dihargai ide-idenya setelah mereka tiada. Hidup mereka yang sementara terasa begitu berarti.

Saya tahu teman-teman memberikan kritik dan sarannya dengan maksud baik, saya tahu mereka juga sangat care. Dan saya sangat berterima kasih untuk tegur sapa itu.

That's make my life so wonderful :)

Thursday, July 27, 2006

Utopi



Apa yang terindah dari sebuah keindahan?
Keindahan itu sendiri.

Wednesday, July 26, 2006

Being Stupid is Not A Mistake

Rasanya seneng sekali jika kita menemukan ilmu baru. Bila kita menggoncangkan zona kenyamanan kita, memasuki wilayah pemahaman baru dan menyadari bahwa dalam hal tertentu kita merasa begitu bodoh. Sebenernya tanpa mengambil resikopun, segala sesuatunya mungkin akan tetap baik-baik saja.

Tapi jika kita ingin jadi lebih baik: mengambil resiko itu bukan pilihan, melainkan keniscayaan.

Gara-gara pengin tampil beda, blog ini kemarin sempat under construction karena kejahilan saya mengobrak-abrik script-nya. Teks dan pict-nya berantakan bahkan mau kepikiran buat di-restore karena begonya saya.

But Thanks God, akhirnya jalan keluar itu datang karena kengeyelan saya. Bukan dari kemampuan saya tentunya, tapi dari seorang teman yang merasa begitu prihatin melihat blog saya yang amburadul. Thanx to Mr. Eko atas kebaikannya memperbaiki script blog ini.

Dan buat temen-temen semua yang ingin belajar apapun: jangan kuatir terlihat bodoh. Selalu tersedia banyak Eko di sekitar Anda yang siap membantu. Syaratnya? Ngeyel dulu!

Sunday, July 23, 2006

A Tribute to Hardwork




After several bad times, it's nice to have the feeling as a winner again. These ads have won Gold and Silver awards as Metropolis Best Print Ad. Category in Jawa Pos Ad.Festival 2006. And what makes me proud is that I don't do these artworks. Our team did it very well, saving me from being worried. For these, I have to say more than thank you to Eko and all creative teams. Also to Apep as Marketing Head. And to Indra, Prian and Rony as models.

Now I have to walk to next step: celebrating it with all team, asking them to forget these awards and trying to get some more.

Saturday, July 22, 2006

Sekeping Kebanggaan

Tulisan singkat dari Prof. Yohanes Surya
Beberapa Kesan Dari Olimpiade Fisika Dunia Ke-37 di Singapore 2006

Waktu upacara pembagian medali, Duta besar kita duduk di samping para duta besar dari berbagai negara seperti filipina, thailand, dsb. Waktu honorable mention disebutkan, ternyata tidak ada siswa Indonesia. Dubes-dubes bertanya pada dubes kita (kalau diterjemahkan), "Kok nggak ada siswa Indonesia".

Dubes kita tersenyum saja. Kemudian setelah itu dipanggil satu persatu peraih medali perunggu. Ada yang maju dari filipina, thailand, kazakhtan dsb. Lagi-lagi dubes negara sahabat bertanya "kok nggak ada siswa Indonesia?" Kembali dubes kita tersenyum. Dubes kita menyalami dubes yang siswanya dapat medali perunggu.


Kemudian ketika medali perak disebut, muncul seorang anak kecil (masih SMP) dengan peci dengan mengibarkan bendera kecil, dan namanya diumumkan Muhammad Firmansyah Kasim...dari Indonesia...


Saat itu dubes negara sahabat kelihatan bingung, mungkin mereka berpikir "Nggak salah nih...". Ketika mereka sadar, mereka langsung mengucapkan selamat pada dubes kita.

Tidak lama kemudian dipanggil mereka yang dapat medali emas. Saat itu dubes negara sahabat kaget luar biasa, 4 anak Indonesia maju ke panggung berpeci hitam dengan jas hitam, gagah sekali. Satu persatu maju sambil mengibar-ngibarkan bendera merah putih. Mengesankan dan mengharukan. Semua dubes langsung mengucapkan selamat pada dubes kita sambil berkata bahwa Indonesia hebat.Tidak stop sampai disitu. ketika diumumkan "The champion of the International physics olympiade XXXVII is....... Jonathan Pradhana Mailoa".

