Mybothsides

Sunday, September 3, 2006

Manajemen Mood



Kalau sedang mood, kita bisa seharian nongkrong di depan monitor, mengutak-atik desain dalam keasyikan. Dan hebatnya, mood yang bagus akan membuat output kreatif kita benar-benar bagus bahkan kadang lebih bagus dari yang diharapkan. Mood ini sangat diperlukan untuk menghasilkan karya yang di atas standar, yang bukan asal jadi. Tapi datangnya mood sering tidak terduga. Dalam situasi tertentu, mood bahkan menguap hilang selama berhari-hari meninggalkan kita dalam dalam kebuntuan ide.

Saya punya pengalaman buruk menyangkut manajemen mood. Saya pernah gagal mengisi rubrik Salvo di edisi 4 Blank! magazine (alm.) gara-gara ide yang macet meskipun telah nongkrong di depan komputer dan baca buku macem-macem, seminggu penuh. Saya tidak tahu harus diapakan seluruh bahan yang sudah terkumpul itu. Pada detik terakhir deadline, akhirnya saya menyerah dan rubrik tetap itupun sukses tergusur artikel yang lain.

Satu lagi ketika menyiapkan tulisan ini, lama sekali saya memikirkan tulisan yang pas untuk di-posting dan sampai kemarin malam saya masih belum tahu mau nulis apaan. Apalagi mikirin ilustrasinya mau pake apa. Barulah menjelang deadline, saya dipaksa oleh kondisi waktu yang tinggal sedikit itu sedemikian rupa sehingga katup yang membuatnya buntu tiba-tiba jebol tanpa saya tahu bagaimana prosesnya. It’s just happened. Saya cuma tahu dari bukti otentiknya: tulisan ini bisa tersaji di hadapan Anda sekalian.

Nah, saya yakin mereka yang mengaku (atau tidak mengaku) dirinya kreatif pernah mengalami kebuntuan semacam itu, seperti pengarang yang kehilangan kata atau pelukis yang kehilangan imajinasi warna. Bagaimana mengatasinya?

Yang harus saya ingatkan sebelumnya adalah, mood tidak bisa didatangkan serta merta kapanpun ia dibutuhkan. Yang bisa kita lakukan adalah menciptakan kondisi-kondisi dimana mood itu mudah muncul untuk selanjutnya bisa menghidupkan élan kreativitas kita. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, diantaranya:

Menentukan Tujuan yang Jelas
Dalam memecahkan masalah, akan lebih simple jika kita memahami batasan-batasannya. Sehingga kita tidak berfikir terlalu luas. Kita bisa berfokus pada upaya problem solving jika tujuan yang akan kita capai elas. Tujuan itu akan memandu otak kita secara sadar maupun tak sadar dan mengarahkannya mencari jalan keluar atas permasalahan yang kita hadapi. Ide atau solusi akan datang seperti sebuah cahaya yang menerobos lubang eternit kecil dalam sebuah ruang yang gelap. “Eureka!” kata orang Yunani.

Menyelesaikan Pekerjaan Sampai Tuntas
Penyakit yang bisa menimbulkan kebuntuan ide adalah kebiasaan menunda-menunda pekerjaan. Atau melaksanakannya setengah-setengah. Terutama jika ada beberapa pekerjaan yang sedang kita laksanakan bersamaan. Tanpa prioritas yang tepat, ini semua akan menjadi beban yang menghalangi otak berpikir jernih sehingga kebingungan mana yang harus diselesaikan lebih dahulu. Semakin banyak pekerjaan yang bisa kita tuntaskan sesuai schedulle-nya, semakin ringan beban otak kita dan mood-pun akan lebih sering muncul.

Menciptakan Atmosfir Kreatif
Penting juga untuk menciptakan suasana kerja dan lingkungan yang kondusif agar mood bisa sering datang. Atmosfir kreatif itu akan membuat fisik dan psikis kita menjadi nyaman dan tidak tertekan. Ada yang mengatakan bahwa ruang kerja yang berantakan menandakan seseorang itu kreatif. Saya tidak akan menyalahkan penilaian tersebut, asalkan penghuni ruangan itu tidak mengalami kesulitan ketika mencari ballpoint atau halaman buku tertentu akibat banyaknya barang lain yang berserakan. Karena kebersihan dan kerapian tempat kerja, saya pikir akan berguna untuk merangsang otak kita untuk menata file informasi di dalamnya sehingga mudah diakses kapanpun kita butuhkan. Analoginya hampir sama dengan harddisk yang sering di-defrag dengan yang tidak.

