Mybothsides

Wednesday, May 31, 2006

Pamflet Untuk Bercermin







Nggak tau kenapa saya kepikiran bikin pamflet begini. Sepertinya situasi chaotik dalam hal pemberian bantuan korban gempa harus segera diatasi. Setahu saya, dengan berfikir jernih dan kembali ke akar permasalahannya. In the end, kembali ke logika dan nuraninya masing-masing. Tuhan memang mengambil sebagian harta kita, sanak saudara, anak, istri atau orang tua kita. Tapi Tuhan belum mengambil akal sehat dan nurani kita.

Mari berbuat sesuatu, semampu kita. Jika pamflet ini ada manfaatnya silakan digunakan. Tidak perlu ijin, tidak perlu royalty. Asal untuk kepentingan kemanusiaan, pake aja. Saya masih berfikir untuk mencari cara lain agar kita semua tidak kehilangan akal sehat menghadapi bencana ini. Agar kita tidak anarkhis di tengah penderitaan yang akan panjang waktunya.

Agar kita jadi manusia kembali, seperti apapun luluh lantaknya kehidupan ini.

Tribute to Jogja

Tip Keselamatan dalam Gempa Bumi

Saya Doug Copp, Kepala Penyelamat dan Manajer Bencana dari American Rescue Team International (ARTI), tim penyelamat paling berpengalaman di dunia. Informasi dalam artikel ini dapat menyelamatkan nyawa anda dari gempa bumi. Saya telah merangkak di bawah 875 reruntuhan bangunan, bekerja sama dengan tim penyelamat dari 60 negara, dan mendirikan tim penyelamat di beberapa negara serta salah satu dari ahli PBB untuk Mitigasi Bencana selama 2 tahun. Saya telah bekerja di seluruh bencana besar di dunia sejak tahun 1985.

Pada tahun 1996 kami membuat film yang membuktikan keakuratan metode bertahan hidup yang saya buat. Kami meruntuhkan sebuah sekolah dan rumah dengan 20 boneka di dalamnya. 10 boneka "menunduk dan berlindung" dan 10 lainnya menggunakan metode bertahan hidup "segitiga kehidupan". Setelah simulasi gempa, kami merangkak ke dalam puing-puing dan masuk ke dalam bangunan untuk membuat dokumentasi film mengenai hasilnya. Film itu menunjukkan bahwa mereka yang menunduk dan berlindung tidak dapat bertahan hidup dan mereka yang menggunakan metode saya "segitiga kehidupan" bertahan hidup 100%.

Bangunan pertama yang saya masuki adalah sebuah sekolah di Mexico City pada gempa bumi tahun 1985. Semua anak berlindung di bawah meja masing-masing. Semua anak remuk sampai ke tulang mereka. Mereka mungkin dapat selamat jika berbaring di samping meja masing-masing di lorong. Pada saat itu, murid-murid diajarkan untuk berlindung di bawah sesuatu. Secara sederhana, saat bangunan runtuh, langit-langit akan runtuh menimpa benda atau furniture sehingga menghancurkan benda-benda ini, menyisakan ruangan kosong di sebelahnya. Ruangan kosong ini lah yang saya sebut "segitiga kehidupan". Semakin besar bendanya, maka semakin kuat benda tersebut dan semakin kecil kemungkinannya untuk remuk. Semakin sedikit remuk, semakin besar ruang kosongnya, semakin besar kemungkinan untuk orang yang menggunakannya untuk selamat dari luka-luka.

