Mybothsides

Saturday, November 2, 2002

Mapping The Future Diaries

Annual Creative Retreat I
Board of Directors Petakumpet
Kaliurang, 29 Oktober – 1 November 2002

Prolog

Eh, ngapain sih mesti repot-repot ke Kaliurang? Ngapain harus meninggalkan kantor dan membawa seperangkat komputer, printer dan seabrek makanan ke daerah dingin di pinggiran Merapi? Ataukah ini hanya semacam kamuflase: bahwa tiga orang sok pinter yang mengaku Board of Directors itu cuma trio yang sedang stress berat atas urusan kantor dan menyepi untuk melakukan penyembuhan mental dengan bersenang-senang? Apalagi dengan tambahan: seluruh biaya atas Creative Retreat ini ditanggung oleh perusahaan. Lagipula, apakah bijak meninggalkan kantor pada manajer level 2 dan staf yang pasti akan mendapatkan cukup kesulitan ketika menghadapi situasi riil di lapangan saat direkturnya – tiga-tiganya sekaligus – menghilang selama 4 hari? Banyak yang harus dijelaskan atas beberapa keraguan di atas. Dan saya akan mulai untuk memotret 4 hari ini dengan pandangan yang bukan teknis, yang semoga bisa menjawab beberapa keraguan di atas. Atau tidak. Ha ha ha…….. :)

Hari I, Selasa, 29 Oktober 2002

Hari ini, Board of Director (selanjutnya disingkat BOD) yang terdiri dari Itok, Arief dan Bagoes, resminya cuti dari urusan daily job di kantor. Kami sedang mempersiapkan sebuah acara yang sangat ambisius: annual creative retreat yang akan dilaksanakan di Kaliurang. Judulnya: Mapping The Future (Memetakan Masa Depan). Serem kan? Biar dituduh sok keren, ide acara ini dimodifikasi dari retreat-nya Microsoft yang telah dimulai perusahaan software paling progresif di dunia ini sejak karyawannya berjumlah 20 orang. Bandingkan dengan Petakumpet sekarang, total karyawannya sekarang 35 orang (PU 22 orang dan Blank Magz 13 orang). Jumlah ini masih akan bertambah, karena ada rencana recruitment lagi di PU maupun Blank. Nah, secara kuantitas kita sudah menyamai 4K, kan? Sudah jauh di depan Ngapurancang, Jentera atau Polydoor. Tapi secara kuantitas lho…. Kualitasnya? Nanti dulu deh. Saya akan cerita banyak tentang itu, sabar ya…..

Hampir jam 3 sore, saat azan Asar bergaung-gaung. Saya dan Bagoes berangkat duluan, naik Supra kreditan yang bahkan belum pernah dibayar kreditannya. Mampir ke Video Ezy untuk pinjem beberapa VCD, sebagai bagian dari kegiatan CR. Coba perhatikan judul yang kita pinjam, dan silakan tebak apa fungsi VCD itu dalam proses Mapping The Future ini: Apollo 13 (Tom Hanks), Wedding Planner (Jenifer Lopez), The Firm (Tom Cruise), Black Hawk Down (Ridley Scott), Training Day (Denzel Washington), Meet The Parents (Robert De Niro), Here on Earth (Chris Klein). Lalu mampir beli bakso dan gerimispun turun (ada hubungannya?). Kita melaju di tengah gerimis yang untungnya masih agak ramah. Ada sedikit kesalahan skenario, bahwa saya cuma pake kaos tipis dan celana pendek tapi harus pegang stir. Plan A-nya adalah saya akan bonceng aja dan Bagoes di depan karena ia jauh lebih gemuk. Paling tidak, saya akan terlindung dari angin dan hujan kalo di belakangnya. Tapi ya sudah, katanya laki-laki gak boleh cengeng. Saya ada di depan dan berharap badai… eh gerimis cepat berlalu. Dan mendekati Kaliurang, gerimis emang mereda. Tapi dinginnya tidak. Di pintu masuk, terjadi pergantian sopir. Sebelum saya sempat merasakan manfaatnya membonceng, eh kita sudah nyampe duluan. Sialan!