Semua orang Indonesia bersorak. Bulu kuduk merinding.... Semua orang mulai berdiri, tepuk tangan menggema cukup lama... Standing Ovation....Hampir semua orang Indonesia yang hadir dalam upacara itu tidak kuasa menahan air mata turun. Air mata kebahagiaan, air mata keharuan. Air mata kebanggaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang besar. Segala rasa capai dan lelah langsung hilang seketika... Sangat mengharukan....


Selesai upacara, semua orang menyalami.
Orang Kazakhtan memeluk erat-erat sambil berkata,"Wonderful job."
Orang Malaysia menyalami berkata,"You did a great job..."
Orang Taiwan bilang,"Now it's your turn..."
Orang Filipina,"Amazing!"Orang Israel,"Excellent work..."
Orang Portugal,"Portugal is great in soccer but has to learn physics from Indonesia."
Orang Nigeria,"Could you come to Nigeria to train our students too?"
Orang Australia,"Great!!"
Orang Belanda,"You did it!!!"
Orang Rusia mengacungkan kedua jempolnya..
Orang Iran memeluk sambil berkata,"Great wonderful..."

86 negara mengucapkan selamat. Suasananya sangat mengharukan, saya tidak bisa menceritakan dengan kata-kata...

Gaung kemenangan Indonesia menggema cukup keras. Seorang Prof dari Belgia mengirim sms seperti berikut: Echo of Indonesian Victory has reached Europe! Congratulations to the champions and their coach for these amazing successes! The future looks bright.... Marc Deschamps.

Ya benar kata Prof. Deschamps, kita punya harapan....

Notes:

Sekeping kebanggaan adalah yang sekarang sangat kita perlukan untuk menjadi orang Indonesia yang sesungguhnya: punya mimpi besar dan mau bekerja keras untuk mewujudkannya. Terlalu lama dijajah membuat kita kehilangan kebanggaan diri, minder terus sama orang luar. Takut bermimpi karena yakin pasti gagal.

Terima kasih Prof. Yohanes Surya dan teman-teman Juara Dunia Fisika kita: untuk mengajarkan bahwa kita bisa berdiri tegak dalam kebanggaan bahkan menjadi yang terbaik dari semua bangsa. Saya percaya Tuhan telah menakdirkan kita menjadi bangsa yang unggul. Dan anak-anak muda kita telah menunjukkan sebagian takdir itu.

Terus terang saya capek Indonesia dianggap bangsa yang terbelakang. Dan jika kita sama-sama capek: let's do something. Dimulai dengan kesediaan untuk belajar dari prestasi anak-anak bangsa ini, karena sebagai orang dewasa kita telah gagal memanfaatkan masa muda kita.

Thursday, July 20, 2006

Rebranding Indonesia: 2006-2010



Seeing the future is never easy. Some predictions may happen, some maybe failed. But there is an easiest way to make a prediction comes true: by creating it. Than just predict it, we better work together to realize it. Part by part, piece by piece. And do it percistently, whatever it takes.

The government (trough minister of trade, industry and small medium enterprises) has a road map to build the creative economy in Indonesia: that's a good start. Now it backs to our creative people: are you ready to create a difference? It's the best chance to become 'Soe Hok Gie' of this destructive creative world.

Live can't wait. Future can't wait. If you can not take the responsibilities, someone else will. Are you ready?

Life's a Dream



What you gonna do with your Life?
When you gonna spend your time?
The way that you've always wanted
When you gonna make up your mind?

You won't get anywhere until
You know what it is you really want to do
And when you know where you're going to
There'll be no stopping you

If only you could remember your dream
You could be all the things you've always wanted to be

What's been stopping you all this time?
The worst thing that could happen ain't as bad
As you thought it would be

When you gonna go out and shine?
Cos sitting around just thinking about it
Ain't ever gonna do you any good

And when you know where you're going to
There'll be no stopping you

If only you could remember your dream
You could be all the things you've always wanted to be

+ From Lighthouse Family

Wednesday, July 19, 2006

Tujuh Jam di Denpasar

Sebenarnya ini pengalaman yang biasa-biasa aja. Tapi entah kenapa saya pengin tulis sekedar sebagai catatan perjalanan.