Suatu saat anda melihat bangunan runtuh di televisi, hitunglah "segitiga kehidupan" yang anda temui. Berikut Sepuluh Tip Keselamatan dalam Gempa Bumi:
  1. Hampir semua orang yang hanya "menunduk dan berlindung" pada saat bangunan runtuh meninggal karena tertimpa runtuhan. Orang-orang yang berlindung di bawah suatu benda akan remuk badannya.
  2. Kucing, anjing dan bayi biasanya mengambil posisi meringkuk secara alami. Itu juga yang harus anda lakukan pada saat gempa. Ini adalah insting alami untuk menyelamatkan diri. Anda dapat bertahan hidup dalam ruangan yang sempit. Ambil posisi di samping suatu benda, di samping sofa, di samping benda besar yang akan remuk sedikit tapi menyisakan ruangan kosong di sebelahnya.
  3. Bangunan dari kayu adalah tipe konstruksi yang paling aman selama gempa bumi. Kayu bersifat lentur dan bergerak seiring ayunan gempa. Jika bangunan kayu ternyata tetap runtuh, banyak ruangan kosong yang aman akan terbentuk. Disamping itu, bangunan kayu memiliki sedikit konsentrasi dari bagian yang berat. Bangunan dari batu bata akan hancur berkeping-keping. Kepingan batu bata akan mengakibatkan luka badan tapi hanya sedikit yang meremukkan badan dibandingkan beton bertulang.
  4. Jika anda berada di tempat tidur pada saat gempa terjadi, bergulinglah ke samping tempat tidur. Ruangan kosong yang aman akan berada di samping tempat tidur. Hotel akan memiliki tingkat keselamatan yang tinggi dengan hanya menempelkan peringatan di belakang pintu agar tamu-tamu berbaring di lantai di sebelah tempat tidur jika terjadi gempa.
  5. Jika terjadi gempa dan anda tidak dapat keluar melalui jendela atau pintu, maka berbaring lah meringkuk di sebelah sofa atau kursi besar.
  6. Hampir semua orang yang berada di belakang pintu pada saat bangunan runtuh akan meninggal. Mengapa? Jika anda berdiri di belakang pintu dan pintu tersebut rubuh ke depan atau ke belakang anda akan tertimpa langit-langit di atasnya. Jika pintu tersebut rubuh ke samping, anda akan tertimpa dan terbelah dua olehnya. Dalam kedua kasus tersebut, anda tidak akan selamat!
  7. Jangan pernah lari melalui tangga. Tangga memiliki "momen frekuensi" yang berbeda (tangga akan berayun terpisah dari bangunan utama). Tangga dan bagian lain dari bangunan akan terus-menerus berbenturan satu sama lain sampai terjadi kerusakan struktur dari tangga tersebut. Orang-orang yang lari ke tangga sebelum tangga itu rubuh akan terpotong-potong olehnya. Bahkan jika bangunan tidak runtuh, jauhilah tangga. Tangga akan menjadi bagian bangunan yang paling mungkin untuk rusak. Bahkan jika gempa tidak meruntuhkan tangga, tangga tersebut akan runtuh juga pada saat orang-orang berlarian menyelamatkan diri.
  8. Berdirilah di dekat dinding paling luar dari bangunan atau di sebelah luarnya jika memungkinkan. Akan lebih aman untuk berada di sebelah luar bangunan daripada di dalamnya. Semakin anda berada dalam bangunan akan semakin kecil kemungkinan jalur menyelamatkan diri.
  9. Orang-orang yang berada di dalam kendaraan akan tertimpa jika jalanan di atasnya runtuh dan meremukkan kendaraan. Korban dari gempa bumi San Fransisco semuanya bertahan di dalam kendaraan mereka dan meninggal. Mereka mungkin dapat selamat dengan keluar dari kendaraan dan berbaring di sebelah kendaraan mereka. Semua kendaraan yang hancur memiliki ruangan kosong yang aman setinggi 1 meter di sampingnya, kecuali kendaraan yang tertimpa langsung oleh kolom jalan tol.
  10. Pada saat saya merangkak di bawah kantor perusahaan koran dan kantor lain yang menyimpan banyak kertas bahwa kertas tidak memadat. Ruangan kosong yang besar ditemukan di sekitar tumpukan kertas-kertas.

Notes: Saya kutip artikel ini semoga ada gunanya, meskipun mungkin agak terlambat.