Saat itu sekitar jam 16.00. Anak-anak di kantor pasti belum pulang. Juga Itok dan seperangkat komputer dan logistik yang rencananya berangkat sore ini. Dari info terakhir, mereka baru akan tiba di sini jam 20.30. nanti malam. Thank God! Saya kedinginan dengan kaos setengah basah, pake celana pendek, tidak bawa buku (pernah merasakan sepinya dunia tanpa buku?) dan bantuan baru akan datang 4 ½ jam lagi. Sekedar info, wisma ini disewa Rp 350.000,- untuk menginap selama 4 hari. Ada satu tempat tidur double bed, kamar mandi yang katanya airnya hangat. Satu set sofa, TV agak besar dan kulkas yang masih kosong. Sengaja dipilih yang murah, karena yang mahal dan mewah sudah di-booking semua. Yang tersisa cuma yang murah begini. Nyesel deh…… :(

Dan waktupun terus berjalan dalam detak yang amat lambat. Pendapat Einstein tentang sifat psikisnya waktu mulai saya alami. Saya orangnya mudah diserang kebosanan kalo sedang gak tahu mesti ngapain. Seperti saat ini. So, what can I do to kill the time? Saya nonton MTV dan tak menemukan lagu yang menarik. Tambah boring! Lalu pergi tidur-tiduran……. dan sukses! Saya bangun jam 20.40, tepat ketika tim SOS dari Jogja datang menyelamatkan waktu kosong kami.

Dan lihatlah betapa banyaknya bekal yang dibawa: sebrek makanan, dari snack, buah, minuman, roti dan sebagainya. Lalu makan malam: Mc.D dalam kardus. Dan seplastik wortel dingin pesanan saya, karena saya tidak merokok seperti dua Direktur lainnya. Tidakkah ini semua berlebihan? Tidakkah ini perangkap untuk mematikan semangat dan kreatifitas? Kreatifitas tertinggi biasanya muncul di saat-saat terdesak bersama menderasnya adrenaline, seperti orang yang sedang berada di pinggir jurang? (Saya berdoa semoga jawabannya tidak, karena saya pasti akan merasa sangat bersalah dengan ini semua).

Diskusi resminya dimulai jam 22.00 setelah Wowok, Yudi, Nur dan Lilik pulang ke Jogja dan meninggalkan kami bertiga. (Thanks a lot, Guys!). Kita bicarakan permasalahan internal perusahaan, per departemen, antar departemen, SDM dan persoalan sebrek lainnya. Tumplek bleg! Kita bahas semua saran, kritik, masukan dari seluruh elemen perusahaan yang emang udah disiapin jauh-jauh dari Jogja untuk dicarikan jalan keluarnya di sini: di sebuah tempat yang jaraknya 11/2 jam dari kantor. Suasana diskusinya rame, maklum hari pertama. Masih semangat-semangatnya. Semoga spirit ini masih akan bertahan besok-besok. Juga setelah kita semua kembali ke Jogja. Duduk di kursi masing-masing (saya masih sering gak srek dengan ukuran kursi Direktur yang terlalu gemuk) dan menjalankan operasional perusahaan bersama orang-orang hebat di seluruh sudut kantor yang ada.

Hari 2, Rabu, 30 Oktober 2002

Diskusi ditutup Rabu dini hari, jam 02.35. Saya langsung menyerbu tempat tidur. Saya sempatkan untuk berdoa. Entah sempat selesai atau tidak doa saya, tahu-tahu sinar matahari sudah memerahkan korden – aslinya sih berwarna merah tua – dan beberapa garis cahayanya menerobos masuk dan memberi kejelasan bentuk pada barang-barang yang masih berserakan di atas meja, sofa, kulkas dan lantai. Kulit kacang, puntung rokok, kertas penuh corat-coret, kulit mangga dan beberapa buku yang masih terbuka: semuanya tidak beraturan. Sisa-sisa semangat diskusi tadi malam. Saat ini jam 07.55 dan Itok masih tertidur di sofa, dari raut mukanya terlihat sedikit penyesalan karena tidak mendapat jatah tidur di kasur akibat nonton bola tadi malam. Sementara Bagoes – yang masih begadang ketika saya berangkat tidur – terlihat masih bergulat dengan selimut tebal, tapi belum diketahui sampai saat ini siapa pemenangnya.

