Mybothsides

Thursday, September 23, 2004

Kreativitas dan HAKI

Hambatan yang paling sering dihadapi oleh desainer grafis atau biro iklan (terutama di Yogyakarta) adalah yang menyangkut HAKI terhadap suatu image (ilustrasi, fotografi atau bahan desain lainnya) yang akan digunakan dalam suatu creative artwork. Dengan adanya keterbatasan budget akibat nilai jual jasa kreatif yang masih rendah, agak sulit jika seluruh proses kreatif yang memerlukan image yang baik (berkualitas tinggi) dan dengan prosedur yang benar (tidak ngambil punya pihak lain).

Apalagi masih buanyak (perhatikan tambahan sisipan ‘u’nya) klien yang maunya cuma membayar biaya produksi atas sebuah output kreatif, atau biaya placement doang. Realitanya, memang agak sulit buat biro iklan untuk men-charge biaya fotografi, ilustrasi, model atau bahkan – ironisnya - biaya desain sendiri. Sehingga sebagai jalan pintas, mereka menggunakan image bank yang meskipun sebagian bisa di-download free dari internet (makanya sering ada image sama yang digunakan oleh biro desain yang berbeda). Sebagian yang lain mesti diefek sedemikian rupa – karena tidak gratis – supaya terlihat beda dengan aslinya. Jelas ini sebuah tindakan yang kurang pantas, sebagai akibat kurangnya apresiasi klien terhadap proses kreatif.

Tentu saja kita tidak bisa membiarkan situasi yang membelenggu kreativitas ini terus berlanjut. Seminar atau sarasehan tentang kreativitas misalnya, perlu lebih sering diadakan untuk memberikan penyadaran dan edukasi atas pentingnya penghargaan terhadap karya kreatif. Hal ini tidak saja ditujukan buat klien yang memang price minded, tapi lebih penting juga terhadap biro-biro desain yang sekedar order minded. Asal ada margin keuntungan dari setiap order, langsung saja dikerjakan tanpa mempertimbangkan kualitas output kreatif dan fungsi komunikasit persuasifnya terhadap target audience.

Idealnya, kita memperlakukan image bank hanya sebagai sumber inspirasi untuk visualisasi sebuah ide. Dari pijakan itu, kita wajib membuat bentuk visualisai, ikon atau ilustrasi yang berbeda. Jika kita sedang buntu banget, untuk menyegarkan otak, bolehlah kita lihat-lihat image bank (yang memang jenisnya beraneka macam itu) sehingga kita mendapatkan perspektif visual baru. Atau – seperti yang terjadi di biro iklan Jakarta – kita beli aja hak pemakaian image-nya jika memang budget untuk itu terpenuhi. Sehingga kita tidak terlibat dalam upaya pelanggaran HAKI orang lain.

Memandang lebih jauh ke depan, kita juga mulai perlu berfikir untuk melindungi karya kreatif kita dengan mendaftarkan hak ciptanya. Sehingga hal-hal buruk seperti yang pernah terjadi pada Dagadu (PT. Dagadu Aseli Jokja) ketika hak cipta logonya justru tidak dimiliki sendiri oleh pemiliknya yang sah. Seperti juga yang pernah saya alami ketika mendaftarkan situs kantor saya:
www.petakumpet.com ternyata sudah ada yang mendaftarkan nama itu untuk sewa selama 10 tahun dan dalam kondisi underconstruction, sehingga situs yang kita pakai sekarang adalah: www.petakumpetworld.com. Agak kepanjangan sih menurut saya, tapi gimana lagi? Kita memang belum punya hak patennya.

Thomas Alva Edison yang lebih kita kenal dari mahakarya bolamnya, ternyata memiliki lebih dari 1000 paten untuk penemuan-penemuannya yang lain, yang ketika dikembangkan menjadi sebuah industri oleh General Electric (Edison sendiri salah satu founder-nya) akhirnya mendatangkan kekayaan yang tidak akan habis bahkan setelah Edison meninggal dunia.

Sekedar selingan: tahukah Anda siapakah yang memiliki paten untuk mesin ketik dengan kecepatan rendah untuk menghilangkan suara gaduh? Atau roda pengerek dengan gigi-gigi lengkung untuk meminimalkan gesekan? Agak aneh mendengar bahwa pemilik ide itu adalah Albert Einstein, si penemu teori relativitas (E=m.c2).

