Mybothsides

Saturday, December 31, 2005

Sad Ending of 2005

Hanya pengin curhat, tadi pagi pacar saya - ehm - nanya,"Mas, nanti malam kita tahun baruan dimana?"

Ooops! Jadi inget kalo saya belum nyiapin apa-apa buat nanti malam, sekaligus sadar kalo tahun ini udah tinggal itungan jam. Sebulan terakhir, jiwa raga saya habis buat kerjaan. Ndak punya waktu lagi ngurusin hal-hal pribadi, gak sempet nemenin makan atau anterin ke tempat penelitian skripsi. Rumah juga gak keurus, yang bocor lah, pintu macet lah, komplit!

Dan hari ini adalah puncak dari kebegoan saya. Setelah terdiam - sumpah kaget banget waktu denger dia nanya - jawaban saya adalah,"Mmmm, kayaknya nanti malam hujan deh.. Entar kalo keluar malah sakiit.."

Klise bangettt gak sih!!! Dan wajar jika dia pasang tampang cemberut. Kayaknya saya harus mengakhiri tahun ini dengan mengirim seribu maaf untuk orang-orang terdekat saya. Saya membutuhkan dukungan dan permakluman mereka karena saya tidak bisa menjadi seperti kebanyakan orang lain yang jam 5 sore udah bisa nyampe rumah lalu ngobrol sambil minum teh anget. It's still my dreams to have an evening tea..

Btw, It's a journey of my live. Saya beruntung mereka masih berada di sisi saya saat saya butuhkan. Memasuki 2006 mimpi saya terus memanggil-manggil, saya hanya ingin terus melangkah..

Met tahun baru buat Anda semua.. Khusus buatmu yang selalu complain karena saya jarang tepat waktu,"You know what i feel, you'll always inside me every second in my live. I dedicate this blog for you."

Thursday, December 29, 2005

Reinventing The Company



In the end of this year, there's a lot of works to do: change the management, change the logo, change the look, change everything needed to be the winner company. But I'm sure how complex the problem is, business is just simple. Next year, you'll see our new face: more integrated, more progressive, more competitive. And if you're one of our competitors, you better be afraid. You better do something to save your company. It's a warning and I never say it twice. Be prepare!

Notes: Petakumpet Reborn is designed by Dedy, one of the militan orange troops

Learning From Mouri

In a wide-ranging interview Mourinho discussed his first season and a half at Chelsea and the forthcoming year. He was asked the following questions:

Now you have won the Premiership and the League Cup in your first season and you are top of the league by miles again, how many marks would you give yourself?
Not myself because it is not an individual sport, it is a family, a group, we are all responsible for good things and bad things. I think to our group I give a nine. I couldn't give a 10 because we didn't get to the Champions League Final. But because it is knockout and knockout is quite strange and not always the best teams go through, I would give between eight and nine. It was a great season but not perfect.

It seems Chelsea are the new Manchester United. Every kid wants to support Chelsea and you are winning everything as well.
Not yet. I think the Chelsea project is not about winning one championship, it is about gaining a few over the next years. At that time we can compare ourselves to what Man United have done in the past. But at this moment we have just one Premiership, a very important one as it was the first in 50 years and changes a little bit the way people look at Chelsea, especially the kids. But we have to do more to persuade people that Chelsea are the club of the future.

What about the nickname the Special One? Do you like it?
I cannot say I like it because when you lose you are not special. People can make fun with it so you can imagine if we lost two or three matches they say he is special because he lose a lot of times. But to be fair I think it is a nice nickname.

Are you a winner because you have a sense of perspective? You said there is no such thing as pressure in football - pressure is what happens in Iraq.
You are not playing with your life. You are not in danger. You are doing something you enjoy very much. Win and lose is part of the game, you cannot feel like the king because you win and you cannot feel like a monster because you lose. You have to keep your balance so to be fair I don't feel a lot of pressure. There are a lot of people in the world who have a lot of pressure. There are lot of jobs in the world where the pressure is there every moment.


Source: www.chelseafc.com

Tore Kong



Jarang-jarang saya memuji film bikinan Hollywood, but this one is different. Finally, a movie created by heart.. Incredible! Tapi saya ada satu pertanyaan, siapa yang memenangkan pertarungan di atas? Tebakan saya, 4 dari 5 jawaban akan salah, wanna try?

Monday, December 26, 2005

Setahun Tsunami

Books That Changed My Live

Beberapa buku ini telah mengubah hidup saya. Membaca adalah cara termudah dan termurah buat saya untuk lebih memahami hidup ini. Saya tahu jumlah dan jenis buku ini akan bertambah banyak lagi, seiring hari baru yang akan saya jalani nanti. Tapi jika Anda pernah membaca salah satu atau beberapa buku ini dan ingin berbagi, silakan comment. Saya akan dengan senang hati berbagi. Here are the lists:

01.
Think and Grow Rich, Napoleon Hill
02.
The Second Coming of Steve Jobs, Alan Deutschman
03.
The Road Ahead, Bill Gates
04.
The Magic of Thinking Big, David Schwartz
05.
IDEO, The Art of Innovation, Tom Kelley & Jonathan Littman
06.
Inside Out, Microsoft In Our Own Words
07.
The Alchemist, Paulo Coelho
08.
Winning, Jack Welch
09.
Pergolakan Pemikiran Islam, Achmad Wahib
10.
Catatan Seorang Demonstran, Soe Hok Gie
11.
Straight From The Guts, Jack Welch
12.
The Magic of Getting What You Want, David J. Schwartz
13.
Pour Your Heart Into It, Howard Schultz & Dori Jones Young
14.
Me Too is Not My Style, Stan Shih
15.
Catatan Pinggir, Goenawan Mohamad
16.
The Prophet, Kahlil Gibran
17.
Patton on Leadership, Alan Axelrod
18.
Unstoppable, Cynthia Kersey
19.
Pangeran Kecil, Antoine de Saint-Exupery
20. Who Says Elephant Can't Dance,
Louis V. Gerstner Jr.
21. Ogilvy on Advertising, David Ogilvy

Sembilan Kado Terindah

Aneka kado ini tidak dijual di toko. Anda bisa menghadiahkannya setiap saat dan tak perlu membeli. Sembilan macam kado ini adalah hadiah terindah dan tak ternilai bagi orang-orang yang Anda sayangi.

1. KEHADIRAN
Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang kita bisa juga hadir dihadapannya lewat surat, telepon, foto atau sms. Namun dengan berada disampingnya, Anda &dia dapat berbagi perasaan, perhatian dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Dengan demikian, kualitas kehadiran juga penting. Jadikan kehadiran Anda sebagai pembawa kebahagiaan.

2. MENDENGARKAN
Sedikit orang yang mampu memberikan kado ini, sebab kebanyakan orang lebih suka didengarkan ketimbang mendengarkan. Sudah lama diketahui bahwa keharmonisan manusia amat ditentukan oleh kesediaan saling mendengarkan. Berikan kado ini untuknya. Dengan mencurahkan perhatian pada segala ucapannya, secara tak langsung kita juga telah menumbuhkan kesabaran dan kepedulian.

3. KERENDAHAN HATI
Untuk bisa mendengar denga baik, pastikan Anda dalam keadaan betul-betul relax dan bisa menangkap utuh apa yang disampaikan. Tatapwajahnya, tidak perlu menyela, mengkritik, apalagi menghakimi. Biarkan ia menuntaskannya, ini memudahkan Anda memberi tanggapan yang tepatsetelah itu. Tidak harus berupa diskusi atau penilaian, sekedar ucapan terima kasih pun akan terdengar manis.

4. DIAM
Seperti kata-kata, di dalam diam juga ada kekuatan. Diam bisa dipakai untuk menghukum, mengusir, atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalanya, diam juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada seseorang karena memberinya ruang, terlebih jika sehari-hari kita sudah terbiasa gemar menasihati, mengatur, mengkritik bahkan mengomeli.

5. KEBEBASAN
Mencintai seseorang bukan berarti memberi kita hak penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupan orang bersangkutan. Bisakah kita mengaku mencintai seseorang jika kita selalu mengekangnya? Memberi kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta. Makna kebebasan bukanlah, Kau bebas berbuat semaumu. Lebih dalam dari itu, memberi kebebasan adalah memberinya kepercayaan penuh untuk bertanggung jawab atas segala hal yang ia putuskan atau lakukan.

6. KEINDAHAN
Siapa yang tak bahagia, jika orang yang disayangi tiba-tiba tampil lebih ganteng atau lebih cantik? Tampil indah dan rupawan juga merupakan kado lho. Bahkan tak salah jika Anda mengkadokannya tiap hari. Selain keindahan penampilan pribadi, Anda pun bisa menghadiahkan keindahan suasana di rumah.

7. TANGGAPAN POSITIF
Tanpa sadar, sering kita memberikan penilaian negatif terhadap pikiran, sikap atau tindakan orang yang kita sayangi. Seolah-olah tidak ada yang benar dari dirinya dan kebenaran mutlak hanya pada kita. Kali ini coba hadiahkan tanggapan positif, nyatakan dengan jelas dan tulus. Cobalah ingat, berapa kali dalam seminggu terakhir Anda mengucapkan terima kasih atas segala hal yang dilakukannya demi Anda. Ingat-ingat pula, pernahkan Anda memujinya. Kedua hal ini, ucapan terima kasih dan pujian dan juga permintaan maaf adalah kado cinta yang sering terlupakan.

8. KESEDIAAN MENGALAH
Tidak semua masalah layak menjadi bahan pertengkaran, apalagi sampai menjadi cekcok yang hebat. Semestinya Anda pertimbangkan, apa iya sebuah hubungan cinta dikorbankan jadi berantakan hanya gara-gara persoalan itu? Bila Anda memikirkan hal ini, berarti Anda siap memberikan kado kesediaan mengalah. Okelah, Anda mungkin kesal atau marah karena dia telah datang memenuhi janji, tapi kalau kejadiannya baru sekali itu, kenapa mesti jadi pemicu pertengkaran yang berlarut-larut? Kesediaan untuk mengalah sudah dapat melunturkan sakit hati dan mengajak kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.

9. SENYUMAN
Percaya atau tidak, kekuatan senyuman amat luar biasa. Senyuman, terlebih yang diberikan dengan tulus, bisa menjadi pencair hubungan yang beku, pemberi semangat dalam keputusasaan, pencerah suasana muram, bahkan obat penenang jiwa yang resah. Senyuman juga merupakan isyarat untuk membuka diri dengan dunia sekeliling kita. Kapan terakhir kali Anda menghadiahkan senyuman?

----------------------------------------------

Catatan:
Dapat tulisan ini dari temen di milis, saya posting disini tanpa diedit. Mungkin Anda merasa tulisan di atas tidak heroik, biasa-biasa aja ato udah pernah membaca. Bagaimanapun, Anda perlu membacanya sekali lagi. Memasang tulisan ini adalah upaya saya untuk berbagi hal-hal baik. Saya tidak tahu siapa penulisnya, yang saya tahu dia orang baik. Sometimes, kebaikan itu memang nampak kuno dan tidak keren. I take that risks so we can learn together about good things in our live.

Friday, December 23, 2005

Wenger, Fergie, Mouri, Rafa



Lihat baik-baik ekspresi mereka ketika in action. Can you feel something inside their body languages? I leave you this question, so you can think it and find some useful things reflected to yourself. If there are ten comments about this picts, i promise i'll tell you mine. (photo surces: Wenger: pub.tv2.no, Fergie: pub.tv2.no, Mourinho Benitez: sport.wp.pl)

Life or Death is Beautiful



Saya kok punya feeling bakal hidup sampai 21 Maret 2042. I don't know. What do you think?

Thursday, December 22, 2005

Wajah Muram Generasi Tua

Semakin lama kita hidup, semakin tambah umur, kita pelan-pelan jadi tua. Dari pilihan kata 'tua' saja saya bisa merasakan betapa muramnya itu. Tapi gimana lagi: Tuhan yang bikin hukum alam ini kok. Kita bisa apa? Everything that lives will grow old.