Lalu buang air besar. Sambil baca buku ‘IDEO: The Art of Innovation’. Sebuah buku tentang inovasi desain produk yang terjadi di IDEO, sebuah perusahaan desain produk terkemuka di Amerika. Buku yang bagus, baru terbaca beberapa halaman. Dan air hangat itu: masih impian saja rasanya. Sepertinya saya sedang merindukan seseorang atau sesuatu, saya tidak yakin. Mungkin air hangat itu. Atau sesuatu yang hangat. Ah, nggak usah dilanjutin deh……. Saya toh hanya ingin menyegarkan tubuh saya yang agak penat. Sesederhana itu.

Diskusi dimulai jam 10.00. langsung membicarakan Blank Magz. Beberapa antisipasi yang diperlukan karena beberapa target awal yang meleset. Dilanjutkan dengan koordinasi antar departemen, evaluasi prosedur, dsb. Diskusi selesai jam 14.00.

Makan siang kali ini menunya gudeg telur + ayam. Aha, saya mulai merasa kangen pada katering di kantor. Apalagi katering yang gak sempat dimakan siangnya. Saya pasti akan merindukannya di sore hari: untuk menghemat uang makan malam saya J

Habis itu acara istirahat. Saya keluarin motor dan jalan-jalan muterin Kaliurang. Menghafalkan rute supaya gak mudah tersesat. Cuaca mulai mendung dan hujan turun rintik-rintik. Dan rasanya nyaman di kulit tubuh, mengingat hawa Jogja yang sering membakar dan bikin lemes badan akibat terlalu panas ketika siang.

Jam 16.26, ada laporan dari kantor. Dian nelpon dan emang udah saya kasih job untuk progress report apa aja yang terjadi di marketing hari itu. Supaya saya bisa tetap monitoring. Dan gak ketinggalan jaman. Everything is still on the track.

Malam hari ini, Kaliurang berkabut. Agak tebal. Meskipun gak terlalu dingin. Dingin sih, tapi gak terlalu. (Lha!!! Sama aja!!!!). Naik motor sama Itok nyari makan malam menyusuri jalan berkabut dengan tetesan air yang satu-satu. Saya pernah punya kenangan romantis naik motor berdua dalam gerimis begini. Tapi tentu saja bukan sama Itok. Ha ha ha……….

Kita buka sesi diskusi selanjutnya jam 21.00. Kita mengejar ketertinggalan schedulle kemarin. Kita bicarakan permasalahan antar departemen, evaluasi prosedur, fungsi delegasi dan kontrol. Diskusi dan menarik karena kita sepakat untuk membicarakan kekurangan-kekurangan yang ada. Bad news come first, as always. Supaya kita tidak silau oleh kesuksesan. Kita juga akan menjadi dewasa dengan kesalahan dan kegagalan. Dan tidak menjadi cengeng ketika menghadapi tantangan. Tak terasa udah jam 02.00 ketika file notulensi ditutup dan terlihat di monitor sebuah wallpaper dominan putih dengan huruf times new roman dalam ukuran agak besar berwarna hijau muda bertuliskan: Mapping The Future. Jangan tanya kenapa font-nya seperti itu dan kenapa warnanya hijua muda. Saya ngantuk sekali dan sangat ingin menekan tombol off di pusat kesadaran saya. Atau shutdown. Jadi pertanyaan itu kita diskusikan lain kali. OK? (Lho? Emangnya siapa yang mau nanya? Siapa yang peduli?!!!)

