Mybothsides

Friday, April 14, 2006

Takhayul Playboy



Kenapa majalah Plaboy edisi Indonesia didemo mati-matian sementara yang lain seolah didiemin?

It's a power of brand. Playboy sudah diakui sebagai ikon majalah porno. Seperti Indonesia diakui sebagai ikon negara koruptor. Jadi biar tampil bagaimanapun, cap itu akan melekat apapun yang coba ditampilkannya. Jika Playboy menggunakan bahasa Arab dan modelnya berjilbab semua, nama Playboy-nya sendiri tidak akan tertolong.

Itulah kekuatan sebuah brand, bisa sangat positif bisa juga sangat negatif. FPI dkk sekarang sedang mendemo sebuah brand, bukan content. Jadi akan terjawab pertanyaan: kenapa FHM, Male Emporium, Popular, dsb. tidak didemo sehebat itu? Tentu saja karena brand mereka belum jadi ikon, meskipun dari content mungkin lebih dahsyat.

Dalam terminologi yang sederhana, brand itu sebuah takhayul: image yang dibikin, dikomunikasikan berulang-ulang sampai nancep di otak dan banyak orang percaya. Jadi sebenernya FPI itu sedang mendemo takhayul, mereka juga korban atas kekuatan brand Playboy. Kasihan juga yaa...


5 comments:

ariwwok! said...

hmmm....

johan said...

Mestinya jangan pake nama playboy ya mas .. pake nama playgroup aja kali ... :0

dewi said...

yang saya mo demo, knapa itu cover perdana nya andara early? kenapa tidak karenina? atau saya? :D

numpang kluarin uneg2, om!

cindymon said...

sippp... ;)
seandainya saja ada seekor anggota fpi yg punya pola pikir kek gini, melek tentang brand... melek tentang mana yang urusan penting dan bukan... maka seharusnya nggak ada tindakan anarkhissss...

M. Arief Budiman said...

Mbak Cindy, tolong jangan beritahukan alamat saya ke FPI, saya males banget jadi 'brand consultant' mereka, he he he ;)