Tapi tetap saja saya sedih, saat harus berbeda pendapat dengan mereka: kaum tua (ini pinjem bahasanya Gie). Betapa banyak orang-orang yang ternyata tidak hanya menua fisiknya, tapi juga jiwanya. Kulitnya tambah keriput, rambutnya memutih (atau rontok), semangatnya menurun, suka membanggakan masa lalu (itupun jika pantas dibanggakan), tidak mau didebat, merasa bener sendiri dan ingin selalu menang.

Mungkin tuduhan saya berlebihan, tapi percayalah bahwa tipe orang tua begini ada diantara kita. Dan waspadalah, jangan mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif yang biasanya disamarkan dalam bentuk 'nasihat'. Tapi kita juga tidak boleh hanya menyalahkan mereka, kita wajib terus membuka wawasan mereka bahwa dunia ini berputar dan terus berubah, kita harus setia berubah di depan jaman. Bukan terdiam di pojok sejarah. Saya setuju dengan perkataan Pangeran Kecil di bukunya Antoine de Saint-Exupery: anak kecil memang seharusnya lebih sabar untuk memahami orang tua.

More Bills This Year

Gak sengaja waktu iseng liat toko buku kecil di bandara kemarin, penginnya nyari Fortune yang ada cerita Leadership-nya Andy Groove. Ehh, malah nemu majalah Time dengan cover yang aneh. Sialan, ternyata dia lagi!

Tuesday, December 20, 2005

Contoh Kegagalan Saya

Awalnya ada email dari Amrie Noor di milis CCI :

Dear All,Mohon info CP brand activation agencies/specialist dong. Preferably the local ones.
thx, amrie


Reply dari saya:

Jika udah dicoba semua belum ada brand activation agencies/specialist yang pas, boleh kontak kesini. Tapi tolong, hanya jika kepepet aja dan emang butuh yang bener-bener pas. Jika belum kepepet banget sebaiknya ya jangan..

PT. Petakumpet, Gedongkiwo MJ I No. 1001 Yogyakarta 55142, Telp. 0274-373847, CP: M. Arief Budiman, S.Sn (081578700xxx)

Kemungkinan yang terjadi kenapa saya gagal mempengaruhi calon klien (disingkat CK):

  • CK belum kenal saya, sayapun belum kenal dia (nah, klop kan?)
  • Karena terpengaruh kata-kata saya maka CK pengin nyoba-nyoba dulu agency Jakarta
  • CK tersinggung karena merasa reply email saya arogan (dengan kata lain: CK orangnya perasa)
  • Dipengaruhi oleh agency temannya yang tersinggung dengan email saya (dengan kata lain: CK & agency yang tersinggung itu kumpulan orang perasa)
  • CK berfikir Jakarta – Jogja perlu sehari semalam naik bis/kereta alias jauuuh banget sehingga repot jika akhirnya deal (padahal dia aktif di milis dan via YM bisa kontak real time)
  • CK emang belum kepepet
  • CK pengin ngirit, gak jadi kontak karena yang tersedia hanya no. hp & telepon interlokal (bukan lokal)
  • CK butuh agency yang serius, bukan agency of the year yang penuh humor begini
  • Emang belum rejeki saya dan tulisan ini terlalu mengada-ada


Sunday, December 18, 2005

Nice Pict, Mouri


(Photo sources: pub.tv2.no, Quotes souces: league premier, Friday 16 December, 2005)

Daftar Belanjaan Petakumpet 2006

- Agency of The Year Pinasthika Ad.Festival 2006
- 1 gold & 1 silver Citra Pariwara 2006
- Visitor di Asia Pasifik Adfest
- Billing Rp 10.000.000.000,- (10 milyar rupiah)


Tidak terlalu banyak dan masih realistis. So let's prepare it, Guys!

Me, Myself & Both of Them

Watch Their Quotes!




Coba dibaca sekali lagi kutipannya. Siapa bilang Steve Jobs lebih hebat daripada Bill Gates? Emangnya Bill Gates lebih jago jualannya ketimbang Steve Jobs? Lagi pula, siapa yang peduli dengan persaingan antara keduanya? Yang paling penting, tolong bantu saya untuk menemukan cara agar bisa lebih hebat daripada keduanya.. He he he ;)

Saturday, December 17, 2005

Now and Next



Foto ini diambil saat Upgrading Head, 11 Juli 2005. Semua Head Departemen dikumpulin Hotel Sheraton, wajib pake dasi dan materinya tentang Negosiasi. Pematerinya Pak Bagoes (Managing Director). Lha saya dimana?

I'm here watching this. Day after day. Hari ini salah satu diantara mereka yang terdapat di foto itu (ada 6 orang disitu) udah nggak di Petakumpet lagi. Yang mana coba? Lalu yang lainnya? Entah mereka akan terus stay atau mengikuti jejak meninggalkan perusahaan ini adalah sebuah pertanyaan besar. Tapi catatan saya, everybody in this company has to grow up. Jika tidak bertumbuh, mereka akan ketinggalan oleh perkembangan perusahaan. It's a risk, normal risk. Tapi saya tahu tidak setiap orang siap menghadapinya. Banyak yang sibuk menyalahkan orang lain ketimbang memperbaiki kekurangan dirinya sendiri. What a pity!

Saat ini saya berada di tengah jalan yang ramai, dalam lalu lintas pekerjaan yang gak habis-habis meskipun sering kesepian diam-diam. Hari-hari ini saya banyak merenung. Mencoba mengeja perjalanan waktu saat segala sesuatunya dimulai, 1 Mei 1995. Banyak yang akan berubah besok, di perusahaan ini. Hope bisa jadi lebih baik, meskipun ongkosnya juga pasti tidak murah. Ya modal, ya waktu, ya perasaan. Etc.

But I'm ready.. coz i don't have another option. Do i? So, adakah lagi yang akan pergi? Atau siapa yang akan datang menjadi bagian perusahaan ini? Roy Wisnukah? Birger Linke? Herman Saksono? Or nobody? Mmmm.. i just don't know. Let's see next. Tapi dengan pasang foto para Head di sini, Anda tahu urutan ceritanya jika suatu hari nanti Petakumpet punya billing 1 triliun dan staf 200 orang (sekarang 30 orang) atau malah tutup dan dinyatakan bangkrut.

Welcome to reality, Guys! Even on Sunday, have a nice work ;)

Almamater Tinggal Monumen

Mari flashback sedikit. Saya adalah alumnus FSR ISI Yogyakarta, Prodi Diskomvis angkatan 1994, lulus 1999. Just like a normal student. Meskipun bukan mahasiswa baik-baik, karena hobi protes dan demo juga. Ketika saya nulis blog ini, kondisi almamater saya begitu mengharukan hati. I just don't know, banyak hal yang terjadi setelah kepindahannya dari Wirobrajan ke Sewon Jl. Parangtritis.. This institution is losing lot's of fun. Selama beberapa tahun setelah saya lulus, saya sering hadir dalam wisuda teman-teman saya dimana pidato Rektornya (saat itu Pak Bandem) tidak berubah dari tahun ke tahun kecuali tanggalnya aja. Bahkan kalimat dan mungkin titik komanya juga tidak (at least 95% is repetition). Very very uninspiring!

So, sekedar pengingat buat mereka yang masih punya cinta tersembunyi pada ISI Yogyakarta (karena sayapun begitu) saya merasa perlu posting satu tulisan saya tertanggal 20 Juni 2001, yang saya sampaikan di depan mahasiswa semester awal Diskomvis, adik-adik kelas saya. Hari ini, 4 tahun telah berjalan dan saya melihat kondisi decline itu berlanjut. Jumlah mahasiswanya menurun terus, bahkan setelah dibuka gelombang 3. Tolong deh, kampus negeri sampai buka gelombang 3?

I see nobody - inside - cares much. Sebuah asset yang berubah jadi liabilitas. Saya bukan orang pesimis, tapi melihat kemundurannya akan sangat mungkin jika suatu hari nanti almamater saya akan tinggal monumen. Megah di masa lalu, tapi tak ada lagi sekarang. Saya tidak ingin mengucapkan selamat tinggal, saya memimpikan sebuah kebangkitan. Can we do something good about this? Share your comments, we'll start from this.

Selamat membaca:

Rekonstruksi Diskomvis: Mercon Kecil Untuk Memecah Kebekuan

Pada awalnya adalah paradigma. Darimana segala sesuatu dimulai dan selanjutnya akan dibawa kemana. Jika pertanyaan seperti ini diajukan ke Program Studi Disain Komunikasi Visual, maka bunyinya menjadi kurang lebih: seperti apa profil calon mahasiswa yang diharapkan oleh Diskomvis, serta akan dibentuk jadi apa?


Apakah dengan melacaknya dari hal-hal dasar macam begini, berarti kita memutar lagi jam sejarah? Jawabnya: tentu saja. Kita perlu melihat kembali titik awal sambil mengoreksi langkah kita yang terlewat, serta mempersiapkan pijakan demi pijakan di masa depan. Hanya dengan itu – lewat pengalaman yang hidup – kita tidak melenceng dari tujuan semula. Banyak hal yang tidak beres hari ini disebabkan oleh akar permasalahan yang tidak pernah terselesaikan. Mau tak mau kita harus berpacu dengan mesin waktu pemikiran, untuk menengok kembali jejak kita di belakang dan mengurai benang yang sudah terlanjur kusut.

Pada tulisan singkat ini saya hanya akan membahas secara garis besar beberapa hal yang saya lihat dan alami, serta beberapa perspektif kemungkinan yang bisa dilakukan untuk ke depannya.

Ilmuwan Seni Atau Seniman?

Apa yang Diskomvis (sebagai lembaga) inginkan dari ratusan orang yang antre memasukinya setiap tahun? Apakah mereka akan diproses menjadi seorang ilmuwan desain atau desainer saja (bahkan pengertian desainer inipun pastilah tidak sederhana). Dan kualifikasinya apa? Dari beberapa hal sederhana tentang proses seleksi mahasiswa baru misalnya, dimana materi yang diujikan meliputi teori, sketsa, gambar bentuk dan minat utama Diskom. Arahnya adalah mencari calon mahasiswa yang skill artistiknya tinggi dan kreatif. Lalu lihatlah output Diskomvis di dunia kerja: sebagian besar menjadi Art Director, atau jika kurang mujur Visualizer. Dan itu adalah posisi yang paling laku untuk anak ISI. Output-nya dianggap memiliki kualitas artistik yang handal.

Saya termasuk yang tidak setuju dengan pendapat bahwa anak ISI pasti handal di skill artistik sementara anak ITB matang di konsep. Alasan pertama adalah karena asumsi ini seperti dongeng nina bobok indah, yang membuat kita puas hanya dengan itu. Padahal seperti diuraikan di atas, lingkup profesional kita akan terbatas hanya di bidang kreatif (dalam pengertian yang sempit: disainer grafis). Kedua, yang akan dianggap capable di bidang skill artistik itu adalah per individu dan bukan institusinya. Ini artinya kembali ke individunya sendiri, seberapa intens ia bersedia menajamkan skill dan meningkatkan kemampuan profesionalisme-nya. Kampus hanya menyediakan sarana, tapi tak bisa menyulap seseorang tiba-tiba menjadi SDM kreatif yang handal. Ketiga, pada acara KMDGI 3 di Universitas Udayana (1996) terbukti bahwa konsep Perancangan Komunikasi Visual yang disusun Tim Diskomvis ISI dalam acara Workshop digunakan sebagai konsep perancangan tingkat nasional dari seluruh anggota FKMDGI. Artinya apa? Ini sekali lagi menjadi bukti bahwa kita juga ‘punya’ kapabilitas di bidang itu.