Malam ini giliran Bagoes yang tidur di sofa. Dan kelihatannya ia memilih tidak tidur, malah mengoreksi notulensi rapat malam ini. (Salahnya sendiri!) Saya dan Itok tidur di kasur. Saya agak khawatir juga tidak kebagian tempat di kasur. Ukuran Itok sedemikian besarnya. Semoga dalam tidurnya, ia tidak tambah membesar lagi. Bisa repot saya yang tubuhnya standar, atletis dan lebih tepat disebut imut ini J

Hari 3, Kamis, 31 Oktober 2002

Biasanya, setiap hari Kamis saya puasa. Bagaimanapun, setiap orang pasti punya kebiasaan. Karena mereka toh manusia biasa. Manusia biasa pasti punya kebiasaan, kan? Nah, untuk melihat kehidupan dengan sudut pandang yang berbeda: kadang-kadang kita harus menjadi tidak biasa. Menjadi berbeda. Tidak untuk berubah sama sekali tentu saja. Tapi membolos sesekali di waktu pelajaran sekolah memang mengasyikkan. Seperti juga bolos waktu jam kantor. Tapi jika dilakukan terus menerus, maka membolos bukanlah sesuatu yang menyenangkan lagi. Membolos akan jadi kebiasaan dan lalu membosankan.

Nah, hari ini saya tidak puasa. Sengaja. Dan sudah saya rencanakan sejak di Jogja. Saya tuliskan satu alinea di atas untuk sekedar judgement aja: saya pasti akan merindukan lagi kegiatan kreatif bernama puasa itu. Karena pada saat-saat tertentu – dan itu sering – saya sangat menikmatinya. Apalagi sebentar lagi Ramadhan, kan? Paling tidak, saya menjadi berbeda dari teman-teman sekantor. Paling tidak, mereka jadi punya bahan gosip. Beberapa gosip itu menyenangkan. Kecuali yang tidak.

Nah, pagi ini saya bangun jam 06.00. Langsung ambil sepatu, pake celana pendek dan lari-lari muterin Kaliurang. Itok dan Bagoes masih tidur. Orang-orang gemuk emang kuat tidurnya. Mungkin itu semacam karunia, atau kutukan. Atau dua-duanya.

Dan lari pagi sendirian, melewati jalan yang kosong: it’s very nice looking. Seperti adegan awal di Vanilla Sky. Waktu David Aames berlari di pusat kota New York yang sepi tanpa ada seorangpun. (Tapi ternyata itu adegan mimpi, sialan!). Dan saya jadi bisa tahu kalo fisik saya mulai melemah – tidak sekuat dulu - karena rasanya gampang banget capek. Mungkin karena tidurnya agak telat tadi malam. Atau karena jarang olah raga. Oya, jadwal rapat CR memang didesain sengaja tidak full time karena para pelakunya manusia biasa. Supaya otak dan kepala tiga orang yang gak begitu pinter ini tidak mudah mendidih karena berdiskusi dengan tema-tema yang kadang besar, kecil tapi penting dan paling sering tema yang complicated tentang perusahaan yang sedang tumbuh ini. Sedang tumbuh: artinya dia akan bisa berkembang menjadi lebih besar lagi jika dijaga dan dirawat dengan baik. Dan tidak sekedar diambil buahnya atau dieksploitasi habis-habisan. Itu dholim namanya. Dosa besar. Dan bisa masuk neraka. Modiar!!!

Jadi, pagi itu saya berdiri di gardu pandang dengan badan berkeringat: menatap Merapi dan hutan di bawahnya dengan kabut yang masih tersisa. Mungkin buat orang lain, pemandangan seperti ini biasa saja. Tapi saya selalu mengkondisikan diri saya untuk mengamati hal apapun yang saya alami setiap hari: dengan cara yang berbeda. Saya men-setting pola pikir saya menjadi anak-anak kembali: melihat sesuatu yang baru untuk pertama kali. Lengkap dengan rasa kagum, takjub, heran dan kepala penuh tanda tanya. Seperti juga pagi ini. Pagi yang sungguh indah dan menakjubkan.