Hari Selasa saya harus ke Denpasar untuk kirim brosur Jiwasraya. Berangkat dari Jogja dalam kondisi setengah ngantuk jam 21.00 WIB (pesawat delay seharusnya 20.45). Sempat tertidur saat nungguin boarding, untung yang manggil kenceng sehingga bangun dan ikut terangkut.

Landing di Denpasar jam 23.00 WITA langsung naik taxi ke Hotel Ramada. Hampir tengah malam, jalanan sepiii banget. Pengiriman selesai hanya 1/4 jam udah plus ngobrol lalu jalan ke Kuta Legian: change status jadi petualang. Nyari warnet buat membunuh waktu karena flight balik ke Jogja jam 06.00 besok. Dan... tidak menemukan satupun yang buka 24 jam. Yang buanyak hampir tiap 10 meter justru minimarket macam Circle K (keluh!). Starbucks juga tutup. Hard Rock Cafe dan beberapa bar emang masih buka: tapi itu bukan dunia saya. Di Kuta aja saya udah jadi stranger, apalagi masuk ke sana: jadi alien dunk!

Lalu nemu McDonald 24 jam dan makan malam sampe jam 01.00 karena mesti molorin waktu sambil baca buku lama Jack Welch: Stright from The Gut. Trus jalan ke pantai Kuta yang berangin dan ombakpun lumayan keras (mungkin ketularan pantai Pangandaran). Mematung memandang ombak berkejaran dalam gelap. Ajaib, seekor kura-kura agak besar (diameter sekitar 75 cm) menepi. Mungkin sedang nyari tempat bertelur. Dalam hati berharap ini sinyal bagus: mungkin order besar mau datang. Mungkiiiinnn...

Jam 02.30 udah nggak tahan dinginnya dan mulai diserang kantuk, saya sempat bawa beberapa karang kecil buat kenang-kenangan. Lalu stop taxi dan balik ke bandara meninggalkan kura-kura yang masih merangkak. Mungkin kemarin ada barangnya yang ketinggalan di pantai, entahlah...

Sepanjang jalan melewati Legian, beberapa bar masih penuh orang, sebagian besar bule. Termasuk Paddy's Club yang telah kembali buka setelah tahun kemarin hancur terkena bom. Musik hingar bingar sayup-sayup terdengar mengisi jalanan yang nyaris kosong.


Nunggu di bandara kayak orang bego (ngantuk banget tapi tak ada tempat buat tidur). Sempat ditanyain petugas keamanan segala: mungkin disangka teroris (karena bawa tas hitam). Tapi setelah ngobrol bentar, ia tahu: memang yang ditemui ini cuma orang bego yang kurang tidur. Menurut saya teroris juga bego sih, tapi dia tidak peduli lalu pergi untuk mencari teroris yang asli.

Jam 04.30 udah bisa check in, cuci muka biar seger dan senyam senyum dengan sesama penumpang seolah tadi berangkatnya dari rumah (trik lama). Lalu minum kopi Bali dan sepotong donat. Sempat mau beli majalah Playboy terbaru tapi bandrolnya naik dari 40 ribu menjadi 70 ribu. Udah dosa, mahal lagi. Ndak jadi deh!

Pesawat take off jam 06.00 WITA, nyampe Jogja jam 06.00 WIB. Sarapan lalu mandi dan ngantor lagi jam 08.00.

Salah seorang staf datang dan menyapa dengan ramah,"Bapak kok masih disini, semalam gak jadi ke Bali?"


Tuesday, July 11, 2006

Sebelum Pulang Kantor

Sebelum Anda meninggalkan kantor seusai jam kerja yang melelahkan, mari sempatkan memeriksa hal-hal kecil berikut. Apakah air minum Anda masih tersisa? Bila ya, teguklah habis, atau Anda bisa menyiramkannya pada tanaman ruangan yang juga butuh kesegaran. Setiap tetes air tentulah berguna. Jadi jangan sia-siakan. Periksa pula, apakah lampu, pendingin ruangan dan komputer Anda masih menyala? Bila ya, segera matikan. Meski bukan Anda yang membayar tagihan listriknya, namun itu bukan alasan untuk boros.