Tuesday, May 30, 2006

Penjahat Dalam Kesusahan

Siapa yang menyangka bahwa penderitaan akan membuat karakter seseorang berubah? Anda yang ingin pergi ke daerah bencana kini sebaiknya lebih waspada. Di jalan-jalan daerah pengungsian banyak orang yang mengaku korban gempa (sebagiannya mungkin korban beneran), membawa berbagai macam peralatan - dari kayu sampai pedang - untuk meminta sumbangan atau menjarah mobil pengangkut makanan dan obat-obatan. Dengan cara pemaksaan.

Kenapa? Itu pertanyaan saya. Kenapa penderitaan menjadi sebab dihalalkannya kejahatan pada orang lain. Menjarah bantuan untuk kepentingan sendiri atau sekelompok orang dengan mengorbankan orang lain, jelas bukan sesuatu yang menimbulkan simpati. Malah akan timbul kejengkelan: ini dibantu kok malah menjarah!

Saya sendiri hidup di Jogja sudah 13 tahun, merasa bahwa Jogja adalah kampung halaman kedua saya: saya malu dan jengkel premanisme seperti itu terjadi di kota yang saya cintai ini. Dalam situasi serba susah seperti ini lagi! Setahu saya, orang Jogja tidak begitu. Keramahtamahannya nomer satu!

Jika para dermawan itu telah antipati, maka tunggulah saatnya kita semua akan ditinggalkan kedinginan dan dibenci saudara-saudara kita yang mula-mula merasa kasihan.

Mengapa kita tidak justru bersyukur masih diberi kesempatan hidup sementara lebih dari lima ribu yang lain tewas tertimbun runtuhan? Mengapa sisa umur kita tidak digunakan untuk berbuat kebaikan, malah menebar teror pada para penolong di jalanan? Mengapa kita jadi egois dengan mengorbankan saudara-saudara kita sendiri? Jikapun banyak hasil jarahan yang didapat, ketika tidak sengaja sebuah balok kayu menimpa kepala: toh mati juga dan nggak bawa apa-apa.

Penderitaan, kesusahan, nasib buruk bukanlah alasan untuk menyalahkan orang lain, merugikan, merampas. Ujian Tuhan itu adalah kesempatan untuk melatih kesabaran, berkorban buat orang lain dan menjadi manusia yang lebih utuh. Yang rahmatan lil 'alamin, yang hidup dan matinya berguna bagi semesta.

Tidak justru malah jadi parasit, kucing garong atau serigala.

Cerita Sebuah Kasur



Menjelang pagi itu, saya tidur di kantor. Tepatnya pukul 03.30 setelah semalaman lembur bikin presentasi untuk Seminar Integrated Marketing Communication di UPN Yogyakarta. Nguantuk banget dan alarm Hp saya nyalakan jam 05.00 biar gak buru-buru karena mesti ready jam 07.00 (acara dimulai jam 08.00). Just info, gara-gara gempa seminar itu akhirnya diundur gak tahu kapan diadakan lagi.

Dan jam 05.55, gempa 5,9 skalar richter terjadi ketika saya masih ngiler di dalam sleeping bag yang saya gelar di lantai kantor. Alarm bunyi, reflek tangan bergerak mematikan. Tidur lagi. Sempat terbangun, karena merasa ada goncangan tetep tidur lagi. Baru setelah goncangnya keterlaluan, saya terbangun dan keluar dari sleeping bag dengan sedikit jengkel karena ada yang bikin kegaduhan pagi-pagi begini. Tembok dan pintu bergoyang saat saya jalan keluar, mengira itu efek ngantuk.

Saat kaki menginjak pintu keluar, gempa berhenti. Guess what: 50 detik gempa terjadi, saya masih nyenyak di dalam kantor. Thank God! Nothing happen, i’m still alive!

Saya bergegas naik motor pulang ke rumah dan mendapati kasur kesayangan (karena ‘dibeliin’ pacar saya) telah terkubur runtuhan batu bata. Terkubur sempurna.

Seandainya saja pagi itu saya tidur di rumah, bukan di kantor. Seandainya saja...