Lalu lihatlah lulusan Diskomvis ITB misalnya. Mereka melaju di awal kerja sebagai Art Director (sangat sedikit yang menjadi Visualizer) dan masih bisa berkembang lagi menjadi Creative Director, dan masih bisa berkembang lagi ke posisi lainnya. Tapi tidak dengan – sebagian besar - lulusan ISI. Posisi Art Director (beberapa Creative Director) adalah final position. Lalu mentok di situ. Posisi lainnya adalah pintu tertutup bagi mereka, selama ia tidak bersedia belajar lagi lebih luas dengan disiplin ilmu baru yang tak diperolehnya di kampus. Skill artisitik semata tak cukup untuk meng-handle tanggung jawab profesional yang complicated. Menangani kampanye promosi (di lingkup profesional) sebuah produk selama rentang 1 tahun misalnya, membutuhkan lebih dari sekedar pembuatan konsep perancangan dan art work desain. Di dalamnya terdapat manajemen waktu, pengelolaan SDM, lobbying, network, juga sistem operasional. Secara personal, semua ini membutuhkan basis intelektual yang memadai. ITB membekali mahasiswanya dengan kemampuan ini sejak awal seleksi mahasiswa baru lewat psycho test yang arahnya adalah penalaran dan logika, sekaligus kreativitas. Tidak saja dibutuhkan hasil desain yang bagus, tapi prosesnya juga harus runtut dan benar. Proses ini penting, terutama ketika menyangkut hal-hal dengan kompleksitas tinggi, misalnya kampanye yang melibatkan kerjasama dengan banyak pihak dan rentang waktu panjang.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa Diskom ISI-pun harus menggunakan metoda seperti itu untuk mengejar ketertinggalannya. Setiap perguruan tinggi punya visi dan misinya sendiri. Dan setiap ide perbaikan harus kontekstual. Tapi selalu ada nilai universal, yang berlaku di mana saja. Dan tantangan untuk rekonstruksi ulang bagi seleksi awal mahasiswa Diskom bisa jadi awal wacana baru. Dan ini bisa berlanjut dengan hal-hal lain, seperti sebaran mata kuliah yang lebih banyak memberdayakan mahasiswa daripada sekedar menghafal (saya masih mendengar hal-hal macam ini dari teman-teman kampus). Termasuk sumber bacaan yang kadaluawarsa dan minimnya referensi bagi mahasiswa Diskom. Dan ini tak perlu buru-buru karena segala sesutuanya harus empan papan. Seperti apa empan papan itu? Marilah kita diskusikan bersama-sama.

Badai Akreditasi


Masih ingat pada sekitar bulan November 1997, Prodi Diskomvis termasuk salah satu dari Tujuh Program Studi (di ISI terdapat 12 Program Studi) yang dinilai Tidak Terakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional? Dan pada saat itu semua elemen kelimpungan. Program Studi sibuk mengklarifikasi vonis tersebut. Dan mahasiswa lalu malas kuliah, berminggu-minggu. Situasi kampus sepi, tak ada denyut kehidupan. Diskomvis patah semangat, nglokro bersama-sama.

Barulah kemudian semua mulai membuka mata: bahwa ada yang tidak beres di program studi ini. Lalu introspeksi, perbaikan-perbaikan. Sehingga situasi Diskomvis saat ini, saya pikir sudah sedikit lebih baik. Suasana kondusif ini selayaknya dimanfaatkan maksimal oleh semua elemen untuk mulai bergerak memperbaiki diri. Lepas dari kelemahan struktur dan birokrasi yang sudah mendarah daging, saya ingin membuka peluang dengan mulai dari sisi internal mahasiswa. Saya mengalami saat Diskomvis terkena badai akreditasi itu. Betapa rapuhnya sebuah legitimasi atas institusi. Dan betapa banyak mahasiswa yang tak bisa mengambil jarak dengan legitimasi itu. Menyerahkan masa depannya dan pasrah bongkokan pada lembaga. Dan ketika sandaran itu lalu roboh, mereka bagai anak ayam yang kehilangan induk. Tak tahu kemana lagi akan melangkah.

Inti Universitas di Kepala

Saya meminjam kata-kata di atas dari Emha Ainun Nadjib. Bahwa universitas bermula di dalam diri manusia sendiri, di dalam kepalanya. Lalu hal semacam ini dilembagakan dan muncullah sekolah-sekolah. Dan logika semacam itu sudah terbolak-balik. Sekarang, sekolah dijadikan tumpuan untuk garansi masa depan dan modal mencari kerja. Tentu saja ini bukan merupakan kesalahan besar. Tapi jika kita menganggap nilai macam ini suatu ‘kebenaran’ dan diyakini maka efek biasnya akan bagai bola salju yang menggelinding. Seolah-olah, tanpa universitas, tanpa institusi perguruan tinggi tak pernah ada pemikiran ilmiah. Sehingga mitos perguruan tinggi (apalagi negeri) lalu disembah dan dijadikan rebutan oleh ribuan orang.

Kita adalah segelintir yang beruntung bisa masuk ke dalamnya. Tapi sesudah itu, so what? Sesungguhnya kampus (dan seluruh infra strukturnya) hanya media, sarana dan ia lebih bersifat sebagai passive object. Mahasiswa, dosen, karyawan adalah subject dari proses pembelajaran yang dinamis. Jika ini tidak terjadi dan masing-masing pihak sudah merasa puas 'hanya menjadi' bagian dari sebuah nama besar institusi (ISI Yogyakarta misalnya), maka selesailah sudah fungsi akademiknya. The game is over. Dan kita tak bisa berharap hal-hal baru, temuan-temuan yang bermanfaat bagi masyarakat akan tercipta dari sebuah institusi pendidikan yang tak punya kegairahan untuk bergerak me-manage dirinya sendiri ke masa depan.

Mari Membuka Mata

Betapa banyak potensi kreatif yang tersia-siakan di Diskom. Berapa banyak juara yang hanya bisa bergerilya dan survival sendiri-sendiri. Lihatlah Dagadu: cerita sukses tentang mereka adalah sindiran yang tajam di lahan yang merupakan kompetensi keilmuan kita. Anak Diskom yang sekarang berada di Dagadu menjadi ‘sekedar’ desainer. Tapi proses untuk mengolah ide kreatif sehingga menjadi perusahaan yang profitable adalah soal lain yang lebih complicated. Tidakkah kita tertantang untuk sampai ke sana?

Lalu lihatlah biro iklan yang punya nama di Yogya atau Jakarta. Lihatlah siapa yang berdiri di posisi puncak, membangun jaringan bisnisnya dari awal yang kecil sampai besar dan menyedot billing milyaran rupiah. Adakah alumnus Diskomvis ISI di sana? Bisa dihitung dengan jari. Dan kita, teman-teman semua memiliki potensi kreatif yang tidak disangsikan lagi. Masalahnya: siapa yang bersedia mengelola proses ini untuk membawa gerbong penuh manusia kreatif ini ke tujuan yang diharapkan tersebut?

Ini adalah proses yang tidak mudah, membutuhkan komitmen, kesabaran dan waktu. Semua pihak harus mulai me-rontgent dirinya sendiri, sehingga tak buru-buru menuding pihak ini atau pihak itu sebagai yang salah. Mahasiswa jangan berhenti hanya sebagai tukang protes, tapi tak siap mengelola diri dan kegiatannya. Saya mendengar dari beberapa teman tentang seperangkat fasilitas komputer yang dipercayakan kepada mahasiswanya kini tak tentu nasibnya. Dan pihak kampus juga jangan buru-buru paranoid dengan mencap mahasiswa yang tidak sealiran, berpandangan berbeda dan suka protes sebagai pengganggu ketenteraman kampus.

Saya yakin kita sama-sama berawal dari niat baik. Dan proses mempertemukan niat baik itu yang harus dikelola. Bahwa kemajuan hanya bisa didapatkan dari konflik yang sehat, bukan dari keseragaman pandangan yang buntutnya akan menciptakan ketententraman yang semu dan stagnasi.

Dengan tulisan singkat ini, saya bermaksud meledakkan mercon kecil untuk membangunkan ‘singa’ Diskomvis dari tidur panjangnya. Saya berharap teman-teman yang lain – yang memiliki sense of belonging yang lumayan tinggi - menyiapkan lagi beberapa ledakan lanjutan sehingga singa ini terbangun dan membuka matanya. Banyak hal yang telah terjadi. Ambang milenium telah lama terbuka dan kita tidak bisa jalan di tempat. Semua orang sudah bergerak ke masa depan.


Rekonstruksi keilmuan, pemaknaan ulang atas mitos, pembaharuan asumsi yang selama ini kita yakini dan pertahankan sebagai satu-satunya acuan nilai selayaknya mulai dilakukan, sebelum kita semua ketinggalan kereta. Dengan pertimbangan yang rasional, obyektif dan kedewasaan pemikiran.

M. Arief Budiman

Alumnus Diskomvis 1994
Yogyakarta, 20 Juni 2001

Pidato George S. Patton: Very Inspiring!



Saya ingin kamu mengingatnya bahwa tidak ada bajingan yang menang perang dengan mati bagi negaranya. Dia menang dengan membuat bajingan lawan mati bagi negaranya. Semua hal yang kamu dengar tentang Amerika yang tidak ingin berperang, ingin menghindari perang ini, adalah omong kosong. Orang Amerika suka berperang. Semua orang Amerika sesungguhnya menyukai sengat pertempuran. Ketika kamu masih anak-anak, kamu semua mengagumi juara bermain kelereng, pelari tercepat, pemain bola yang hebat, dan petinju paling brutal. Orang Amerika menyukai pemenang dan tidak akan menerima pecundang. Orang Amerika bermain untuk menang terus-menerus. Saya tidak akan mempedulikan orang yang kalah dan tertawa di neraka. Itulah Sebabnya orang Amerika belum pernah kalah dan tidak pernah akan kalah dalam perang. Pikiran tentang kekalahan menyebalkan bagi orang Amerika.

Pasukan adalah tim. Hidup, makan, tidur dan bertempur sebagai sebuah tim. Individualitas adalah setumpuk omong kosong. Para bajingan yang menulisnya untuk The Saturday Evening Post, tidak tahu apa-apa tentang pertempuran nyata, mereka lebih tahu tentang hubungan seks. Kita mempunyai makanan dan peralatan yang baik, semangat terbaik, dan orang-orang terbaik di dunia. Saya merasa kasihan pada para bajingan malang yang akan kita lawan. Kita tidak hanya akan menembak bajingan-bajingan itu, kita akan mengeluarkan isi perut mereka dan menggunakannya untuk menggemuki rantai tank kita. Kita akan membunuh para bajingan Jerman yang menjijikkan itu dengan keranjang gantang (keranjang takar).

Beberapa dan kamu bertanya-tanya apakah kamu tidak akan takut menghadapi berondongan peluru. Jangan khawatir soal itu. Saya dapat meyakinkan kamu bahwa kamu semua akan menyelesaikan tugasmu. Nazi adalah musuh. Seranglah mereka dengan sekuat tenaga. Tumpahkanlah darah mereka. Tembaklah mereka di perut. Ketika kamu memasukkan tangan ke dalam sesuatu yang hancur dan lengket, yang sesaat sebelumnya adalah wajah sahabatmu, kamu akan tahu apa yang harus dilakukan.

Ada satu hal lagi yang saya ingin agar kamu ingat. Saya tidak ingin menerima pesan yang mengatakan bahwa kita bertahan di posisi kita. Kita terus-menerus maju dan kita tidak berminat menahan sesuatu kecuali musuh. Kita akan terus-menerus mendera dan menendangnya dengan keras. Kita akan memperlakukannya seperti kotoran manusia yang melewati mulut kloset.

Ada satu hal yang dapat kamu katakan ketika pulang ke rumah. Tiga puluh tahun dari sekarang, ketika kamu duduk di dekat perapian, bersama cucumu yang duduk di lutut dan dia bertanya, apa yang kakek lakukan dalam Perang Dunia Kedua yang besar itu?Kamu tidak perlu memindahkan cucumu ke lutut orang lain, terbatuk, dan berkata, Aku membersihkan kotoran di Louisiana.

Saya tidak seharusnya mengomandani pasukan ini. Bahkan saya tidak seharusnya berada di Inggris. Biarlah bajingan pertama yang menemukan saya adalah pasukan Jerman terkutuk. Saya ingin mereka melihat saya dan berkata. Ah! Itu Pasukan ketiga dan bajingan Patton lagi!