Luangkan juga waktu untuk menengok, apakah masih ada rekan-rekan yang bekerja hingga larut? Bila ya, alangkah manisnya bila Anda sapa sejenak. Meski Anda tak membantu menyelesaikan pekerjaannya, namun kehangatan selalu meringankan beban dan mengobati kelelahan.

Di balik hal-hal kecil seringkali terselip butir-butir mutiara makna yang tak ternilai. Terlebih lagi, bila itu kita lakukan atas dasar kepedulian dan kehangatan pribadi. Berikan perhatian tulus dan penuh kasih pada apa-apa yang ada di sekitar kita.

Kerasnya persaingan usaha tak boleh mengikis kelembutan jiwa.


Notes:

Entah kenapa saya sedikit terharu setelah membaca tulisan di atas yang saya dapat dari milis. Ternyata banyak hal indah telah terlupakan di balik kesibukan saya yang menggunung. Kalau saja saya bisa menyiapkan diri untuk pulang dengan kedamaian hati. Tapi kantor ini dan segala tetek bengeknya telah menahan saya dalam penjaranya, secara fisik maupun psikis. Sampai hari ini saya belum punya kesempatan untuk membawa diri saya yang lelah untuk pulang...

Hampir setiap malam saya termangu dengan mata sayu di depan monitor, mendengarkan jam dinding berdetak dan kentongan tanda jam 12 malam. Selama saya percaya pada mimpi saya untuk membuat perusahaan kreatif terbaik di dunia, saya merasa nasib buruk ini masih akan berlanjut...

Tapi saya tidak menyesal, saya juga tidak akan berhenti bermimpi, saya hanya merasa sedikit terharu...

Saturday, July 8, 2006

Someday at 2010


www.esposto.com/IMG_0021.jpg

God, please listen to me. I will be here to make a history...

Tuhan Menganggur

Yang biasanya membuat hidup ini menjadi lebih sulit dijalani, seringkali karena kita terlalu serius memikirkannya. Bukannya berpikir serius itu salah, tapi terlalu-nya itu lho. Misalnya tentang Piala Dunia, setelah tim yang dijagokan keok: maka seolah Piala Dunia dengan segala gegap gempitanya tidak menarik lagi. Atau Ujian Nasional: setelah tidak lulus maka seolah belajar tidak perlu lagi. Atau tentang bantuan korban bencana alam: kalo gak nerima bantuan seolah hidup sudah berakhir.

Tapi meskipun kita mati besok pagi, berani taruhan dunia ini akan jalan terus. Meskipun Jogja diguncang gempa dahsyat sekali lagi, pasti masih ada yang akan membersihkan puingnya untuk lalu bangkit kembali. Meskipun ujian nasional diulang lagi, kalo emang kemampuannya mepet ya tetep harus mengulang.

Bukannya kejam, tapi dunia ini memang tidak pernah memberi tempat yang nyaman buat mereka yang manja. Jangan terbiasa mengasihani diri sendiri. Jangan juga memikirkan apapun terlalu serius sampai tidak bisa berbuat apa-apa. Berani hidup artinya berani ambil resiko. Orang meninggal aja masih ada resiko bisa dikuburkan dengan layak atau tidak, apalagi yang hidup. Kesalahan atau kegagalan itu biasa, namanya juga hidup.

Jalani aja semua ini dengan penuh cinta dan terima kasih. Kita punya pilihan untuk mengubah sebagian takdir kita agar jadi lebih baik. Sebagiannya yang lain yang tak bisa kita ubah diikhlasin aja: biar diurusin ama Tuhan.

Jangan dipikirin semua nanti tambah stres, juga kurang ajar. Masa' kerjaan Tuhan kita rebut juga. Nggak keren ah kalo Tuhan jadi pengangguran...

Notes: Tapi ngomomg-ngomong: kenapa saya jadi sewot begini?

Friday, July 7, 2006

Hello World (Again)



When morning comes, there always be a hope...

Thursday, July 6, 2006

Catatan Dari IYDEY 2006



Sepuluh finalis dari empat sektor desain telah terpilih dalam kompetisi International Young Design Entrepreneur of the Year 2006 (IYDEY). Dari sembilan finalis yang akhirnya hadir dalam penjurian final ini, telah terpilih seorang pemenang yang akan mewakili Indonesia dalam pameran “100% Design Show” di London, Inggris.