Monday, May 29, 2006

Wake Up Jogja






Maaf belum sempat posting banyak cerita dari Jogja setelah gempa. Internet masih harus ke warnet dan banyak hal mesti diberesin agar hidup terus berjalan, meskipun diselimuti kabut kekhawatiran. Di rumah saya, batu bata berhamburan memenuhi ruangan. Jadi kalo ada pepatah lebih baik hujan batu di negeri sendiri: tolong pikirkan lagi. Kecuali jika sudah pernah mengalami dan punya ilmu kebal.

Hanya satu catatan saya: jangan terlalu cepat menyerah. Cobaan, derita, bencana itu adalah pelajaran yang dihadirkan buat kita, baik yang mengalami maupun yang melihat dari jauh. Setiap kesusahan dan kesulitan hidup adalah ladang amal untuk ditanami kebajikan. Jogja tidak akan hancur karena gempa seperti ini, karena letusan merapi, atau bencana yang lain. Jogja akan tetap tersenyum meskipun luluh lantak.

Jogja adalah spirit, adalah harapan di tengah kehancuran hidup. Setelah bencana meruntuhkan semuanya, akan tumbuh tunas baru. Kehidupan baru akan bersemi, dimulai dari hati yang tegar dan tidak mudah menyerah.

Thursday, May 25, 2006

Shit, He Did It Again!

Pilih Angkringan Ketimbang Hotel



Ini ada usulan buat hotel, yang masih bintang tiga atau malah yang lima sekalian. Hampir di setiap hotel yang saya pernah nginep dan makan di situ (yang bayar sendiri maupun dibayarin) saya selalu ketemu hal yang sama: rasa teh dan kopinya tidak pernah pas di lidah. Takarannya encer dan nggak mantap. Kalo kopi ya kopi instant, kalo teh ya teh celup. Seperti air putih dicampuri aroma kopi atau teh. Hampir di semua hotel begitu: sebutkan saja. All the same: bad taste.

Gak ada yang bisa ngalahin nasgithel-nya teh panas made in angkringan. Atau kopi hitam yang mantap dan bisa menumbuhkan ide-ide segar dari kopi alam biasa. Strong taste, bikin mata melek dan tubuh hangat. Meskipun tentu ada ampasnya: tapi sangat worth it. Gpp mulut kotor dikit asal bikin hidup lebih hidup.

So, coba deh manajer dapur hotel-hotel itu bikin research serius di warung koboy atau angkringan itu. Rasakan nikmatnya teh panas dan gorengan yang kemepul, perhatikan bener-bener takarannya dan serap suasana khidmatnya. Transformasikan ke restoran hotel dengan penyajian yang lebih hiegenis. Maka breakfast pagi hari akan jadi saat yang paling dinantikan. Paling tidak saya tidak perlu merasa kehilangan sesuatu di tengah menu buffet yang pilihannya buanyak banget itu.


(Foto angkringan minjem Dendy Julius, 2005)

Don't Ask Me Why

Monday, May 22, 2006

The Power of Local Ideas



Disampaikan Dalam Forum FDGI & Friend #9
QB Bookstore Kemang, JakartaSabtu, 20 Mei 2006

Saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah ide sederhana: bagaimana mengubah pola hidup sehari-hari yang terlanjur dianggap biasa dan wajar. Memberikan muatan dan nilai-nilai baru, melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Atau mengeluarkan pikiran kita dari kebiasaan lama menuju ke sebuah atmosfer yang bener-bener fresh. Yang bisa membuka katup-katup ide, menciptakan hal-hal baru yang menarik, yang berbeda.

Karena di situlah sebenarnya ruang-ruang kreativitas baru bisa dibangun. Di situlah ide-ide besar yang bisa mempengaruhi ratusan juta orang di seluruh dunia punya kemungkinan terbesar untuk diciptakan.

Mengambil Jarak

Mari melihat hidup kita, pekerjaan kita, teman-teman kita, lingkungan dan budaya kita: dengan memakai sudut pandang lain, bahkan yang belum pernah kita perkirakan sebelumnya. Coba bayangkan melihat rumah kita dari sudut pandang seekor burung elang (bird’s view), sudut pandang katak (frog’s view) atau bahkan melihatnya dari permukaan bulan. Di mana rumah kita tertutup atmosfer setebal ratusan kilometer dan menghilang di balik milyaran titik di muka bumi. Menjadi setitik debu di hamparan padang pasir.