Baiklah, kamu para bajingan, kamu tahu perasaan saya. Saya akan bangga memimpin Anda para pemuda yang baik dalam pertempuran di mana pun, kapan pun. Sekian.

-----------------------------------------------------------------------------

Catatan: Saya telah menonton film jenderal besar ini lebih dari 5 kali dan gak bosen-bosen juga. Selalu ketemu hal-hal baru setelah memperhatikan detailnya lebih teliti, seperti ketika saya nonton 13th Days, Training Day atau Jerry Maguire. Sebagai pemimpin, Patton emang gak sempurna. Tapi banyak hal luar biasa telah lahir dari keteguhan dan kekerasan hatinya, juga arogansinya yang unik. I learn a lot from him.)

Marriage

Marriage ends every night after making love,
and must be rebuilt every morning before breakfast


- Gabriel Garcia Marquez -

Kisah Seekor Kadal

Dapat postingan cerita ini dari teman di milis. Katanya, ini sebuah kisah nyata yang terjadi di Jepang. Tapi nyata atau tidak sih, menurutku gak penting. Yang terpenting justru moral ceritanya sebagai sarana kita belajar untuk lebih memahami hidup. Jika menurut Anda menarik, tolong di-comment yach. Jika ndak menarik, di-comment juga dapat pahala kok. Begini ceritanya:

Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba merontokkan tembok. Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong di antara tembok yang terbuat dari kayu. Ketika tembok mulai rontok, dia menemukan seekor kadal terperangkap di antara ruang kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah paku.

Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek paku itu, ternyata paku tersebut telah ada di situ 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun.

Apa yang terjadi? Bagaimana kadal itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun?

Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikitpun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal. Orang itu lalu berpikir, bagaimana kadal itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada paku itu!
Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan kadal itu, apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan. Kemudian, tidak tahu darimana datangnya, seekor kadal lain muncul dengan makanan di mulutnya...astaga!!

Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor kadal lain yang selalu memperhatikan kadal yang terperangkap itu selama 10 tahun. Sungguh ini sebuah cinta...cinta yang indah. Cinta dapat terjadi bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor kadal itu. Apa yang dapat dilakukan oleh cinta? Tentu saja sebuah keajaiban.

Bayangkan, kadal itu tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya selama 10 tahun. Bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu dapat memiliki karunia yang begitu mengagumkan.

Petakumpet di Concept




Transkrip wawancara dari Majalah Desain Grafis Concept Vol 2 Edisi 08, Desembar 2005 (sebelum diedit):

Jabatan Mas yang berlaku saat ini sesuai di Profile (Marketing Director) atau di Kartu Nama (Bussines Development Director?)

Jabatan terakhir saya saat ini di Bussines Development Director. Terakhir kali pegang Marketing Director, Juli 2004. Sebelumnya di Creative Director, terakhir 2001.

Kami menilai tindakan Mas untuk kembali membangun usaha di kampung halaman sendiri (dan bukan di Jakarta yang sudah penuh pembangunan) sebagai sebuah tindakan yang berani, terpuji dan patut dicontoh. Mohon beri penjelasan mengenai...

Apa saja kegiatan bisnis yang dulu Anda lakukan di Jakarta?

Saya magang di PT. Lingkom Ad. Saya agak lupa waktu persisnya tapi di magangnya di awal 1998 dan jadi freelance designer di akhir 1998. Hanya sekitar 3 bulanan.

Apa penyebab Anda kembali ke Yogya?

Sebenarnya saya gak punya tujuan luhur di awal, atau tiba-tiba jadi pemberani. That�s not it. Seperti Diponegoro juga tidak pernah bercita-cita jadi pahlawan. Hanya gara-gara rumahnya dipasang pathok ama Belanda, trus dia marah lalu memberontak. Selanjutnya kita mengenal Diponegoro sebagai pahlawan.

Jogja menarik saya dengan cara yang aneh, karena pada tahun 1994 saya juga diterima di Desain Grafis ITB, yang lebih mentereng ketimbang Diskomvis ISI Jogja. Tapi saya pilih ke Jogja meskipun Ayah saya minta ke Bandung. Saya merasa ditakdirkan untuk hidup disini, saya merasa nyaman dan ingin mengembangkan potensi kreatif yang belum termaksimalkan di sekitar saya. Jakarta udah banyak orang pinter, tapi dengan stay disini kita bisa jadi sparring partner-nya temen-temen Jakarta. Saya percaya ide besar bisa tumbuh dimana saja, tak cuma dari perusahaan besar. Ide itu gratis, asal kita mau melihat segala sesuatu yang biasa dengan cara yang berbeda.

Apalagi internet telah menihilkan jarak. Komunikasi kita malam ini adalah bukti, sepertinya kita hanya tetanggaan saja, kayak di sebelah ruangan. Padahal Anda di Jakarta, saya di Jogja.

Kesulitan & kemudahan apa yang Anda alami/nikmati ketika memulai usaha ini di Yogya?

Kesulitannya banyak. Tapi saya nggak mau pusing dengan faktor kesulitan yang ada, saya lebih seneng melihat faktor positifnya. Kesulitan itu satu kesempatan buat kita untuk naik kelas. Kesulitan itu hanya bumbu, bukan substansi. Saya percaya tema iklannya Adidas, impossible is nothing.

Jogja mendukung penciptaan ide banyak sekali, kota ini makin sibuk dan tambah macet tapi juga menyediakan ruang hening di sela kesibukannya. Kita bisa makan minum di angkringan dan nongkrong 5 jam hanya dengan 10 ribu perak. Bangunlah jam 3 pagi dan gudeg hangat ada dimana-mana. Atau merenung di mesjid, gratis dan mengandung pahala. Saya pernah dapat ide ketika istirahat di sebuah kuburan di bawah pohon yang sangat rindang.

Btw, saya kurang bisa bercerita apa saja kelebihan Jogja, banyak sekali dan nggak habis-habis. Anda harus mengalaminya sendiri. Atmosfir kreatif disini kuat sekali saya rasakan.

Punya saran untuk putera-putera daerah yang menggeluti dunia desain grafis?

Hidup harus punya mimpi. Punya tujuan. Dan komitmen untuk melakukan apapun yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Desain grafis itu hanya alat, cuma jembatan. Yang penting buat saya, apapun keahliannya: harus bermanfaat buat orang lain. Menyumbang nilai positif buat society. Rahmatan lil 'alamin. Dan jangan lupa terus belajar. Seperti kata Steve Jobs, stay hungry stay foolish. Tetaplah merasa lapar, tetaplah merasa bodoh.

(Thanx buat Concept yang telah nyiapin 7 halaman meliput hal-hal kecil yang kita lakukan di Jogja, it means a lot to us here)

Mmmm...

Di planet ini cukup tersedia segala kebutuhan bagi setiap orang, tapi tidak bagi mereka yang serakah.
- Mahatma Gandhi -

Friday, December 16, 2005

Thank God



Embun memberi nafas pada hidup, menyejukkan hari-hari kusut yang telah kita lewati..

Tuesday, December 13, 2005

Watch This Man!!!



He said: It's not easy to follow a manager who thinks different.

I can feel the atmosphere of competition in his strong eyes, he won't accept to be a loser, whatever it takes. There's no second place in his mind, only the first. He just loves to be the winner and hates others. His name is Jose Mourinho, a great name I will remember. If someday I could meet him, maybe I will give him my signature if he asks me to. (sources photo: www.theage.com.au)

Monday, December 12, 2005

Yang Diem Malah Untung

Di milis CCI, orang-orang ramai ributin logo barunya Pertamina. Pro dan kontra, yang kadang dihubungin buruknya nasib rakyat atas naiknya BBM, segala macem. Heran juga saya, kasus logo baru aja segitu hebohnya! Sementara, Landor (brand agency) yang bikin logo, diem-diem aja dan rekeningnya nambah 2,55 milyar rupiah.

Susah jadi orang Indonesia! Mau-maunya ngributin pepesan kosong.. Sedih deh!!!

Belajar Dari Boediono

Pagi ini saya baca Tempo, wawancaranya Boediono Menko Ekuin yang baru. Tidak mudah menjadi orang baru dimana semua harapan yang membubung tinggi diletakkan di pundaknya. Tempo malah menyebutnya sebagai euphoria harapan. Jika tak terpenuhi, akan memacu gelombang kekecewaan. Tapi dari wawancara itu, satu hal yang kucatat: tidak ada ekspresi berlebihan yang muncul dari Pak Boed. Dia menanggapinya dengan biasa-biasa aja, tanpa rasa khawatir atau justru rasa bangga yang berlebihan. Dia bilang: yang penting kepercayaan pasar, market trust. Logika pemecahan masalah dan personal approach itu kuncinya, bukan hitungan angka-angka.

Interesting! Dari dulu saya merasa gak begitu nyaman dengan masalah keuangan, bahkan sering gak peduli karena alergi dengan angka yang berderet dalam kolom dan tabel yang visualnya gak friendly. Tapi Pak Boed yang jagonya ekonomi makro malah bilang jangan mendahulukan hitungan angka-angkanya, tapi logika berfikirnya. That's it! Jika logika pengaturan keuangannya bener, tentu lebih mudah cari orang yang bisa menerjemahkannya dalam hitungan angka-angka. Dan gak perlu paranoid lagi baca laporan keuangan.

Btw, saya paling benci laporan dimana banyak angka dalam kurungnya, itu artinya minus! Alias rugi! (tahu artinya juga barusan). He he he...

Di tangan yang tepat, semoga ekonomi Indonesia bisa membaik sehingga makin banyak rakyat bisa merasakan manfaatnya punya pemerintah untuk mengurus bangsa ini. Good luck, Pak Boed!

My Best Side

Sunday, December 11, 2005

Whatever You Say

Orang bilang foto ini mirip saya, tapi sebodo amat...

Lindungilah Kami Dari Iklan Jelek

Dapat picts ini dari milis CCI, very inspiring!

Pirates Credo

Big artists copy, great artists steal
- Picasso repeated by Steve Jobs reapeated by Bill Gates -

Impossible is Nothing!

Begitu tebal kabut menutupi mataku
Begitu banyak suara sumbang mengganggu langkahku
Begitu banyak nafsu dendam iri dengki takut dan ngeri menggerogotiku

Perjalanan ini begitu jauh dan melelahkan
Hampir tak kuat lagi melangkah
Tubuhku habis seolah terhisap bumi

Tapi kakiku yang melepuh terus bergerak

Selangkah lagi... lagi... lagi...
Di belakang, kanan dan kiri jurang membentang
Tak ada jalan pulang

Seribu luka kupanggul dengan darah mengucur

Selangkah lagi... lagi... lagi...

Siaplah Berubah, Tetaplah Tersenyum

Malam ini gak sengaja buka arsip-arsip lama nemu tulisan lucu di awal-awal Petakumpet sebelum muncul embel-embel PT di depannya. Sebuah catatan ringan, tertanggal 15 Juni 2002. Saya posting lagi supaya kita belajar dari sejarah, termasuk benar dan salahnya:

Tidak terasa perusahaan kecil ini telah menjalani dunia kreatifnya lebih dari 2 tahun, atau kalau mau dipas-pasin: 2 tahun 5 bulan 15 hari. Dari studio kecil berisi gerombolan manusia yang jarang mandi menjadi sebuah komunitas yang mulai terstruktur dengan jadwal kerja dan gaji yang mulai bisa dirutinkan. Dari order sekelas ucapan terima kasih dan beberapa puluh ribu menjadi perusahaan dengan pencapaian omzet lebih dari 1 milyar (terhitung sejak September 1999 - Juni 2002).

Dan betapa kita harus bersyukur atas semua itu: dengan terus bekerja dan terus berfikir bagaimana membuatnya bisa lebih berkembang, lebih besar, selalu siap balapan dengan perusahaan kompetitor yang – biasanya - lebih besar, tidak jalan di tempat apalagi atret ke masa lalu.