Berikut ini daftar nama finalis IYDEY yang hadir pada penjurian babak final berdasarkan abjad:
1. Andi S. Boediman, Admire & Digital Studio
2. Denny Willy, Product Design
3. Djoko Hartanto, Kineto & Majalah Concept
4. Oky Kusprianto, Architect/Interior
5. Leonard Theosabrata, Product Design
6. M. Arief Budiman, Petakumpet
7. M. Ridwan Kamil, Architect, Urban Design

8. Wahyu Adhitya, Hello;Motion
9. Wisman Tjiardy, Netpolitan


Juri di babak final ini adalah: Hermawan Tanzil (Leboye), Irwan Kamdani (PT Datascript), Isandra Madin (Andra Matin Architect), Kafi Kurnia (Marketing Consultant), Yudhi Soerjoatmodjo (British Council)

Pengumuman pemenang IYDEY 2006 dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 5 Juli 2006 sore di JK7 Club, Hotel Grand Flora Kemang, Jakarta Selatan. Setelah melalui sesi penjurian selama dua hari, juri menentukan pemenang IYDEY 2006 adalah M. Ridwan Kamil. Beberapa hasil karyanya yang dinilai memberikan sumbangan yang besar untuk masyarakat dan industri desain menjadi salah satu alasan kuat M. Ridwan Kamil terpilih sebagai pemenang. Ia akan mewakili Indonesia untuk berkompetisi di Inggris dengan para pemenang IYDEY 2006 dari sembilan Negara peserta lainnya bulan September 2006 mendatang.


Behind The Secene

Mengetahui bahwa yang terbaik dari kita semua akhirnya menang adalah sebuah keindahan yang tak terbayangkan. Dan sportivitas mengajarkan itu dari setiap pertandingan: yang menang dan yang kalah akan saling menghormati dengan tulus.

More than everything, adalah sebuah kebahagiaan bisa bertemu, mengenal dan memahami tujuan-tujuan unik (seringnya malah aneh) dari anak-anak muda yang terbaik di bidangnya. Siapa yang tak kenal Andi S. Boediman sang Master Photoshop? Lalu Djoko Hartanto dengan Concept-nya? Ridwan Kamil dengan Rasuna Epicentrumnya? Lalu Adit dengan video klip animasinya untuk Padi (Bayangkanlah)? Tapi siapa ya yang kenal M. Arief Budiman, yang setiap kali posting terus berusaha memperkenalkan dirinya dengan cara yang norak begini?

(Anda masih membaca postingan ini? He he he.. Syukurlah)

Apakah Anda tahu apa visi mereka bagi industri kreatif Indonesia atau bahkan bagi dunia? Saya beruntung mengetahuinya lebih dulu. Tapi dari pembicaraan dengan teman-teman saya yang jenius tadi, mungkin dalam waktu dekat Indonesia akan mengetahuinya karena kita ingin ada sebuah gerakan riil untuk mulai membangun creative industry yang selain karena kehebatan kreativitasnya juga makin dilirik investor karena peluang bisnisnya yang sangat menguntungkan.

Masa depan dunia kreatif Indonesia akan banyak ditentukan apa yang dilakukan anak-anak muda kita, dari belahan Indonesia manapun atau bahkan yang sekarang masih di luar negeri. Misalnya sang juara IYDEY, Mas Ridwan Kamil itu udah 8 tahun di Amerika, pulang ke Bandung dengan konsep arsitek yang bikin merinding karena kedahsyatan desainnya serta kepeduliannya yang luar biasa terhadap lingkungan dan penghuninya. Kliennya hampir dari seluruh dunia semuanya dikerjakan via internet. Saat dia menunjukkan peta dunia, ada puluhan titik merah menyebar dari Dubai sampai Shanghai: kliennya semua. Dahsyat, man!

Welcome to the new world, young people.

Saya berangkat mengikuti final IYDEY dengan harapan bisa mengejutkan juri dan beberapa finalis: dan memang itu terjadi. Tapi saya ternyata malah terkejut-kejut ketika tahu bahwa ide saya hanyalah mercon kecil diantara ledakan para ahli bom kreativitas!