Archimedes menemukan hukum tentang massa jenis di sebuah bak mandi, bukan di ruang kuliah atau laboratorium. Ia lari telanjang sambil berteriak,”Eureka!” Orang-orang yang melihatnya menganggap dia gila, tapi saat ini sekolah-sekolah ‘untuk orang waras’ di seluruh dunia dengan sadar menggunakan rumus penemuannya. Van Gogh potong kuping, setelah dia meninggal karyanya malah jadi masterpiece dan dibeli orang dengan harga paling mahal. Isaac Newton mendapatkan teori gravitasinya ‘hanya’ dengan mengamati jatuhnya buah apel. IDEO, sebuah perusahaan desain paling inovatif di Amerika mendapatkan ide-ide besarnya bukan dari lapangan bermainnya sendiri melainkan dari tempat pembuangan sampah, toko mainan, supermarket dan taman kanak-kanak.

Ide bisa berasal dari mana saja. Asal kita jeli mengamatinya, dan tidak sekedar mengambil ide itu mentah belaka. Mengutip Steve Jobs, kita harus membentuk kembali ide-ide dasar dari realitas alam itu dengan pemikiran dan kreativitas kita. Dengan itu kita menandai sejarah, tidak sekedar larut di dalamnya.

Dengan mengambil jarak dari persoalan rutin sehari-hari, kita bisa mencerna substansi dari hiruk pikuk kegiatan yang kita lakukan tanpa henti. Makan, minum, tidur, berangkat ke kantor, ngejar bis kota, terjebak macet di jalan, dan seterusnya. Dengan menarik nafas panjang dan merenungkannya, kita bisa membedakan antara pekerjaan yang penting dan pekerjaan yang mendesak. Yang substansial dan aksesoris. Dengan jeda dan istirahat, otak kita akan terasah lagi kemampuannya dan tidak cepat aus karena terforsir setiap saat. Kemampuan membedakan dua hal tersebut akan sangat berpengaruh pada pilihan tindakan-tindakan kita selanjutnya.

Melihat Potensi, Tidak Sekedar Realitas

Tuhan menganugerahi kita sepasang mata yang indah, untuk mengeja obyek-obyek dalam jangkauan pandangan kita. Jika kita bisa memaksimalkan fungsi ini, kita akan mendapatkan banyak sekali pelajaran dan keindahan. Mata adalah elemen terpenting estetika, dengannya kita bisa menikmati seribu warna yang menghias alam semesta.

Tapi ada baiknya jika kita tidak menggantungkan sepenuhnya penilaian atas pandangan mata yang bersifat fisik ini. Karena pandangan visual ini bukan satu-satunya. Lagipula kemampuannyapun – karena sifatnya yang physical – menjadi terbatas. Mata hanya mampu melihat realitas: menyerap kenyataan seperti adanya.

Ada sebuah pandangan yang bisa menjangkau lebih jauh, yang bahkan melampaui ruang dan waktu. Para psikolog menyebutnya pandangan pikiran. Pandangan ini bersifat spiritual dan hanya melihat potensi (Dr. David J. Schwartz, The Magic of Thinking Success) Pandangan ini adalah modal terbesar bagi seseorang untuk memiliki sebuah visi yang jelas di masa depan. Adalah kemampuan melihat tidak saja dalam ruang yang berbeda, tapi juga waktunya. Seorang visioner mampu melihat 5 atau 10 tahun ke depan, membayangkan kondisi ideal sampai detailnya dan membuat rencana-rencana sistematis untuk mewujudkannya. Seorang visioner adalah kreator yang antisipatif, bukan seorang follower yang reaktif.

Sampah yang menggunung, antrian di bank, penumpang yang penuh sesak di bis kota adalah teks bebas yang bisa diapresiasi secara berbeda atau bahkan bertolak belakang oleh seorang normal dengan pandangan visual belaka dan seorang visioner dengan pandangan pikiran.