Dan mulailah petualangan di kepala saya. Tentang hutan yang hijau dan pinggiran tanahnya yang mulai longsor, seperti kue tart yang dipotong tergesa-gesa sehingga irisannya tidak rata. Tentang Merapi yang terlihat dingin dan angkuh, meskipun menyimpan energi yang besar di dalamnya. Kalau meletus saat itu juga, pasti akan menjadi pemandangan yang sangat menarik. Dan lebih dahsyat dari tragedi bom di Legian, Kuta. Meskipun sekian detik setelah itu, saya harus lari secepat-cepatnya untuk melanjutkan sisa hidup saya. Melanjutkan mimpi-mimpi saya yang belum tercapai sampai saat ini.

Di bawah sana, di lembah terlihat beberapa truk yang yang sedang mengambil pasir. Dari tempat saya berdiri: truk-truk itu seperti mobil-mobilan yang kecil dengan sekelompok anak-anak yang sedang main-main. Padahal, mereka sedang mencari uang dengan cara itu, bekerja sangat serius untuk menghidupi dirinya dan keluarganya. Dan orang-orang – yang terlihat seperti anak kecil itu – pasti berkeringat dan capek mengangkut sekian truk pasir. Dalam udara pagi yang masih dingin begini. Mencangkulnya, memasukkan ke ember dan mengangkatnya ke truk untuk dibawa naik. Pasti berat, hidup dengan cara seperti tu. Dan saya: melihat mereka hanya seperti anak-anak yang sedang bermain. Kurang ajar nggak sih?

Setelah hampir satu jam, saya nyampe lagi di Villa Arini, tempat CR PU ini diadakan. Duo subur itu masih di sana, posisinya belum berubah sejak saya tinggalkan. Mereka benar-benar menikmati hidup, dengan cara yang tidak memerlukan banyak tenaga seperti saya. Karena saya pulang berkeringat dan ngos-ngosan. Sementara air yang tersisa tinggal seteguk.

Perfect!

Lalu nglanjutin nonton VCD – salah satu program CR juga – Wedding Planner. Sambil bikin teh panas dan ngunyah kacang kulit, lalu pergi mandi dan berendam air hangat. Sesuatu yang harus diperjuangkan juga. Karena pemanasnya agak bocor, sehingga kadang airnya tiba-tiba dingin tanpa bisa dicegah. Dan keluarnya juga tidak selancar yang seharusnya. Nah, mandi dengan air hangat ini juga salah satu cara untuk melatih kesabaran. Jika kita berhasil melewatinya dengan senyum, maka dunia akan jadi lebih indah. Paling tidak, itu saya rasakan ketika air hangat – yang saya tunggu cukup lama - mulai menenggelamkan tubuh saya. Saya tidak tahu, tapi ada semacam atmosfer yang berbeda yang membuat saya bisa berfikir bebas: ada katup-katup dalam otak saya yang mulai terbuka. Dan kepala yang mulai hangat, terasa jadi ringan. Saya bisa melepaskan rasa lelah dari avonturir satu jam tadi.

Sekitar jam 09.00 duo subur mulai menggeliat, seperti kasur bernyawa. Dan memulai hari ini dengan mandi dan membersihkan diri untuk memulai acara Diskusi CR hari ini yang rencananya akan dimulai jam 10.00 nanti. Temanya: optimalisasi hubungan perusahaan dengan pihak-pihak eksternal. Sekarang waktunya bekerja. Karena untuk itulah saya dibayar, dikirimkan di tempat dingin begini, dan dibelikan makanan macam-macam. Supaya bisa berfikir dan mendapatkan ide-ide terbaik buat perusahaan. Dan tidak sekedar menyepi, karena saya tidak mau kesepian. Makanya ada duo gemuk. Mereka selalu bisa membuat saya tertawa.