Sayapun pulang ke Jogja dengan satu misi besar yang memenuhi otak saya: saya tidak ingin dipermalukan seperti ini oleh diri saya lagi karena terlambat mengejar kereta ke masa depan. Dan sekarang - orang-orang hebat ini - telah berkumpul di satu forum. Kami membentuk semacam master mind untuk saling belajar, mendiskusikan ide-ide baru dan aplikasinya.

Dan Anda semua juga jangan hanya menunggu. Kerjakan apa yang terbaik di bidang Anda sekarang. Kita akan berkolaborasi dan bekerja bersama-sama. Indonesia itu gudangnya orang kreatif lho. Dalam sepuluh tahun ke depan, kita bisa sangat sangat kaya melalui industri kreatif ini.

Bukan dengan korupsi. Itu kuno, ndhesit! Masuk neraka lagi!

Saturday, July 1, 2006

The Last Day: Face The Destiny

Tanggal 1 Juli jatuh pada hari Sabtu, saat kantor libur. Masih capek karena barusan datang dari Jakarta tadi pagi. Saya tahu dan gemetar bahwa hari ini saya harus menghadapi takdir yang saya rencanakan sendiri. Masih ada harapan karena hari itu saya bersama Presdir merencanakan ketemu dengan seseorang yang punya link cukup kuat dengan beberapa Big Boss, jam 21.00.

Para pembaca yang saya cintai: Saya GAGAL. Sampai jam 24.00 malam ini setelah pertemuan selesai. Bapak itu tertarik tapi saya tidak bisa pressure untuk tanda tangan malam itu: nanti saya bisa dituduh memeras. Dan jumlah yang berhasil saya kumpulkan tidak mencapai 600 juta. Bill Gates, Steve Jobs, Jose Mourinho belum memberikan respon. Pak Tung belum membalas email saya. Rencana saya deal dengan calon investor yang lain pada tanggal 1 Juli, diundur tanggal 7 Juli. Thank God!

Tapi ada beberapa catatan saya, diantaranya:

  • Terciptanya Principal deal untuk ratusan juta rupiah (saya tidak boleh menyebut angka dulu) dari calon investor meskipun tidak sampai 600 juta dan Insya Allah akan turun di minggu ketiga Juli.
  • Lebih dari dua puluh orang yang mengatakan menyukai t-shirt saya dan menganjurkan untuk membagikannya. Sedihnya, saya udah kirim ke beberapa orang dan nggak sedia stocknya..
  • Mengalirnya banyak bantuan untuk membuka ruang kerjasama investatif. Sampai saat ini terjadi pembicaraan serius dengan 4 orang berpengaruh (sekali lagi maaf belum bisa sebut nama) dengan nilai kerjasama ratusan juta rupiah.
  • Masuk finalis IYDEY dan berpeluang memenangkan 69 juta jika menang di London. Tapi di Indonesia aja hampir impossible.
  • Belum ada yang secara terbuka menganggap saya gila, meskipun gak tahu kalo diam-diam di belakang. Jadi buat apa mengkhawatirkan pandangan orang atas apa yang kita kerjakan meskipun itu aneh? saya buktinya, he he he…

So, apakah saya kapok? Mmmm.. kalo maluuuuu ya jelas. Udah ngomong besar tapi tak berhasil. Kan mending diam-diam aja kerjanya jadi kalo gagal gak malu! Mungkin bener juga, tapi saya belajar satu hal: selama hari-hari mewujudkan mimpi itu, saya bersemangat sekali. Sepertinya ada pinjaman tenaga dari masa depan yang membuat saya bertambah enerjik. berfikir dan bekerja jauh lebih efisien, lebih cepat.

Tapi GAGAL ya GAGAL. Saya nggak akan excuse. Tapi saya belum kapok, kapan-kapan saya akan coba lagi. Dan Anda semua yang sering mampir kesini: semoga cukup kecewa dengan hasilnya, tapi masih bersedia mampir karena saya selalu ingin berbagi.

Kita semua perlu belajar dari kesuksesan, juga kegagalan. Dan hidup telah memberikan pelajaran sangat besar pada saya dengan usaha ini. Terima kasih untuk seluruh doa, dukungan dan bantuannya. That means a lot to me, really.

Tapi karena saya keras kepala, saya tidak akan kapok.