Yang pertama akan melihatnya biasa saja. Tidak ada sedikitpun yang membekas di pikirannya. Yang kedua akan melihatnya sebagai peluang dan kesempatan. Dalam pandangan seorang visioner, setumpuk sampah bisa menjadi berton-ton pupuk atau karya seni instalasi. Antrian di bank bisa dimanfaatkan untuk membaca buku atau mengamati perilaku orang. Penumpang sesak bisa jadi ide iklan minuman ringan atau minyak wangi.

Peluang-peluang emas seperti ini tidak terlihat oleh mata biasa, lalu lenyap dan berganti pandangan lain. Datangnya tanpa peringatan, perginyapun tanpa kesan.

Apa yang Salah Dengan Ide Kelas Lokal?

Hidup kita telah dikendalikan oleh gengsi, dalam segala bentuknya. Termasuk persetujuan implisit kita tentang kasta-kasta: ini agency Jakarta, itu agency daerah. Perusahaan multinasional, perusahaan nasional, perusahaan lokal. Mentalitas bangsa terjajah telah membuat kita sulit bersikap egaliter, pilihannya tinggal sombong (buat yang merasa kelasnya lebih tinggi) atau minder (buat yang tidak percaya diri).

Celakanya, dalam hal pengolahan ide kreatifpun kasusnya gak jauh beda. Dikit-dikit menjurusnya ke stereotip: kalo ide yang global itu begini, yang lokal itu begitu. Contoh jamak yang disebut elemen lokal Jogja itu biasanya batik, tugu, keraton, blangkon, bakpia dan semacamnya yang sudah mulai terasa membosankan. Tapi apakah ada satu hukum yang mewajibkan bahwa kalo bicara Jogja maka mesti menggunakan elemen-elemen itu? Semacam kita harus ikut Penataran P4 baru bisa dianggap telah mengamalkan Pancasila?

Tidak toh? Kita sendiri yang takut dianggap melanggar adat jika tidak seperti kebanyakan orang. Kita terbiasa bersikap inferior, sadar atau tidak sadar.

Padahal Thailand dan India sukses mengekspor nilai lokalnya menjadi aset kreatif yang laku terjual di dunia internasional. Lihat film-film Bollywood yang di tanah kelahirannya selalu mengalahkan penonton film Hollywood. Ide humor-humor sarkastik Thailand menyapu habis award di Adfest. Cina menikmati penghargaan tertinggi lewat Crouching Tiger Hidden Dragon. Indonesia? Puas menjadi penonton keberhasilan negara-negara tetangga sambil bersyukur masih bisa korupsi.

Tapi ya memang tidak semua aspek lokal bisa menarik untuk diangkat menjadi sebuah point of interest dan mampu menciptakan stopping power yang kuat. Jika kita tidak hati-hati dan hanya mengekor tradisi, maka output kreatifpun akan menjadi usang, obsolete, tidak dilirik orang. Misalnya elemen-elemen konvensional khas Jogja tadi. Lupakan semua itu dan tawarkan hal-hal baru. Paling tidak elemen lama itu di-treatment khusus: batiknya mau diapain biar unik, tugunya diambil dari angle sebelah mana biar beda, keratonnya diambil sudut sebelah mana yang tak pernah dilihat orang, blangkonnya di-trace agar lebih ngepop, dll. Peran kreativitas sangat penting untuk ‘menyulap’ hal-hal biasa menjadi berbeda dan unik.

Memahami kultur yang akan kita angkat menjadi sebuah tema dalam desain grafis adalah hal mutlak yang harus kita kuasai. Tanpa pemahaman yang mendalam, maka proses untuk meng-akulturasikannya dengan aspek global tidak saja bisa mengakibatkan salah persepsi tapi bahkan bisa menjadi bumerang akibat penerimaan negatif target audiens.

Tantangan terbesarnya adalah bagaimana membawa muatan lokal yang begitu unik, menarik dan bisa diterima oleh audiens yang bahkan tidak mengerti secara jelas kultur budaya yang diangkatnya dalam sebuah karya desain grafis.

