Mybothsides

Sunday, November 10, 2002

Cinta Pada Pandangan Keseratus

Love has nothing to do with what you are expecting to get
Only with what you are expecting to give

Katherine He Burb

Agak sedikit ragu ketika saya memulai tulisan Salvo untuk edisi ini. Dan sungguh ini bukan dalam rangka basa-basi. Hal yang telah lama saya tinggalkan dalam perjalanan hidup saya sampai saat ini, meskipun saya bukan perokok, apalagi penggemar A Mild. (Sekedar informasi kecil: saya hanya penggemar wortel. Sesuatu yang tidak begitu trendy).


Maka, apa yang bisa dibicarakan oleh sebuah majalah desain grafis ketika ia memilih cinta sebagai pokok bahasannya? Atau, apa yang bakal terjadi ketika energi cinta memasuki dunia desain grafis? Dunia eksplorasi kreatif? Jika terjadi proses simbiosis: apakah itu mutualisme, komensalisme atau parasitisme? Saling menguntungkan, tidak berpengaruh atau malah merugikan salah satunya? Atau justru luruh jadi satu seperti konsep manunggaling kawula gusti-nya Siti Jenar? Atau malah gak nyambung, seperti Aqua dan Bimoli?

Dunia Visual: Cinta Pertama Saya

Cinta pertama saya pada dunia desain grafis dimulai sejak masih kelas 5 SD, ketika saya membantu ayah saya membuatkan sebuah film untuk sablon badge SD. Saya menggunakan pena kodok dan tinta cina – mungkin sekarang sudah habis dimakan modernisme – serta huruf gosok bermerk Rugos. Saya girang hati mengerjakan proyek gratis itu karena tahu bahwa badge itu akan dipakai oleh teman-teman saya di sekolah. Saya merasa sedang melaksanakan suatu pekerjaan yang akan berpengaruh pada banyak orang. Itu landasan awal yang membuat saya termotivasi untuk mengerjakannya sebaik mungkin. Hasilnya tidak mengecewakan, begitu kata ayah saya untuk membesarkan hati anaknya. Saat itulah saya merasakan kebahagiaan: menyaksikan teman-teman sekolah saya – ratusan jumlahnya – memakai badge yang saya kerjakan film sablonnya, di saku mereka. Dan sayapun jatuh cinta: yang mungkin terlalu dini. Dan agak naif.

Saya juga mulai merasa agak ‘aneh’ dengan penglihatan visual saya. Saya sering mengamati hal-hal biasa dengan cara yang agak berbeda. Buku cerita yang biasa-biasa saja menurut teman saya, bisa saya baca 5 atau 7 kali karena rasa tertarik saya yang tidak habis-habis. Saya sering usil memperhatikan beberapa papan nama dan billboard di sepanjang jalan dan membayangkan jika billboard itu diperbaiki ilustrasi, huruf atau warnanya. Atau komposisinya dibikin lebih nyentrik. Pasti jadi lebih menarik.

Dan sayapun betah berlama-lama melihat bis dan colt lalu lalang di terminal. Juga kereta api di stasiun. Atau duduk di trotoar menyaksikan orang berjalan hilir mudik, dengan gayanya masing-masing. Ada kesenangan tertentu melihat orang-orang begitu sibuk mengisi hidupnya dengan pergi atau datang ke suatu tempat, berjalan terburu-buru seakan kehabisan waktu. Rasanya seperti menonton film. Ada jarak yang memisahkan dunia mereka dan dunia saya. Visual di depan saya menjelma teks bebas dan imajinasi sayapun mengembara.

Kadang saya bertanya-tanya: untuk apa semua itu saya lakukan? Atau: mengapa saya harus repot-repot memikirkan obyek-obyek visual yang mampir di mata saya? Hal-hal yang tidak dilakukan oleh teman-teman sebaya saya?

Sampai pada suatu hari, saya ‘merasa’ mulai bisa mencerna itu semua. Secara bertahap. Saya mulai menyukai dunia itu. Saya mulai jatuh cinta pada dunia itu. Dunia visual. Dunia penuh warna, bentuk dan pesan. Dan ketika saya ditanya ayah saya selepas lulus SMA, “Kamu mau kuliah dimana?”

Saya jawab,”Saya mau kuliah desain grafis. Tapi saya nggak tahu harus kuliah dimana.”

Jawaban saya malah menimbulkan kebingungan,”Desain grafis itu apa?”

Saya kaget dan ketika melihat sebuah billboard Obat Sakit Kepala Inza, refleks saya menunjuk ke sana,”Saya mau bikin billboard. Seperti itu.”

Melihat foto orang di billboard itu, ayah saya malah terdiam. Alisnya naik, dahinya berkerut. Itu foto orang yang kepalanya sedang pusing. Dan terlihat sangat tidak bahagia. Saya tidak memberikan gambaran masa depan yang cerah padanya.

Saya telah memilih contoh yang salah.