Tapi yang patut dicatat adalah kesadaran Edison dan Einstein untuk mendaftarkan penemuannya ke lembaga paten di awal tahun 1900-an. Apakah kini di tahun 2004 (seabad kemudian) kita telah memiliki kesadaran itu?

Kesadaran yang masih minim di kalangan insan kreatif di daerah mungkin sama minimnya dengan tingkat pengetahuan kita tentang HAKI dan segala manfaatnya. Ada baiknya proses kreatif penciptaan yang dilakukan dengan susah payah itu mulai dipikirkan hak ciptanya, sehingga tidak dimanfaatkan sepihak oleh mereka yang tidak berhak. Selamat berkarya dengan ide-ide yang lebih kreatif lagi dengan proses yang benar. Selanjutnya, biarkan HAKI melindungi karya tersebut untuk kepentingan Anda. Tidak saja untuk masa sekarang, tapi juga buat yang akan datang.

Tuesday, August 17, 2004

Setelah Pesta Usai

24 Juli 2004, pukul 20.00 WIB. Ada keriuhan di garden Jogjakarta Plaza Hotel. Sebuah panggung berdiri megah. Di kanan kirinya terlihat maskot mumi memegang piala di-print di atas colybrite berukuran besar dan tepat di tengah-tengah backdrop panggung terpampang tulisan besar: Show Up Nite. Juga 2 buah giant screen tempat penayangan multimedia. Di belakang panggung, tampak para kru menyiapkan segala sesuatunya. Muka-muka tegang dan berkeringat mengawasi seluruh peralatan, memastikan semuanya telah terpasang dengan tepat sehingga tidak terjadi gangguan sekecil apapun.

Ketegangan juga terlihat di deretan kursi undangan yang ditutup tenda besar dimana para tokoh iklan dari daerah maupun nasional berada. Malam itu adalah puncak dari rangkaian acara Pinasthika Ad.Festival 2004 yang terdiri dari lomba karya iklan, pameran, pemutaran film iklan, seminar kreatif dan meet the jury. Lebih dari 500 pasang mata dan puluhan kamera wartawan media cetak dan televisi berfokus ke panggung.

Malam itu 57 piala dan 10 penghargaan khusus Pinasthika Award 2004 dibagikan kepada yang berhak, dalam euforia pesta insan kreatif yang menerimanya. Dengan berbagai macam kostum unik yang dikenakannya, dari anoman, buto cakil, batik funky sampai properti berbentuk peniti yang berukuran super besar. Mengambil posisi tepat di depan panggung, mereka berekspresi sangat atraktif setiap namanya disebut sebagai pemenang. Mereka yang hadir menjadi saksi atas megahnya pesta pamungkas yang telah dipersiapkan dengan kerja keras berbulan-bulan sebelumnya. Yang telah diramaikan dengan hiruk pikuk kampanye promosi yang di-support penuh oleh puluhan media lokal maupun nasional, yang gaungnya terasa jauh lebih besar dari pelaksanaan Pinasthika tahun-tahun sebelumya, bahkan acara Citra Pariwara di Jogja 2002 lalu.

Setelah Pesta Usai


Seiring langkah para hadirin yang meninggalkan panggung tempat dilangsungkannya malam anugerah penghargaan Pinasthika Award 2004 itu, satu persatu kursi dilipat, panggung dirobohkan dan para pengisi pentas terduduk kelelahan. Sisa-sisa snack, gelas aqua yang bertebaran mulai dibersihkan agar besok pagi saat matahari terbit garden telah kembali kosong seperti semula. Pentas yang megah itu akan tinggal senyap.

Para peserta akan pulang ke tempatnya masing-masing. Ada yang bikin acara syukuran menikmati kemenangan, beberapa ada yang mungkin kecewa karena belum berhasil membawa pulang piala, sebagian yang lain mulai berpikir keras bagaimana menjadi yang terbaik untuk tahun depan. Menyusun strategi untuk menghasilkan output kreatif yang berjaya, mulai sibuk merayu klien agar kooperatif membuat iklan yang ‘berkelas’, sehingga layak diikutkan ajang Pinasthika Award tahun depan.