Kita mengadakan rapat agak serius terakhir kalinya adalah ketika menerima 3 staf baru, 25 Februari 2002. Yang lebih serius sebelumnya di Kaliurang: waktu Rapat Tahunan, 4-5 November 2001. Betapa jarang ya kita rapat? Apalagi dengan snack selengkap ini (hmmmm…).

Dan dari 3 staf baru itu, sekarang yang tersisa tinggal 1. Kita harus bersyukur dengan itu, sepenuhnya. Mereka yang tetap tinggal atau memilih meninggalkan tempat ini semoga akan mendapatkan yang terbaik buat dirinya sendiri maupun buat perusahaan ini. Ini adalah siklus yang sangat wajar di perusahaan manapun, di belahan dunia manapun. Tidak mudah memang menerima hal-hal buruk dengan besar hati, tapi untuk menjadi dewasa dan kuat: perusahaan ini harus mengalaminya. Dan keyakinan saya mengatakan: kita akan tetap survive dengan cobaan kecil ini. Dan kita akan menjadi lebih kuat.

Siapa saja akan masuk dan keluar dari perusahaan ini: setelah belajar dan menjadi lebih pintar karenanya. Dan selalu begitu. Perusahaan yang baik akan selalu menghargai orang-orangnya yang akan bekerja, sedang bekerja maupun yang pernah bekerja di perusahaan itu dengan perlakuan yang baik. Dan kita mulai dari sini, dari perusahaan kecil ini.

Besok 7 Juli 2002, kita akan kedatangan Bagoes setelah kepergiannya yang lebih dari 2 tahun ke Cape Town. Sesudah bersama Itok dan saya menyiapkan sedikit dasar – aslinya baru setengah mateng sih – untuk sistem manajerial Petakumpet ke depannya. Nah, Bagoes akan kembali sebagai Managing Director. Saya hanya ingin memberitahu dan menyiapkan teman-teman sekalian di sini untuk sebuah perubahan di perusahaan. Saya belum akan tahu sebesar apa perubahan itu akan terjadi – diskusi tentang itu belum selesai – tapi intinya: we need to build a better and faster company. Tidak ada yang perlu ditakuti. Manusia yang ingin maju selalu mencintai perubahan dan matanya berbinar untuk menyongsongnya. Tiap hari umur kita bertambah, pengalaman kita semakin luas, tujuan hidup kita semakin jelas: selalu ada perubahan dalam diri kita karena seperti itulah hukum alam.


Let’s face it, together. Let’s make us better persons. Let’s build – again – our great teamwork.

Tidak ada hal buruk yang akan terjadi jika kita bisa membangun komunikasi yang baik dengan saling mempercayai satu sama lain: a great teamwork is built by trust. Saya tahu betapa beratnya melaksanakan itu dalam kenyataan, tapi saya yakin jika kita sudah mencoba menerapkannya, hasilnya pasti akan sangat dahsyat.

Di rapat sore ini, saya ingin kita semua berdiskusi dengan sangat asyik. Mengingat saya dan Itok tidak begitu hobi rapat, saya berharap teman-teman memanfaatkan semaksimal mungkin sore yang indah – dan jarang-jarang - ini untuk mengeluarkan semua uneg-unegnya, complain, kritik atau apapun yang bisa membuat perbaikan bagi perusahaan ini, buat nasib teman-teman semua, minimal bisa membuat diri kita sendiri lebih bahagia.

Saat ini, saya tidak akan presentasi hal-hal teknis menyangkut program dan segala macam, semuanya ada di tulisan saya yang satu lagi. Saya cuma ingin menitipkan sebuah keyakinan penting supaya kita bisa terus jalan ke depan dengan kepala tegak dan mata bersinar:

“The Future belongs to those who believe in their beauty dreams.”
(FD Rosevelt)

Mari bermimpi dan terus bekerja keras. Hidup ini akan terlalu membosankan jika diisi bangun pagi yang terpaksa karena harus masuk kerja setiap pagi, menjalankan tugas demi gaji semata lalu pulang kelelahan dan istirahat panjang di rumah saking capeknya. Lalu tidur dengan banyak pikiran karena merasa tertekan di tempat kerja. Besoknya berulang. Terus-menerus seumur hidup. Betapa celakanya!

Maka marilah bermimpi. Saya punya stok mimpi yang sangat banyak, saya akan terus menambahnya setiap hari. Yang benar-benar bermanfaat buat orang banyak akan saya coba presentasikan ke teman-teman – dan sangat boleh ditolak jika tidak kontekstual - untuk kita wujudkan bersama-sama.

Terima kasih atas perhatian dan kasih sayangnya. Semoga kita masih akan bersama-sama ketika jumlah kita tidak lagi belasan orang seperti sekarang tapi mungkin lebih dari seratus orang.

Jika perusahaan ini makin maju dan besar, seharusnya teman-temanpun akan menjadi maju dan besar bersamanya. Jika tidak, maka pasti ada yang salah dengan pengelolaan perusahaan ini. Itu saatnya teman-teman berteriak untuk meluruskannya, mengkritik atau berdemo. Jika kelak perusahaan ini dikelola oleh orang-orang jujur dan mencintai kemanusiaan, maka biaya protes dan demo itu akan ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan.

Dan tetaplah selalu tersenyum. Tetaplah menjaga nyala semangat dan optimisme itu supaya tidak mudah padam ketika ada angin meniup atau badai menerjang. Semoga hidup kita menjadi lebih indah dan lebih baik dengan itu.


The Creativity is Out There

Bila ingin berkembang, jangan takut dianggap konyol dan bodoh
- Phititis, seorang filosof -


Saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah ide sederhana: tentang bagaimana mengubah pola hidup sehari-hari yang terlanjur dianggap biasa dan wajar. Memberikan muatan dan nilai-nilai baru, melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Atau mengeluarkan pikiran kita dari kebiasaan lama menuju ke sebuah atmosfer yang bener-bener fresh. Yang bisa membuka katup-katup ide, menciptakan hal-hal baru yang menarik, yang berbeda.

Karena di situlah sebenarnya ruang-ruang kreativitas baru bisa dibangun. Di situlah ide-ide besar yang bisa mempengaruhi ratusan juta orang di seluruh dunia punya kemungkinan terbesar untuk diciptakan.

Mengambil Jarak

Mari melihat hidup kita, pekerjaan kita, teman-teman kita, lingkungan dan budaya kita: dengan memakai sudut pandang lain, bahkan yang belum pernah kita perkirakan sebelumnya. Mari melihat rumah kita dari sudut pandang seekor burung elang (bird’s view), sudut pandang katak (frog’s view) atau bahkan melihatnya dari permukaan bulan. Di mana rumah kita tertutup atmosfer setebal ratusan kilometer dan menghilang di balik milyaran titik di muka bumi. Menjadi setitik debu di hamparan padang pasir.

Archimedes menemukan hukum tentang massa jenis di sebuah bak mandi, bukan di ruang kuliah atau laboratorium. Ia lari telanjang sambil berteriak,”Eureka!” Orang-orang yang melihatnya menganggap dia gila, tapi saat ini sekolah-sekolah ‘untuk orang waras’ di seluruh dunia dengan sadar menggunakan rumus penemuannya. Van Gogh potong kuping, setelah dia meninggal karyanya malah jadi masterpiece dan dibeli orang dengan harga paling mahal. Isaac Newton mendapatkan teori gravitasinya ‘hanya’ dengan mengamati jatuhnya buah apel.

IDEO, sebuah perusahaan desain paling inovatif di Amerika mendapatkan ide-ide besarnya bukan dari lapangan bermainnya sendiri melainkan dari tempat pembuangan sampah, toko mainan anak-anak, supermarket dan taman kanak-kanak. Bahkan dari jalanan.

Ide bisa berasal dari mana saja. Asal kita jeli mengamatinya, dan tidak sekedar mengambil ide itu mentah belaka. Mengutip Steve Jobs, kita harus membentuk kembali ide-ide dasar dari realitas alam itu dengan pemikiran dan kreativitas kita. Dengan itu kita bisa menandai sejarah, tidak sekedar larut di dalamnya. Proses penemuan teori gravitasi dengan apel jatuhnya Newton malah menjadi inspirasi bagi Jobs untuk menamai perusahaannya Apple Computer.

Dengan mengambil jarak dari persoalan rutin sehari-hari, kita bisa mencerna substansi dari hiruk pikuk kegiatan yang kita lakukan tanpa henti. Makan, minum, tidur, berangkat ke kantor, ngejar bis kota, terjebak macet di jalan, dan seterusnya. Dengan menarik nafas panjang dan merenungkannya, kita bisa membedakan antara pekerjaan yang penting dan pekerjaan yang mendesak. Yang substansial dan aksesoris. Dengan jeda dan istirahat, otak kita akan terasah lagi kemampuannya dan tidak cepat aus karena terforsir setiap saat. Kemampuan membedakan dua hal tersebut akan sangat berpengaruh pada pilihan tindakan-tindakan kita selanjutnya.

Melihat Potensi, Tidak Sekedar Realitas

Tuhan menganugerahi kita sepasang mata yang indah, untuk mengeja obyek-obyek dalam jangkauan pandangan kita. Jika kita bisa memaksimalkan fungsi ini, kita akan mendapatkan banyak sekali pelajaran dan keindahan. Mata adalah elemen terpenting estetika, dengannya kita bisa menikmati seribu warna yang menghias alam semesta.

Tapi ada baiknya jika kita tidak menggantungkan sepenuhnya penilaian atas pandangan mata yang bersifat fisik ini. Karena pandangan visual ini bukan satu-satunya. Lagipula kemampuannyapun – karena sifatnya yang physical – menjadi terbatas. Mata hanya mampu melihat realitas: menyerap kenyataan seperti adanya.

Ada sebuah pandangan yang bisa menjangkau lebih jauh, yang bahkan melampaui ruang dan waktu. Para psikolog menyebutnya pandangan pikiran. Pandangan ini bersifat spiritual dan hanya melihat potensi (Dr. David J. Schwartz, The Magic of Thinking Success) Pandangan ini adalah modal terbesar bagi seseorang untuk memiliki sebuah visi yang jelas di masa depan. Adalah kemampuan melihat tidak saja dalam ruang yang berbeda, tapi juga waktunya. Seorang visioner mampu melihat 5 atau 10 tahun ke depan, membayangkan kondisi ideal sampai detailnya dan membuat rencana-rencana sistematis untuk mewujudkannya. Seorang visioner adalah kreator yang antisipatif, bukan seorang follower yang reaktif.

Sampah yang menggunung, antrian di bank, penumpang yang penuh sesak di bis kota adalah teks bebas yang bisa diapresiasi secara berbeda atau bahkan bertolak belakang oleh seorang normal dengan pandangan visual belaka dan seorang visioner dengan pandangan pikiran.

Yang pertama akan melihatnya biasa saja. Tidak ada sedikitpun yang membekas di pikirannya. Yang kedua akan melihatnya sebagai peluang dan kesempatan. Dalam pandangan seorang visioner, setumpuk sampah bisa menjadi berton-ton pupuk atau karya seni instalasi. Antrian di bank bisa dimanfaatkan untuk membaca buku atau mengamati perilaku orang. Penumpang sesak bisa jadi ide iklan minuman ringan atau minyak wangi.

Peluang-peluang emas seperti ini tidak terlihat oleh mata biasa, lalu lenyap dan berganti pandangan lain. Datangnya tanpa peringatan, perginyapun tanpa kesan.

Mari Menabrak Pagar

Anda tertarik untuk melatih pandangan pikiran? Anda pengin jadi midas yang setiap sentuhannya berarti emas? Satu hal yang pasti: pandangan pikiran itu bukan bakat bawaan lahir, tidak berhubungan dengan faktor keturunan. Pandangan itu adalah keahlian yang bisa diasah dan dilatih. Dengan keberanian, lalu ketekunan dan konsistensi.