Karena bentuk body-nya J

Diskusi pagi ini dimulai jam 10.30. Dan tentu saja molor dari jadwal. Kita bicarakan hubungan eksternal, permasalahan yang ada serta solusi-solusi yang mungkin diambil, arahan rencana global untuk Petakumpet di 2003. Semacam business plan dalam pengertian yang sederhana. Dan emang kita masukin semua ide yang dianggap cukup potensial untuk dikembangkan. Se-idealis mungkin. Tanpa batasan kalo perlu. Nah, jika ide-ide brillian itu udah didapatkan, PR berikutnya akan diselesaikan di Jogja. Mengubah ide-ide bebas dan liar itu dalam sebuah susunan yang komprehensif, kontekstual, mengurutkannya berdasarkan kepentingan dan urgensinya. Mengubah mimpi-mimpi ambisius tersebut menjadi realitas: setelah melewati tes uji kelayakan secara konseptual maupun implementasinya di lapangan.

Diskusi diselesaikan lebih cepat dari schedulle: jam 13.00. Setelah diselingi interupsi beberapa kentut. Dan saya kontributor terbanyak: 4 kali. Sungguh kurang ajar! (Tapi untuk itungan anak ISI yang sedang masuk angin, jadi wajar kan?). Lalu makan siang. Itok dan Bagoes keluar untuk beli dan saya tetap tinggal di sini menjaga property perusahaan dan menyalurkan kerinduan saya: mendengarkan lagu-lagu ndangdut ditemani Evie Tamala Virtual dalam bentuk bit.

Dan sekitar jam setengah lima sore, Dian kirim report lagi. Alhamdulillah, masih belum ada job yang meleset. Dan rencananya, anak-anak kreatif, Greg dan Rizal nanti malam mau dugem di Goedang Musik. Acara Halloween Night. Ha ha ha, dasar anak-anak muda! Semoga mereka berbahagia, di tengah tekanan deadline pekerjaan yang begini berat. Good luck deh! Salam manis dari saya, yang tak pernah bisa enjoy setiap masuk diskotik. Mendengarkan beat-beat berat dan super kenceng rasanya kayak jadi maling yang dipukuli orang sekampung. Belum malunya kalo dituduh penakut, gara-gara cuma minum Coca-cola. Itu minuman anak kecil – katanya – dan sama sekali gak gagah. Kampungan! Chicken! (Tapi ketika pulang dengan kepala berat setengah teler, si chicken juga yang mesti mboncengin pulang. Dasar!)

Diskusi sesi terakhir berlangsung mulai jam 21.00. Rencananya jadualnya akan dipadatkan, sehingga besok segala hal menyangkut kerjaan udah kelar dan kita bisa jalan-jalan. Beli jadah, lihat hutan, nggodain cewek atau hal-hal yang gak perlu mikir berat-berat. Dan bikin pusing. Kita langsung tancap gas: membahas sebuah draft yang berjudul ‘Attacking The Future’, sebuah kerangka konsep untuk perencanaan pengembangan perusahaan sampai akhir 2005. Emmm…. Mungkin semacam GBHN, tapi yang jelas jauh lebih radikal dan lebih ambisius. Dan diskusi dimulai dengan bermimpi. Mulai dari Bagoes, saya dan Itok. We talk a lot about our dreams. We talk about how to reach that. We talk about the similarities with others. About the priorities. And when we’ll make it a reality. B’coz it’s not just great ideas and a lot of money needed to make dreams come true. But also time. And time flows like water…. just flows…….

Begitu juga malam ini, ketika diskusi mencapai ujungnya. Waktu mengalir begitu cepat, tidak terasa. Kita mulai masukin hasil bahasannya ke konsep tertulis sehingga mimpi yang indah itu tidak hilang terbawa angin Kaliurang yang mulai terasa dingin. Saat ini hampir fajar ketika seluruh materi yang telah dibicarakan di CR itu selesai. Ketika di Indosiar ada film yang dibintangi Nicholas Cage (hayo, siapa yang dulu pernah menuduhku mirip Nicholas Cage?). Saya dan Bagoes nonton film itu sampe selesai. Hampir jam 5 pagi ketika langit mulai temaram. Ketika mata jadi agak berat. Giliran saya sekarang tidur di sofa, sambil berharap dapat mimpi indah.