Karena tidak semua kultur lokal bisa diangkat menjadi bahasa global, ada kemungkinan kultur di suatu daerah bisa bertentangan dengan daerah lain. Contoh kecil: ‘kates’ dalam bahasa Jawa berarti ‘pepaya’, tapi dalam bahasa Sunda berarti ‘pisang’.

Bahkan, yang dianggap baik di suatu komunitas, bisa dianggap sangat buruk di komunitas yang lain. Ketelanjangan di Papua dianggap biasa, tapi jangan coba diterapkan di Aceh, misalnya. Pemahaman atas dua hal ini akan banyak membantu tercapainya proses transformasi pesan yang benar-benar pas pada audiensnya, sehingga tercipta ‘desain grafis plus’, yang pengaruhnya melebar melewati batas-batas lokalitasnya sendiri.

Bercermin pada apa yang kami lakukan Petakumpet untuk meng-create aspek local contents dalam menghasilkan ide: pemahaman mendalam terhadap insight audiens didukung ketelitian mengamati hal-hal kecil yang unik dan menyentuh dalam keseharian adalah modal terciptanya ide-ide segar yang membumi.

Seperti misalnya yang pernah kita lakukan untuk seri iklan Kedaulatan Rakyat (versi Punker, Bencong dan Mengambil Bola) dimana telah ditentukan tagline-nya ‘migunani tumraping liyan’ yang jika disajikan mentah-mentah akan membuat banyak orang bertanya-tanya maksudnya apa. Dari sana timbul ide untuk mengemasnya dengan bahasa visual yang lebih bisa dimengerti oleh lebih banyak orang (bukan hanya yang paham bahasa Jawa) tapi tetap dengan tampilan desain yang unik, yang khas. Kita juga masih tambahkan terjemahan bebas dari tagline tersebut, semata-mata untuk mengurangi bias komunikasi yang mungkin timbul.

Mari Menabrak Pagar

Lalu apa yang mesti kita lakukan untuk membongkar mentalitas kita telah ditumbuhi lumut itu? Satu hal yang pasti: kesuksesan yang kini dinikmati oleh rekan-rekan kreatif kita dari negara-negara tetangga itu bukan bakat bawaan lahir, tidak berhubungan dengan faktor keturunan. Pandangan hidup penuh percaya diri itu adalah keahlian yang bisa diasah dan dilatih. Dengan keberanian, ketekunan dan konsistensi.

Tidak ada kesuksesan instant. Padi tidak akan menguning sebelum waktunya dan ayam tidak mungkin bertelur sebelum cukup umurnya. Pandangan pikiran juga masuk dalam hukum alam seperti itu: waktu memegang peranan sangat penting. Setiap detik dan menitnya.

Keberuntungan akan lebih sering datang pada orang yang terlatih dan telah menyiapkan dirinya. Tidak setiap orang pernah melihat bintang jatuh, tapi saya yakin jika ada yang bersedia menunggunya dengan teratur, bersedia mempelajari pola bintang jatuh dan mempunyai sebuah teleskop: dia akan menyaksikan lebih banyak bintang jatuh. Jika melihat bintang jatuh dianggap perlambang sebuah keberuntungan, maka melihatnya berkali-kali akan menjadikannya mukjizat.

Mulailah dengan menabrak kebiasaan-kebiasaan lama yang telah dianggap kebenaran yang mutlak dengan sadar dan terencana. Siapkan pemberontakan kecil-kecilan. Dan pertahankan orisinalitas keyakinan itu. Dengan konsisten. Karena pasti akan banyak orang yang dengan senang hati mengatakan padamu betapa bodohnya kamu dengan pilihan tindakan itu. Akan banyak orang yang memprediksikan kamu akan gagal, meskipun mereka sendiri belum pernah mencoba sedikitpun. Resikonya memang tidak ringan, karena imbalannya juga tidak kecil.