Tidak ada kesuksesan ala mie instant. Padi tidak akan menguning sebelum waktunya dan ayam tidak mungkin bertelur sebelum cukup umurnya. Pandangan pikiran juga masuk dalam hukum alam seperti itu: waktu memegang peranan sangat penting. Setiap detik dan menitnya.

Keberuntungan akan lebih sering datang pada orang yang terlatih dan telah menyiapkan dirinya. Tidak setiap orang pernah melihat bintang jatuh, tapi saya yakin jika ada yang bersedia menunggunya dengan teratur, bersedia mempelajari pola bintang jatuh dan mempunyai sebuah teleskop: dia akan menyaksikan lebih banyak bintang jatuh. Jika melihat bintang jatuh dianggap perlambang sebuah keberuntungan, maka melihatnya berkali-kali akan menjadikannya mukjizat.

Mulailah dengan menabrak kebiasaan-kebiasaan lama yang telah dianggap kebenaran yang mutlak dengan sadar dan terencana. Siapkan pemberontakan kecil-kecilan. Dan pertahankan orisinalitas keyakinan itu. Dengan konsisten. Karena pasti akan banyak orang yang dengan senang hati mengatakan padamu betapa bodohnya kamu dengan pilihan tindakan itu. Akan banyak orang yang memprediksikan kamu akan gagal, meskipun mereka sendiri belum pernah mencoba sedikitpun. Resikonya memang tidak ringan, karena imbalannya juga tidak kecil.

Saya punya koleksi beberapa ide nabrak pagar. Misalnya, pernah membuat sketsa/layout desain di atas sebuah kuburan? Pernah merenungkan sebuah ide di atas pohon kelapa? Jika Anda jagoan menggambar dengan tangan kanan, pernahkah menggambar dengan tangan kiri? Menulis sambil menutup mata? Berjalan normal dalam hujan lebat melewati orang yang sedang berlarian atau berteduh? Makan nasi dengan lauk buah-buahan? Minum kopi sambil – sorry – buang air besar?

Saya hanya ingin membuka ruang seluas-luasnya. Lupakan dulu tentang sopan santun dan etika. Atau aturan baku lainnya. Tabrak saja dulu. Bebaskan semua belenggu yang telah mencengkeram otak kita sejak kecil. Rasakan imajinasi yang melayang bebas seperti burung terbang mengukur tingginya langit. Rasakan segarnya udara yang memenuhi ruang tak terbatas. Rasakan kaki-kaki yang berlari melesat ke masa depan dengan gerakan yang luar biasa ringannya.

Apakah kebebasan yang Anda rasakan dalam pikiran itu membuat Anda menjadi senang, bahagia, inspired atau justru malah takut?

Keraguan Adalah Awal yang Baik

Meninggalkan kebiasaan lama memang tidak mudah. Selalu ada keraguan ketika memutuskan untuk berubah: keluar dari zona kenyamanan yang biasa kita nikmati setiap hari dan menuju wilayah baru yang asing dan tak terpetakan. Ini adalah sebuah gejala yang wajar, sewajar adik bayi yang demam ketika mendapat suntikan vaksin. Jika keraguan atau ketakutan mulai menyerang, maka tersenyumlah. Keraguan akan mematangkan pertimbangan kita sebagai salah satu mekanisme internal control. Setelah itu, tutuplah semua pintu yang bisa membuatmu menoleh ke belakang. Bakar semua perahu penyelamatmu seperti Jabal Tariq. Sehingga satu-satunya jalan yang tersisa buatmu hanyalah ke depan. Dan teruslah melangkah.

Se-simple itu. Meskipun tentu saja tidak semudah ketika menuliskannya. Tapi yang jelas, segala sesuatunya rasional dan bisa dinalar dengan akal sehat.

Tapi saya kok yakin tidak banyak orang bersedia mengambil resiko itu. Akan lebih mudah jika memilih menjadi safety player. Akan ada lebih banyak orang yang mengaku pintar mencari seribu alasan kenapa ini atau itu tidak bisa dilakukan, ketimbang mencari satu saja alasan untuk meneruskan langkah ke depan.

Dan masa depan – seperti masa kini dan masa lalu – juga mempunyai hukum alamnya sendiri.

Para komentator, tukang gosip dan follower selamanya hanya akan menjadi buih yang riuh di permukaan. Banyak dan tersebar dimana-mana tapi tidak punya peranan apa-apa. Ributnya minta ampun, tapi substansi pembicaraannya kosong belaka. Ada maupun tidak adanya sama saja.

Landskap masa depan ditentukan oleh sekelompok minoritas yang ide-ide besarnya semula dianggap asing, tidak wajar bahkan gila. Mereka yang terus maju ke depan karena keyakinan yang kuat, ketika orang-orang di sekitarnya tertawa mencemoohkan. Orang-orang langka seperti ini akan menjadi gelombang yang tidak terhentikan. Yang tidak saja akan menghempaskan milyaran buih ke pantai, tapi juga meruntuhkan karang-karang yang terjal.

Kekuatan kreativitas akan muncul dalam jumlah yang sangat besar justru di luar bidang yang biasanya kita akrabi. The truth is out there, kata X-Files. Diplesetkan menjadi the creativity is out there. Menunggu kita untuk mengolahnya menjadi output kreatif yang artistik dan inspired. Syukur-syukur sellable. Menjadikannya modal tak ternilai untuk melangkahkan diri menyerang masa depan.

Seorang bijak pernah berkata, resiko terbesar dalam hidup adalah tidak pernah berani mengambil resiko. Dan keteguhan atas sebuah visi di masa depan – kata Goethe – menyimpan kekuatan, kejeniusan dan keajaibannya sendiri. Keberuntungan akan datang bahkan tanpa pernah disangka-sangka. Sejarah banyak mencatat kebenaran kata-kata sederhana ini, jika kita mau belajar darinya.

Kecuali jika tidak.

Time's Up!

Apa yang kau bayangkan ketika suatu hari ada orang asing - belum pernah kau temui sepanjang umurmu - berada di depanmu dan berkata bahwa waktu hidupmu di dunia ini sudah habis. Artinya: sebentar lagi kamu harus pergi, menuju kematian. Apa yang kau rasakan jika itu benar-benar terjadi? Aku pernah merasakan itu, meskipun hanya dalam mimpi. Tapi jika harus memilih, maka seluruh isi dunia inipun takkan ada harganya dibandingkan hidup yang kita nikmati saat ini. Tanpa persiapan yang cukup - trust me - datangnya kematian sungguh sangat menakutkan...

Saturday, December 10, 2005

The Man Behind Digital Mask

Lahir di Rembang, 21 Maret 1975. Berbakat bandel dan keras kepala sejak kecil, selain hobi menggambar dan baca bukunya yang emang keterlaluan. Mengaku punya koleksi buku agak lengkap dari Business Winning-nya Jack Welch sampai Iqra’ jilid 1-6 lengkap. Kadang masih sempat menulis artikel dan beberapa potong puisi, di sela-sela kesibukannya bermimpi. Katanya, pekerjaan paling indah itu bermimpi dan pekerjaan paling berarti itu mewujudkan impiannya.

Bermodal feeling, pindah ke Jogja 1993 dan ‘ngicipi’ kuliah 1 tahun di Fakultas Pertanian UGM. Alumnus Diskomvis FSR ISI Yogyakarta 1994 yang – karena alasan kesulitan ekonomi – terpaksa cumlaude ini dikutuk menjadi mahasiswa teladan tingkat Institut dan wisudawan terbaik 1999. Duka yang berlanjut, karena sampai saat ini ia tak pernah menggunakan ijazah sarjananya itu. Mimpinya untuk membangun Petakumpet menjadi the most admired company in the world dan dimuat di sampul Majalah Fortune dimulai dengan membeli majalah bisnis internasional itu tiap terbit, dengan eceran. Perusahaan yang didirikan bersama teman-teman seangkatannya di Diskomvis FSR ISI Yogyakarta itu terpilih sebagai Agency of The Year di Pinasthika Ad.Festival 2003, 2005 dan 2006. Baru-baru ini Petakumpet juga terpilih sebagai 9 Finalis UKM Terbaik se-Indonesia dalam Dji Sam Soe Award 2006.

WORKS: Desainer Grafis Petakumpet Rancang Grafis (1995-1999), Desainer Grafis Ruedian Desain Grafis (1996-1997), Freelance Graphic Designer Lingkom Ad. Jakarta (1999), Creative Director/HRD Director Petakumpet AIM (1999-2001), CEO (Chief Executive Officer) Egrang Production (2001), Marketing Director/HRD Director Petakumpet AIM (2001 - sekarang) dan Vice President Petakumpet AIM (2001–2003) / Marketing Director PT. Petakumpet (2003-2004) / Business Development Director PT. Petakumpet (2004-2005) / Managing Director PT. Petakumpet (2006-sekarang)

ACTIVITIES:


1993, Juara I Lomba Kartun Nasional Teknologi Menjelang Abad 21, FTP UGM Yogyakarta

1994, Juara II Lomba Karikatur Lingkungan Hidup FT UGM Yogyakarta / Juara Favorit Lomba Karikatur Gema Koperasi UI Jakarta / Juara II Lomba Karikatur RDK UGM Yogyakarta / Juara III Lomba Poster AIDS, Lentera PKBI DIY / Juara II Lomba Karikatur Pers Mahasiswa Se-Jawa, Majalah Ekonomika UII Yogyakarta / Anggota Delegasi Diskomvis pada KMDGI 2 di ITB Bandung

1995 Pameran Bersama Diskomvis’94 & D3 Advertising UGM di Bentara Budaya Yogyakarta / Anggota Tim Workshop pada KMDGI 3 di Universitas Udayana, Bali

1996 Pameran Dies Natalis ISI XII

1997, Juara Favorit Lomba Kreasi Iklan Media Cetak, Advertising Expo, D3 Advertising UGM Yogyakarta, Bersama Ikhlas Komik Juara I Lomba Cergam Nasional 3 (Komik Kecoa), Depdikbud Pusat Jakarta

1998, Bersama Ikhlas Komik Juara II Lomba Cergam Nasional 4 (Komik Tropaz), Depdikbud Pusat Jakarta / Pameran Komik dan Animasi Nasional di Gedung Seni Rupa Depdikbud, Jakarta / Pameran Dies Natalis ISI XIV

1999, Bersama Aliansi Komik Independen Juara I Lomba Cergam Nasional 5 (Komik WEK) Depdikbud Pusat Jakarta / Bersama Ikhlas Komik Juara Harapan I Lomba Cergam Nasional 5 (Komik Tekyan) Depdikbud Pusat Jakarta / Bersama Tim Jamiro Juara I Lomba Komik Nasional LIMPAD Semarang / Pameran Komik Dalam Nuansa Sastra di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Karya Diskomvis Terbaik pada Lustrum III ISI Yogyakarta / Mahasiswa Teladan I Tingkat Institut Seni Indonesia Yogyakarta / Juara III Lomba Essay Nasional ‘Keanekaragaman Budaya Indonesia’, IKAPI Jakarta

2001, Juara II dan III Lomba Desain Iklan Magister Manajemen UGM Yogyakarta

2003, Project Research Group Workshop Kompetensi Grafis Komunikasi Nasional

2004, Juri Lomba Logo Plaza Ambarrukmo Yogyakarta / Moderator pada Creative Workshop 2, PPPI Yogyakarta / Koord. Promosi Pinasthika Ad.Festival 2004

2005, Ketua Panitia Creative Workshop 3, PPPI Yogyakarta / Koord. Promosi & Humas Pinasthika Ad.Festival 2005 / Ketua Bidang Humas & Organisasi PPPI Pengda DIY

2006 Sekretaris PPPI Pengda DIY / Finalis International Young Design Enterpreneur of The Year 2006 by Britisch Council Indonesia

Belajar Bikin Blog

Udah 30 tahun, baru belajar sesuatu yang baru. Mmmm... seems too old. Dan agak kagok, seperti orang yang telat dikhitan. Bukan takut, rasa malunya itu lho! But show must go on, agar temen-temen di ujung dunia bisa keep in touch, menyambung lagi persahabatan yang lama tak dirawat. I really hope that..