Hari 4, Jumat, 1 November 2002

Bangun jam 08.36. Udah terang lagi. Malah agak menyilaukan. Dan gak mimpi sama sekali. Syukurlah L

Ini hari terakhir CR. Tinggal koreksi materi sedikit-sedikit dan tanda tangan pengesahan. Biar sok resmi, untuk laporan nanti sama Board of Commission. Oya, sama Komisaris yang baru juga, Pak Soegiarso namanya, he he he….. Paling tidak, ini bukti pertanggungjawaban atas dana dan waktu yang telah dihabiskan selama CR ini. Dan semoga perusahaan tidak membayar terlalu mahal untuk apa yang bisa saya sebut sebagai: persiapan peluncuran roket masa depan. Kembali ke tema utama CR ini: Mapping The Future. Masa depan menjadi lebih jelas sekarang, menjadi lebih bisa ditebak dan dipetakan. Hasil dari diskusi dan pembicaraan intens selama 4 hari. Dan masih banyak hal yang harus ditindaklanjuti untuk pelaksanaannya.

Tapi setidaknya inilah kick off untuk maju bareng-bareng dengan tujuan yang sudah lebih jelas. Menembak bulan di atas kepala dengan roket yang sedang mulai dirancang. Kita bertiga sudah nggak sabar lagi untuk kembali ke kantor. Kembali ke markas dan – laksana Jenderal G. Patton - menggerakkan seluruh pasukan untuk sebuah pertempuran yang entah kapan akan berakhir. Untuk sebuah kemenangan yang sudah terlihat di depan mata. Meskipun belum bisa dipegang atau dirasakan sekarang. Apalagi dirayakan dengan tawa riang, ribuan balon, terompet dan semprotan champagne. Tapi landskap masa depan itu begitu indah dan menggairahkan.

Siang ini, saya baru saja menyelesaikan nonton Training Day. It’s a good script, good actor, good movie. Ethan Hawke dan Denzel Washington memainkan karakter yang kuat di film ini. It’s really inspired! Dan saya tiba-tiba merasa menjadi sedikit lebih dewasa dan jadi lebih berani setelah nonton film itu. Hampir seperti anak kecil yang habis nonton film Bruce Lee dan merasa bisa kungfu lalu menantang siapa saja. Ha ha ha……. Jadi anak-anak emang menyenangkan, dan – sebenarnya - kita bisa jadi anak-anak kok, kapanpun kita mau. Tapi bukan kekanak-kanakan lho. Ada perbedaaan cukup serius antara dua kata itu. Tapi saya tidak akan jelaskan di sini. Nanti saja, jika waktunya tiba….. (kacihan deh eluu…)

Rencananya, BOD akan pulang sekitar jam empat sore nanti. Dan sekarang saatnya untuk rekreasi dan melihat hal-hal baru, yang tidak sekedar komputer, kertas, konsep, buku-buku atau sampah yang mulai menggunung sisa bungkus snack yang kita habiskan. Melepaskan semua penat dan menghirup udara yang lebih segar. Kitapun masuk hutan, dan tertawa-tawa melihat beberapa abg sedang pacaran. Mirip film Indonesia lama jamannya Rano Karno & Ratno Timur. Mereka pasti mengira kita bertiga ini terdiri dari 2 orang pegulat dan 1 orang pelatihnya J

Tentu bukan tanpa alasan bahwa mereka bertiga inilah yang saat ini menjadi BOD. Paling tidak sampai 3 tahun ke depan. Dan sekarang mereka ada di sini. Get out from the office but not from hard work. Melihat dan menganalisa perusahaan dalam perspektif yang lebih makro dan jangka panjang. Tapi jangan melihat mereka sebagai orang yang paling pintar, kreatif, penuh inisiatif, tegas dan berdisiplin di perusahaan. Jangan pernah berharap terlalu tinggi pada mereka. Karena perusahaan ini terdiri dari 35 orang, sementara BOD cuma 3 orang. Artinya, kita harus bergerak bersama-sama. Dan saling mendukung.