Saya punya koleksi beberapa ide nabrak pagar. Misalnya, pernah memikirkan untuk menikah di kuburan? Pernah merenungkan sebuah ide di atas pohon kelapa? Jika Anda jagoan menggambar dengan tangan kanan, pernahkah menggambar dengan tangan kiri? Menulis sambil menutup mata? Berjalan normal sambil tersenyum dalam hujan lebat melewati orang yang sedang berlarian atau berteduh? Makan nasi dengan lauk buah-buahan? Minum kopi sambil – sorry – buang air besar?

Saya hanya ingin membuka ruang seluas-luasnya. Lupakan dulu tentang sopan santun dan etika. Atau aturan baku lainnya. Tabrak saja dulu. Bebaskan semua belenggu yang telah mencengkeram otak kita sejak kecil. Rasakan imajinasi yang melayang bebas seperti burung terbang mengukur tingginya langit. Rasakan segarnya udara yang memenuhi ruang tak terbatas. Rasakan kaki-kaki yang berlari melesat ke masa depan dengan gerakan yang luar biasa ringannya.

Apakah kebebasan yang Anda rasakan dalam pikiran itu membuat Anda menjadi senang, bahagia, inspired atau justru malah takut?

Keraguan Adalah Awal yang Baik

Meninggalkan kebiasaan lama memang tidak mudah. Selalu ada keraguan ketika memutuskan untuk berubah: keluar dari zona kenyamanan yang biasa kita nikmati setiap hari dan menuju wilayah baru yang asing dan tak terpetakan. Ini adalah sebuah gejala yang wajar, sewajar adik bayi yang demam ketika mendapat suntikan vaksin. Jika keraguan atau ketakutan mulai menyerang, maka tersenyumlah. Keraguan akan mematangkan pertimbangan kita sebagai salah satu mekanisme internal control. Setelah itu, tutuplah semua pintu yang bisa membuatmu menoleh ke belakang. Bakar semua perahu penyelamatmu seperti Jabal Tariq. Sehingga satu-satunya jalan yang tersisa buatmu hanyalah ke depan. Dan teruslah melangkah.

Se-simple itu. Meskipun tentu saja tidak semudah ketika menuliskannya. Tapi yang jelas, segala sesuatunya rasional dan bisa dinalar dengan akal sehat.

Landskap masa depan ditentukan oleh sekelompok minoritas yang ide-ide besarnya semula dianggap asing, tidak wajar bahkan gila. Mereka yang terus maju ke depan karena keyakinan yang kuat, ketika orang-orang di sekitarnya tertawa mencemoohkan. Orang-orang langka seperti ini akan menjadi gelombang yang tidak terhentikan. Yang tidak saja akan menghempaskan milyaran buih ke pantai, tapi juga meruntuhkan karang-karang yang terjal.

Seorang bijak pernah berkata, resiko terbesar dalam hidup adalah tidak pernah berani mengambil resiko. Dan keteguhan atas sebuah visi di masa depan – kata Goethe – menyimpan kekuatan, kejeniusan dan keajaibannya sendiri. Keberuntungan akan datang bahkan tanpa pernah disangka-sangka. Sejarah banyak mencatat kebenaran kata-kata sederhana ini, jika kita mau belajar darinya.

Dan kembali ke topik awal yang judulnya sok barat itu, saya tidak menawarkan banyak hal lewat tulisan ini. Saya percaya bahwa ide-ide lokal sangat punya potensi kekuatan, justru karena kelokalannya. Ide kreatif yang berangkat dari lokalitas itu jumlahnya jutaan, dan jika diolah maksimal akan menjelma jadi masterpiece berkelas internasional.

Tidak percaya? Mari kita buktikan lima tahun dari sekarang. Jika kita – insan kreatif Indonesia - terus berproses bersama-sama dan tidak menyerah.

Sunday, May 7, 2006

Again



Seorang pemimpin bisnis yang menentang opini umum harus siap dicerca, dibenci, difitnah, direndahkan, dihujat dan dikutuk. Dan inilah yang menjadikan saya kaya raya.

(Pada tahun 1957, Paul Getty adalah orang terkaya di dunia)

Dari Paul Getty

Uang harus dipandang - hanya - sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Uang sendiri bukan tujuan dan jangan pernah dijadikan sebagai tujuan.