Saya belum sempat nulis lebih banyak, masih sibuk urusan duniawi. Iklan, iklan, iklan. Award, award, award, award. Tapi suatu saat saya akan kembali, banyak ide yang belum sempat direkam lewat tuts keyboard.. So many dreams, so little time.. Sampai jumpa lagi, dengan hal-hal yang lebih fresh nanti!

I won't stop thinking, trying to make our small planets to be better..

My Beloved Company

Perusahaan anak muda ini berangkat dari sebuah komunitas Mahasiswa Desain Komunikasi Visual FSR ISI Jogjakarta Angkatan 1994. Terbentuk pertama kali sebagai sebuah komunitas beranggotakan 25 mahasiswa pada 1 Mei 1995 di sebuah studio kecil di Pakuncen Yogyakarta. Menjadi lebih serius pada September 1999 dengan 5 orang pemegang saham, yang semuanya berangkat tanpa modal. Hanya 2 buah komputer 386 DX, satu scanner, satu printer dan satu kompresor. Di sebuah rumah kontrakan kecil di desa Sorowajan. Kini Petakumpet telah tumbuh menjadi sebuah Perseroan Terbatas dengan 32 staf dan lebih dari 250 klien.

Beberapa klien besar yang ditanganinya adalah PT. Lokaniaga Adipermata dengan brand Djarum Super, LA Lights, Djarum 76, Djarum Coklat, Djarum Black, Inspiro, Senior, dll. Juga Ambarrukmo Plaza, PT. Formula Land, Kedaulatan Rakyat, MMUGM Yogyakarta, Goedang Musik Yogyakarta, Skuadron Udara 2 AURI Jakarta, CV. Magetan Putra Yogyakarta, Computa, PT. Sutanto Arifchandra Purwokerto (Kabel Kitani), Dynasti Group Purwokerto, dll.

Core business Petakumpet adalah Advertising. Layanan yang tersedia: pembuatan kampanye promosi above & bellow the line, Corporate ID. (Logo, Brandname, Stationery Set, Etc.), Media Placement, dll. Kami juga mempunyai beberapa divisi yang mendukung, terdiri dari: Graphic Boutique: Annual Report, Brochure, Poster, Calendar, Catalogue, Book, Postcard, Invitation, Packaging, dll. Multimedia: Web Design, Interactive CD, CD Presentation, Opening Tune, Credit Title, Short Animation, dll. Illustration: Manual Drawing, Digital Drawing, Comic, Story Board, dll. Layanan kreatif satu atap ini biasa disebut Advertising Plus, yang bertujuan untuk memaksimalkan potensi market klien dengan ide-ide segar yang sellable serta didasari konsep yang kuat di belakangnya.

Dalam perkembangannya, Petakumpet mencoba semakin mengokohkan keberadaannya, terutama di wilayah Yogyakarta, Jawa Tengah dan sekitarnya sebagai salah satu biro iklan yang menonjol kemampuan kreatifnya. Ini dibuktikan ketika Petakumpet berhasil memboyong award paling banyak (9 award) dalam Pinasthika Widyawara 2003, sebuah ajang kreativitas bergengsi industri periklanan yang diadakan oleh PPPI Pengda DIY bekerjasama dengan SKH Kedaulatan Rakyat. Tahun berikutnya (2004) kembali menyabet 7 award. Dan tahun 2005 ketika Pinasthika Ad.Festival tumbuh menjadi event kreatif nasional dengan keikutsertaan biro-biro iklan Jakarta non afiliasi, Petakumpet terpilih sebagai Agency of The Year dengan membawa pulang 20 award (6 gold, 6 silver, 3 bronze, 3 the best, 1 bronze young film director, 1 bronze KR best of print)

Masih ada beberapa mimpi yang akan terus diperjuangkan. Mendapat award di Citra Pariwara. Lalu di Adfest. Clio Award. Petakumpet selalu terpanggil untuk mematangkan kemampuannya dan bersaing secara sehat dengan biro iklan lainnya. Syukur-syukur jika suatu hari nanti Petakumpet bisa nongol jadi covernya Fortune Magazine sebagai The Most Admired Company. Beberapa orang menyebut cita-cita setinggi ini sebagai mimpi di siang bolong. Sebagian menyebutnya khayalan. Kami menyebutnya kreativitas, yang dijalani dengan kegembiraan.

Visi Petakumpet adalah: membuat hidup lebih menarik dengan terus menciptakan ide segar. Setiap hari. PT. Petakumpet berkantor di Gedongkiwo MJ I No. 1001 Yogyakarta-55142, Telp. 0274-373847 (Hunting), Fax. 450711, Email:
marketing@petakumpetworld.com, www.petakumpetworld.com.

Friday, August 19, 2005

Creative Dream Team

Ini uneg-uneg saya buat yang punya cita-cita sama: pengin dapetin award di ajang kompetisi kreatif internasional. Bisa AP Adfest, Clio Award, whatever.. Dari orang yang belum pernah masuk nominasi Citra Pariwara, apalagi dapat awardnya (Hik!) Tapi belum putus asa buat berkompetisi di tingkat yang lebih tinggi lagi.. (paling tidak sampai detik ini).

Mungkin nggak ya Creative Circle bikin Program Khusus yang tujuannya jelas: buat bikin karya iklan untuk berkompetisi di tingkat internasional, dengan team leader yang credible dan jangka waktu yang ditentukan untuk pencapaiannya. Targetnya bisa setahun kedepan, atau monggo deh terserah. Melibatkan insan kreatif seluruh Indonesia, tentu mereka yang diseleksi sehingga layak disebut terbaik.

Dari sudut pandang sempit saya, upaya itu sekarang dilakukan sendiri-sendiri di tiap agency (ato emang harus begitu ya?). Tapi jika sampai penyelenggaraan Citra Pariwara 19 tahun tidak mencapai hasil yangdiharapkan di tingkat internasional, tidak mungkinkah ada sesuatu yang 'salah' di sana?

Saya membayangkan qta punya creative dream team yang akan mengangkat nama Indonesia di tempat terhormat. Sehingga brand bangsa kita tidak hanya dikenal karena korupsi dan kemiskinannya doank..

Nanti dibikinin workshop khusus para pendekar itu, datengin pembicara dan mentor yang credible, dengan dukungan biro iklan besar dan media untuk pendanaannya. Dikurung di satu tempat misalnya seminggu penuh (sebulan juga boleh) untuk bikin strategi kreatif sampai FAW atas sebuah (atau beberapa) project campaign dari klien yang emang welcome dengan ide International Award achievement.. Hei, bukankah Gunn Report bilang 80% Iklan Award Winner itu menjual?

Maaf kalo usulan ini kayak igauan di siang bolong, tapi saya cuma pengikut Mas Budiman yang pengin jadi relevan, meskipun harus menjalani lanturan yang 'awal'nya bisa jadi abstrak dan mengada-ada begini.. Tentu akan ada pro dan kontra, realistis atau tidak realistis atas ide telanjang ini, tapi bukankah untuk tujuan mulia itu milis ini dibuka?

Saya percaya impossible is nothing.. tagline Adidas sialan itu menteror saya tiap detik, yang gemas melihat 249 juta lebih bangsa Indonesia kok gak bisa bersaing ama Thailand bahkan Singapura..

Silakan ide ini ditanggapi, dikritik, dihajar juga boleh.. Setiap mimpi memang harus dibenturkan realitas, sekeras-kerasnya, biar kita semua bangun dari tidur... Mari kita mulai dengan niat baik, semoga hasilnya bisa cukup 'shocking'..

Tanggapan Miliser:

Naomi wrote:
Betul! Kerinduan seperti yang diungkapkan Mas Arief dan Mas Herdiyanto juga yang mendorong saya ndaftar milis ini. Jadi...Kapan??


ari wwok wrote:
sepertinya hal ini pernah dibahas di milis ini, klo tidak salah sih mau buat scam ad gitu... thomS design wrote:Saya setuju dengan usulan bung Arief, sangat sangat setuju... dan sedikit ingin memberi masukan/tambahan, nanti kalau sudah ada creative dream team mungkin sekiranya mau untuk mendidik yg muda2 untuk jadi dream team di masa berikutnya...ya sebagai pewaris gitu..Karena saya lihat aduh...kok yang newbie jarang di "sentuh" ya?hehehe...

harun wiranto wrote:
We're simply not creative enough to be acknowledged. no excuse.

Syamsudin wrote:

Orang konsepnya aja juga Dream Team....jadi ya...masih dalam mimpi aja..hehehe.... Relevan sih relevan cuman belum realistis untuk saat ini.... lagi pula, harus cari clien yg harus bisa diajak gila...sabar-sabar.....ntar pasti juga dapet citra pariwara......tahapan awal kan udah dilalui...(pinasthika).....ya...tunggu tahap berikut nya....gitu loh....!!

Wednesday, July 13, 2005

Inspired by Gie

Entah kenapa saya kepikiran lagi untuk menulis tentang dunia ide dan kreativitas justru setelah melihat ribuan poster GIE menghiasi Jogja. Ada sebuah kegagahan terpancar yang boleh jadi sangat subyektif ketika melihat poster hitam putih bergambar silhuet Nicholas Saputra itu menempel di dinding-dinding kota (Heii, emang gak mirip Soe Hok Gie kok!).

Sudah lama saya ingin menulis buku. Minimal 250 halaman. Temanya tentang dunia ide, manajemen kreatif atau tentang perjalanan Petakumpet, kalo-kalo suatu hari nanti sukses sehingga orang mau beli ceritanya buat belajar. Bukan biografi (emangnya saya siapa?).


Semoga masih cukup waktu untuk menyelesaikan semua itu. Gie, thanks!

Monday, June 13, 2005

Pidato Steve Job di Stanford Univ.

Saya diberi kehormatan untuk bersama kalian di hari pertama di salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah lulus kuliah. Bahkan sesungguhnya inilah saat terdekat saya terlibat dalam upacara wisuda. hari ini saya ingin berbagi tiga cerita dalam kehidupan saya. Hanya itu, tidak lebih. Hanya tiga cerita. Cerita pertama adalah mengenai menghubungkan titik-titik. Saya putus kuliah dari Reed College setelah 6 bulan pertama, tapi saya tetap ada di kampus selama 18 bulan berikutnya sebelum saya benar-benar berhenti. Jadi kenapa saya keluar? Dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah seorang mahasiswi muda dan tidak menikah, ia memutuskan untuk menyerahkan saya untuk diadopsi. Ia sangat menginginkan agar saya diadopsi oleh lulusan universitas, jadi semuanya sudah diatur agar saya akan diadopsi pada saat lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Hanya saja, saat saya lahir, mereka ternyata menginginkan seorang anak perempuan.

Jadi orangtua angkat saya, yang masuk dalam daftar tunggu, menerima telepon di tengah malam yang menanyakan: "Kita ada satu bayi laki-laki, kalian mau?" Mereka berkata, "Tentu saja." Di kemudian hari ibu kandung saya menemukan bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya tidak pernah lulus SMA. Ibu kandung saya menolak menandatangani berkas akhir adopsi. Ia baru rela beberapa bulan kemudia ketika orangtua angkat saya berjanji bahwa saya akan kuliah suatu hari nanti. Dan 17 tahun kemudian saya benar-benar masuk kuliah. Namun bodohnya saya memilih tempat kuliah yang nyaris sama mahalnya dengan Stanford, dan seluruh tabungan orang tua angkat saya habis untuk membiayai kuliah saya. Setelah enam bulan, saya tidak dapat melihat arti kuliah ini. Saya tidak punya tujuan hidup dan tidak mengerti bagaimana kuliah dapat menolong saya memiliki tujuan hidup. Sedangkan saya sudah menghabiskan semua uang orangtua saya yang telah mereka tabung seumur hidup. Jadi saya memutuskan untuk keluar dan percaya semuanya akan beres. Cukup menakutkan juga saat itu, tapi jika saya tengok kembali itu adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat. Begitu saya putus kuliah saya dapat berhenti masuk kelas wajib yang tidak saya sukai, dan mulai masuk ke kelas yang tampaknya menarik.