Kita tak mungkin berjalan sendiri dan menikmati kesuksesan ini sendirian, sejenius dan sekuat apapun kita. Mimpi yang kita harapkan – sejujurnya – tinggi sekali. Hampir di luar batas kemampuan kita. Tapi inilah konsep stretching, pinjem istilahnya Jack Welch. Selalu menaruh palang rintangan lebih tinggi dari kemampuan kita. Sehingga kita tertantang untuk menunjukkan kemampuan terbaik kita.

Jadi, jangan salah menilai kemampuan diri kita sendiri.Jangan minder dan bersembunyi di pojokan. Menyesali nasib. Tapi juga gak perlu takabur. Over value. Meskipun kita terkenal dengan teamwork yang kuat, yang kadang membuat iri perusahaan lain. Apalagi jika ada elemen perusahaan yang merasa sok bisa maju sendirian tanpa bantuan teman-teman yang lain. Aduh, saya selalu sedih setiap ada pentas one man show seperti itu, karena sejarah telah mengajarkan sangat banyak tentang bahayanya merasa benar sendiri. Injakan manusia pertama di bulan, pemotretan Mars, pendirian tembok Cina, cloning, Jurassic Park, kemerdekaan Indonesia, iMac, hal-hal besar yang mengubah peradaban dunia: semuanya hasil dari kerja keras sebuah teamwork. Dan bukan karena kehebatan satu orang. Ini faktanya.

Kita bisa sukses dan bisa gagal. Tak ada garansi yang bisa menentramkan hati kita dari resiko terburuk. Mereka yang gak mau mengambil resiko sebaiknya tidur saja di rumah, nonton TV atau ngerjain PR ditemani ibunya.

Tapi jikapun kita nanti sukses atau terpaksa gagal, saya berharap kita telah melakukan segala sesuatunya dengan cara yang paling baik dan paling benar. Sehingga kita bisa menghadapi kenyataan seberat dan seburuk apapun, dengan senyum. Yang paling manis.

Oya…. dan tidak putus asa sesudahnya :)


Kaliurang, 29 Oktober – 1 November 2002
Sebuah oleh-oleh yang dituliskan karena kameranya kehabisan film
M. Arief Budiman (one of the boards)

3 comments:

BarnsleyFreeads.com said...

Updated Pricing Structure available. Email for full details of our 12 easy payments through paypal.

internet business opportunitiesinternet business opportunitiesBuy one of our Directory Websites contact us at santa@uktoy.com for full details.
http://websitewizardsite.com/article_directory/

internet business opportunities http://websitewizardsite.com/article_directory/ Title: 25000 pages of quality articles coverng wide range of subjec
URL: http://websitewizardsite.com/article_directory/
Section: Education
Description: Article Directory - Over 25500 articles available to view
Submitted by: Tony ads@barnsley-freeads.co.uk
Submission details at the end of this message

internet business opportunities

gfutfy said...

If I were gold für wow a boy again,world of warcraft gold I would practice perseverance wow gold cheap more often,maple meso and never give up a thing because it was or inconvenient. If we want light,Maple Story Account we must conquer darkness. Perseverance can sometimes equal genius in its results.wow gold kaufen “There are only two creatures,”cheap maplestory mesos syas a proverb, “who can surmount the pyramids—the eagle and the snail.” If I were a boy again,wow geld I would school myself into a habit of attention;maple mesos I would let nothing come between me and the subject in hand.maple story power leveling I would remember that a good skater never tries to skate in two directions at once.billig wow gold The habit of attention becomes part of our life, if we begain early enough. I often hear grown up people say maple story items“ I could not fix my attention on the sermon or book, although I wished to do so” , wow powerlevelingand the reason is, the habit was not formed in youth. If I were to live my life over again,wow leveling I would pay more attention to the cultivation of the memory. I would strengthen that faculty by every possible means,wow power leveling and on every possible occasion.maplestory powerleveling It takes a little hard work at first

Anonymous said...

Cooler Artikel!