Berfikir Berbeda
Berhubungan dengan ruangan yang bersih dan tertata, tidak ada salahnya juga pada suatu ketika sengaja dibikin berantakan jika telah mulai menimbulkan kebosanan. Ruangan tersebut bisa ditata ulang dengan cara yang berbeda, untuk menumbuhkan tunas mood yang baru. Manusia kreatif adalah makhluk yang dinamis, yang tidak begitu nyaman dengan rutinitas dan kebiasaan yang itu-itu saja. Sekali waktu, pergilah ke tempat yang belum pernah dikunjungi, saksikan film-film indie dari Afrika atau Italia (yang non Hollywood), sendirian di tengah lapangan sepak bola, berbicara dengan orang asing, mencoba tidur di kamar mandi, avonturir dari kota ke kota lain tanpa bekal, dan lain sebagainya. Agak aneh mungkin buat orang kebanyakan, tapi Itu akan menyegarkan otak kita dengan hal-hal baru, serta melatih kita untuk melihat sesuatu dengan perspektif yang berbeda. Saya pernah menonton film Jerry Maguire-nya Tom Cruise sekitar sepuluh kali. Ada banyak adegan, perkataan atau ekspresi wajah unik yang terlewatkan ketika saya baru menontonnya pertama kali. Saya bisa menemukan ‘keindahan’ itu setelah menontonnya berkali-kali. Dan memikirkannya dengan cara yang berbeda.

Berani Gagal
Tidak semua gagasan kreatif bisa diwujudkan dengan baik. Kegagalan adalah hal yang manusiawi dan dapat menjadi pelajaran terbaik. Dibutuhkan toleransi yang cukup atas kegagalan sehingga kita bisa mencapai kesuksesan di kesempatan berikutnya. Kegagalan tidak menjadi persoalan yang besar, selama kita telah melaksanakan yang terbaik semampu kita. Bill Gates (Chairman Microsoft Corp.) pernah mengatakan: When you’re failing, you’re forced to creative, to dig deep and think hard, night and day. Every company needs people who have been trough that, who have made mistakes and then made their mistakes asa great lesson to be better.

Gimana? Udah dapet ide baru lagi? Belum? Kalo begitu coba dibaca lagi dari awal.. He he he :)

5 comments:

Anonymous said...

om, kliatannya om suka nulis2, napah gak bikin buku aja kayak Om BH... yah daripada bikin album "totolilet ning nong ning nong" maaap om sekedar sumbang saran. sapah tau ngetop. tapi dah ngetop ding. salam buat Supi ya dari putri di sagan and hari untarto (koq 'ngelantur' ya, om. dari thrapicat ding, om

M. Arief Budiman said...

Hoiii, makaciih Rint.. Kamu bikin blog juga dunk, anak-anak PU dah bikin semuaa tuh.. Kan bisa mejengin Thapicatnya disitu.. Btw, tahun depan deh Insya Allah bikin bukunya, masih agak repot focusingnya jadi ya gerilya posting satu-satu begini.. Salam balik dari Supie. Sukses selalu deh, kapan married? He he he :)

Anonymous said...

emang kerja paling asyik klo mood bagus,24 jam kurang, tapi jika kerja itu merupakan passion, nggak ada alasan untuk mood jelek, justru dgn kerja mood jadi bagus, berseri-seri,..tapi kapan ya bisa mbalik mood kayak gini ??

Anonymous said...

Show me the money!!!

ha..ha. gue mungkin ga segokil sampeyan dalam menggali ide.
Tapi bener banget, eksplorasi ide memang butuh suasana dan yang terpenting tujuan. Kalo udah dapet ide trus action nya mo ngapain. Untuk kemaslahatan diri, keluarga sendiri atau dinikmati orang banyak.

Apa kabar rekan Arief??, kelebatan sosok mu selalu datang saat diriku butuh temen dikusi yang mencerahkan, bahkan sampai sekarang.

Agus Sampurno

M. Arief Budiman said...

Woooi, apa kabar Gus? Mmmm.. tak terasa waktu berjalan begitu cepat, aku malah seperti jalan di tmpt. Begitu banyak mimpi, tapi lebih banyak lagi penghalangnya.. Mmm, hope sukses di sono. Smg kita bisa jumpa lagi, dalam kondisi yang lebih baik, salam :)