Tidak selamanya romantis sih. Saya tidak punya kamar asrama, jadi saya tidur di lantai kamar teman saya, saya menukar botol coke di deposit 5 untuk membeli makanan, dan saya akan berjalan sejauh 7 mil melintasi kota setiap minggu malam untuk mendapatkan makan malam yang enak di kuil Hare Krishna. Aku sangat menyukainya. Dan ternyata dengan menuruti rasa ingin tahu dan intuisi, saya memperoleh hal yang berharga di kemudian hari. Ini salah satu contohnya: Reed College pada masa itu mungkin memiliki tulisan kaligrafi terbaik di negeri ini.Di semua poster kampus, semua label di setiap laci, ditulis tangan dengan kaligrafi yang indah. Karena saya sudah keluar dari kuliah dan tidak harus mengambil kelas tertentu, saya memutuskan untuk mengambil kelas kaligrafi untuk belajar caranya. Saya belajar tipe tulisan serif dan san serif, tentang memvariasikan jumlah jarak antara kombinasi huruf yang berbeda, tentang apa yang membuat para tipografis hebat menjadi hebat. Itu adalah sesuatu yang indah, bersejarah, berseni, sedemikian rupa sehingga ilmu pengetahuan tidak dapat menyamainya, dan menurut saya itu sungguh mengagumkan.

Tidak ada satupun yang sepertinya akan diterapkan dalam kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami merancang komputer Macintosh pertama, semuanya saya ingat kembali. Dan kami merancangnya di Mac. Itu adalah komputer pertama dengan tipografi yang indah. Jika saya tidak ikut kelas itu di kuliah, maka Mac tidak akan punya beragam tulisan atau huruf yang berjarak dengan proporsional. Dan karena Windows hanya meniru Mac, sepertinya tidak ada PC yang akan memiliki tipografi yang indah. Jika saja saya tidak pernah putus kuliah, saya tidak akan pernah belajar di kelas kaligrafi ini, dan komputer pribadi tidak akan memiliki tipografi yang bagus seperti sekarang ini. Tentu saja tidak mungkin menghubungkan titik-titik itu ke masa depan saat saya masih di kampus. Tapi terlihat sangat, sangat jelas jika ditinjau sepuluh tahun kemudian. Sekali lagi, kita tidak dapat menghubungkan titik-titik di masa depan; kita hanya dapat menghubungkannya saat kita menengok ke belakang. Jadi kita harus percaya bahwa titik-titik itu suatu saat akan terhubung di masa mendatang. Kita harus percaya pada sesuatu - insting, takdir, kehidupan, karma, apalah. Pendekatan ini tidak pernah mengecewakan saya, bahkan telah membuat semua perubahan dalam kehidupan saya. Cerita kedua saya adalah mengenai cinta dan kehilangan. Apakah saya beruntung? Saya menemukan apa yang saya sangat suka lakukan dalam kehidupan lebih awal. Woz dan saya memulai Apple di garasi orangtua saya saat usia saya 20 tahun. Kami bekerja dengan keras, dan dalam 10 tahun Apple telah berkembang dari hanya kami berdua di garasi menjadi sebuah perusahaan senilai 2 milyar dollar dengan lebih dari 4000 pegawai. Kami baru saja meluncurkan karya terbaik kami - MacIntosh - setahun yang lalu, dan saya baru saja berusia 30. Kemudian saya dipecat. Bagaimana bisa kita dipecat dari perusahaan yang kita mulai?

Hmm, seiring perkembangan Apple, kami mempekerjakan seseorang yang saya pikir sangat berbakat untuk menjalankan perusahaan dengan saya, dan semuanya berjalan lancar di tahun-tahun pertama. Namun kemudian pandangan kami mengenai masa depan mulai berbeda dan akhirnya kami saling bertentangan. Dewan direksi memihak ia. Jadi pada usia 30 saya keluar. Dan itu sangat terbuka. Apa yang telah menjadi fokus kehidupan saya telah hila ng, dan itu sangat menyakitkan.

Saya benar-benar tak tahu apa yang harus dikerjakan selama beberapa bulan. Saya merasa bahwa saya sudah mengecewakan generasi pengusaha sebelumnya - bahwa saya telah menjatuhkan tongkat yang telah diserahkan kepada saya. Saya bertemu David Packard dan Bob Noyce dan mencoba meminta maaf karena telah mengacaukan segalanya. Saya merasa sangat gagal di hadapan masyarakat, dan saya bahkan berpikir untuk pergi dari situ. Tapi sesuatu perlahan mulai terpikir. Saya masih mencintai apa yang telah saya lakukan. Kejadian di Apple tidak merubah sedikitpun. Saya telah ditolak, namun saya masih mencintainya. Jadi saya memutuskan untuk memulai lagi. Saya tidak sadar saat itu, tapi ternyata dipecat dari Apple merupakan hal terbaik yang pernah terjadi dalam diri saya. Beban berat menjadi sukses digantikan dengan perasaan enteng menjadi orang baru lagi, menjadi kurang yakin mengenai apa saja. Hal ini membebaskan saya untuk memasuki salah satu periode paling kreatif dalam kehidupan saya.

Selama lima tahun berikutnya, saya memulai sebuah perusahaan bernama NeXT, sebuah perusahaan lain bernama Pixar, dan jatuh cinta dengan seorang wanita luar biasa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar berlanjut dengan menciptakan film dengan fitur animasi komputer yang pertama kali di dunia, Toy Story, dan kini menjadi studio animasi paling sukses di dunia. Dalam salah satu peristiwa yang luar biasa, Apple membeli NeXT, saya kembali ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung kehidupan Apple. Dan Laurene dan saya bersama-sama memiliki keluarga yang bahagia. Saya cukup yakin bahwa hal ini tidak ada yang akan terjadi jika saya tidak dipecat dari Apple. Memang sebuah pil pahit buat saya, namun saya pilir memang ini diperlukan. Terkadang kehidupan memukul kita dengan sangat keras. Jangan hilang kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus bertahan adalah saya mencintai apa yang saya lakukan. Kalian harus menemukan apa yang kalian cintai, dan satu-satunya cara untuk menghasilkan sesuatu yang luar biasa adalah mencintai apa yang kalian lakukan. Jika kalian belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menetap. Sama seperti semua hal mengenai hati, kalian akan tahu saat kalian menemukannya. Dan seperti hubungan yang indah, ini akan membaik seiring waktu. Jadi teruslah mencari hingga kau temukan. Jangan menetap.

Cerita saya yang ketiga mengenai kematian. Ketika saya berusia 17 tahun, saya membaca sebuah kalimat bijak yang bunyinya seperti ini, "Jika kau menjalani tiap hari dalam hidupnya seakan itu adalah hari terakhirnya, suatu hari nanti mungkin saja kau benar." Ini sungguh mengesankan saya, dan sejak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya memandangi cermin setiap pagi dan bertanya pada diri sendiri, "Jika hari ini adalah hari terakhir dalam hiduku, apakah aku akan mau melakukan apa yang akan aku lakukan hari ini?" Dan setiap kali jawabannya adalah "Tidak" terlalu lama selama beberapa hari, saya tahu saya perlu mengubah sesuatu. Mengingat bahwa saya akan mati suatu saat adalah hal yang paling penting yang saya temukan untuk menolong saya membuat keputusan penting dalam hidup. Karena hampir semuanya - semua keinginan,semua kebanggaan, semua ketakutan akan malu atau kegagalan - akan menjadi tidak penting dibandingkan menghadapi kematian, sehingga hanya itu saja yang benar-benar penting. Mengingat bahwa kalian akan mati merupakan cara terbaik yang saya gunakan untuk menghindari perangkap pemikiran kalian akan kehilangan sesuatu. Kalian sudah telanjang. Tidak ada alasan untuk tidak menuruti kata hati.

Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosa mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul 7.30 pagi, dan tampqk jelas sebuah tumor di pankreas saya. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter memberitahu saya bahwa hampir dipastikan ini jenis kanker yang tidak dapat disembuhkan, dan harapan hidup saya hanya enam bulan lagi. Dokter saya menganjurkan saya pulang ke rumah dan membereskan urusan saya, sebenarnya ini isyarat dokter untuk mempersiapkan kematian. Ini berarti mencoba memberitahu anak-anak kita semuanya yang kita pikir baru akan dikatakan 10 tahun mendatang dalam waktu hanya beberapa bulan kemudian. Ini berarti harus memastikan semuanya sudah beres sehingga sebisa mungkin meringankan keluarga. Ini berarti ucapan selamat tinggal.

Saya hidup dengan diagnose itu sepanjang hari. Sore harinya saya menjalani biopsi, dimana mereka memasukkan sebuah endoskopi melalui tenggorokan, perut, usus, memasukkan jarum ke dalam pankreas, dan mengambil beberapa sel dari tumor. Sewaktu itu saya dibius, namun istri saya, yang saat itu hadir, memberitahu saya bahwa ketika para dokter memeriksa sel-sel dengan mikroskop, mereka mulai berteriak karena ternyata sel-sel itu adalah jenis kanker pankreas yang cukup jarang dan dapat disembuhkan melalui operasi. Saya melalui operasi itu dan baik-baik saja hingga saat ini. Itu adalah saat terdekat saya menghadapi kematian, dan saya berharap hanya itulah hingga beberapa dekade mendatang. Karena sudah melalui tahapan ini, saya bisa lebih yakin mengatakan ini bahwa kematian adalah sebuah konsep yang berguna namun murni intelektual.

Tidak ada yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin ke surga tidak mau mencapainya dengan cara mati. Namun kematian adalah tujuan sama untuk kita semua. Tidak ada yang bisa menghindarinya. Dan seperti itu seharusnya karena Kematian mungkin merupakan satu-satunya penemuan terbaik dari Kehidupan. Itu adalah agen perubahan Kehidupan. Ia memberikan jalan untuk yang baru dengan menyingkirkan yang lama. Kali ini yang baru adalah kalian, namun suatu hari tidak lama dari sekarang, kalian akan menjadi tua dan disingkirkan. Maaf jika ini terdengar terlalu dramatis, namun memang demikian. Waktu kalian terbatas, jadi jangan habiskan dengan hidup dalam kehidupan orang lain. Jangan diperangkap oleh dogma, yaitu hidup dengan hasil daya pikir orang lain. Jangan biarkan opini orang lain mengaburkan suara hati kalian. Dan yang terpenting, punyailah keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisimu. Terkadang mereka sudah tahu kalian akan menjadi apa. Yang lainnya hanyalah sampingan.

Ketika saya masih muda, ada sebuah terbitan luar biasa bernama Katalog Seluruh Dunia, yang menjadi salah satu kitab suci generasi saya. Ini dikarang oleh seseorang bernama Stewart Brand tak jauh dari sini di Menlo Park, dan ia menghidupkannya dengan sentuhan puitisnya. Ini terbit akhir tahun '60-an, sebelum komputer pribadi dan penerbitan menggunakan desktop, jadi itu semua dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Seperti Google dalam bentuk buku 35 tahun sebelum Google muncul: itu adalah hal idealis dan dilengkapi dengan alat bantu yang keren dan catatan yang bagus. Stewart dan timnya mengeluarkan beberapa edisi Katalog Seluruh Bumi, dan ketika sudah beredar, mereka mengeluarkan edisi terakhir. Itu pertengahan tahun '70-an, dan saya seusia kalian. Di halaman belakang edisi terakhir mereka ada sebuah foto mengenai jalan perkampungan waktu dini hari, jalan yang mungkin kalian akan ikuti jika kalian suka berpetualang. Di bawahnya ada kata-kata" :Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh."

Itu adalah pesan perpisahan mereka sebelum mereka pergi. Dan saya selalu berharap hal itu untuk saya sendiri. Dan sekarang, kalian sebagai lulusan baru, saya mengharapkan itu untuk kalian. Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh.

Terima kasih banyak.