Pekerjaan Rumah


Ada kecenderungan menarik di daerah yang mungkin berbeda sekali situasinya dengan yang ada di Jakarta. Mayoritas biro iklan daerah, masih hidup dengan hanya mengandalkan diskon pemasangan iklan di media. Apresiasi yang masih rendah di kalangan para pengguna jasa promosi dan periklanan juga menjadi barrier yang cukup tinggi bagi pengembangan kreativitas biro iklan. Menjadi pekerjaan rumah yang harus cepat dipecahkan. Salah satunya adalah dengan mengadakan Pinasthika Ad.Festival ini. Agar tercipta jaringan kerjasama di antara para biro iklan daerah, yang haqqul yaqin tak akan bisa berjuang sendirian untuk mendapatkan bargaining positioning yang lebih ‘manusiawi’ di depan kliennya. Kebersamaan adalah kunci untuk mendapatkan daya tawar yang lebih tinggi.

Kompetisi ini juga sangat penting untuk makin mendekatkan jarak kemampuan kreatif insan daerah dengan kakak-kakak kelasnya di Jakarta, terutama perusahaan periklanan multinasional yang memang telah cukup matang. Parameter standarisasi kreatif iklan daerah mulai ditegakkan, sehingga diharapkan grafik kualitasnya akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Apalagi dengan wacana yang sudah mulai beredar saat ini tentang akan dibukanya kategori/kelas bebas untuk para peserta dari Jakarta non afiliasi pada Pinasthika Ad.Festival tahun depan. Ini tentu sebuah nilai plus, yang akan menantang insan kreatif daerah untuk makin mengasah kemampuan kreatifnya lebih tajam lagi.

Visi ke Depan

Tantangan kompetisi yang lebih besar lagi tergelar di depan mata, meskipun kita masih terperangkap dalam keterbatasan kemampuan yang ada. Minder adalah alasan paling klasik bagi orang daerah untuk tetap sembunyi di kolong tempat tidur, ogah naik ring karena takut kalah. Memilih tidak mengambil jalan menanjak dengan mengikuti kompetisi iklan di tingkat yang lebih tinggi, mungkin akan membuat hidup kita di daerah jauh lebih tenang. Tak perlu repot-repot buka website untuk melacak perkembangan iklan terbaru, tak perlu mengirim staf ke seminar kreatif, tak perlu ikutan Creative Workshop, tak usah ke Thailand menghadiri Adfest atau bayar mahal-mahal nonton Clio Award. Yang penting bisnis itu untung, untung, untung. Tapi apakah kita puas hanya sampai di sini?

Apa sesungguhnya visi kita ketika memutuskan mendirikan sebuah biro iklan dan bukannya perusahaan mebel, toko sepeda, cuci cetak foto atau agen peragawati? Visi ini sangat penting untuk mengarahkan pandangan dan langkah kaki kita ke depan, agar tidak menuju ke tempat yang salah.

Saya ingat Tibor Kalman, seorang mantan praktisi periklanan Amerika yang kemudian mengabdikan dirinya untuk menentang iklan-iklan yang dia rasakan makin meng-hegemoni masyarakat banyak. Tibor pernah berkata: If you believe in your ideas, money will follow. If you pursue money, you should fail.

Sekedar untuk introspeksi: apakah tujuan kita bekerja dari pagi sampai sore – kadang ditambah lembur – itu untuk mendapatkan output kreatif terbaik ataukah sekedar untuk mendapatkan keuntungan (baca: uang) yang terus meningkat semata? Kualitas output kreatif kita akan menjawabnya sendiri.

Pinasthika Ad.Festival yang baru saja usai hanyalah satu tonggak untuk menandai perjalanan kreatif insan daerah ke depan. Citra Pariwara, Adfest, Cannes Lions, Clio Award adalah tonggak-tonggak selanjutnya, yang tentu saja lebih berat lagi tantangannya. Terus menerus berkarya untuk menjadi lebih baik membutuhkan lebih dari sekedar kecerdasan dan kerja keras, tapi juga konsistensi justru ketika keberhasilan tidak bisa diraih dengan cepat. Dengan gemerlap pesta yang baru saja usai, proses perjalanan panjang itu sebenarnya sedang dimulai…

Yogyakarta, 17 Agustus 2004