Tapi kesalahan itu tidak membuat hati saya berpaling. Saya kuliah di UGM satu tahun, dan perasaan cinta saya tidak bisa dipadamkan oleh sebuah nama besar. Saya akhirnya minggat – dalam pengertian yang sebenarnya karena gak pernah ngurus administrasi kepindahannya – dan masuk ISI Jurusan Desain Komunikasi Visual. Saya merasa telah masuk jalur yang benar dan semakin dekat kepada tercapainya cita-cita saya. Tapi sekali lagi, saya harus belajar mendewasakan diri. Harapan saya masih terlalu tinggi, saya hampir frustasi di jalan yang – secara teori – sudah benar itu.

Sampai saya menerima map berisi ijazah sarjana, saya belum pernah membuat sebuah billboard Inza yang gambarnya orang sakit kepala. Yang gambarnya orang mencret atau panuan saja belum. Saya hanya membuat beberapa desain grafis sederhana untuk dicetak dalam skup yang kecil. Di atas kertas. Saya merasa gagal untuk membuktikan pada orang tua saya tentang hebatnya mimpi saya. Saya memang telah mencapai sarjana: itu yang membanggakan keluarga saya. Tapi saya sendiri sedih: saya ini sarjana cap apa?

Saya telah menjatuhkan pilihan pada dunia visual, saya telah mengongkosinya dengan mengorbankan banyak hal, menyediakan diri disalahpahami keluarga saya: saya merasa makin tidak bisa memahami diri saya sendiri. Apakah impian saya adalah sesuatu yang terlalu absurd? Atau apa? Apakah rasa cinta saya sejak kelas 5 SD itu adalah semacam cinta platonis: selalu saya harapkan setiap siang dan malam meskipun saya tahu tidak akan pernah berbalas? Hebat banget cinta saya kalo begitu, mungkin saya bisa didaftarkan jadi nabi visual. Atau dimasukkan sekolah idiot.

Cinta Pandangan Pertama atau Keseratus

Apa yang membedakan cinta pada pandangan pertama dan cinta pada pandangan keseratus?
Bentuk visual. Raut wajah, kecantikan, penampilan. Packaging. Bungkus. Kemasan. Dan cinta yang tiba-tiba tumbuh, mendahului rasio. Secepat kilat yang menyambar pemain sepak bola Kolombia saat sedang berlatih. Kejadiannya hanya sepersekian detik. Lalu senyap dan tinggal jejaknya. Rumput yang terbakar, pakaian yang hangus, tangisan keluarga saat pemakaman, karangan bunga, pemberitaan di koran dan liputan televisi.

Cinta akan rapuh jika dari awalnya menyandarkan diri semata-mata pada ketertarikan visual. Atau visual only: ini sebutan untuk desain grafis yang tidak memiliki konsep visual yang jelas, logis dan argumentatif.

Tapi cinta pada pandangan keseratus memungkinkan terjadinya sebuah proses pengenalan dan penghayatan yang lebih matang. Lebih komprehensif. Telah mengalami ujian sang waktu dan gerak sejarah. Sehingga terpancarlah inner beauty: yang tak lekang ketika pemiliknya berumur 60 atau 70 tahun. Telah mendapatkan ijazah lulus ujian kesabaran: ujian yang tidak akan bisa diselesaikan dengan cumlaude. Kesabaran adalah menjalani 24 jam dalam 1 hari, 30 hari dalam 1 bulan, 12 bulan dalam 1 tahun, 100 tahun dalam 1 abad: tanpa korupsi satu detikpun. Kita harus menempuhnya detik demi detik, berurutan dan tak ada jalur instant. Tak ada sim salabim. Atau hocus pocus.

Maka cinta pada pandangan keseratus adalah cinta yang tak mudah tergoyahkan. Adalah cinta yang tidak membutuhkan sandaran apapun. Adalah cinta yang berdiri di atas kekokohan jejak perjalanannya sendiri. Cinta yang tidak akan berpaling: walaupun buah semangka telah berdaun sirih.

Adalah mencintai pekerjaan, yang membuat kita bisa menciptakan masterpiece. Pullitzer. Nobel. Adalah mencintai dunia kreatif ini sepenuhnya, yang bisa menghasilkan ide-ide yang luar biasa. Adalah cinta dan ketulusan yang melahirkan Nelson Mandela, Tibor Kalman, Bunda Theresa, Nabi Muhammad, Malcolm X, George S. Patton, Broken Wings-nya Gibran atau End of Print-nya David Carson. Dan Gandhipun hanya berseru lirih,”Ram!” (Tuhan), ketika tubuhnya ditembus peluru oleh seorang Hindu fanatik: bangsa yang sangat dicintainya. Gandhi tidak pernah menyesali ketulusan cintanya pada India dan rakyatnya, meskipun untuk itu hidupnya harus berakhir dengan tragis.
Cinta yang menyatu dalam setiap tarikan nafas kita, yang menggerakkan jari-jari kita di keyboard dan mengarahkan ujung mouse kita untuk berkreasi di depan monitor iMac atau coretan gagasan di kertas tisu ketika sedang buang air besar: adalah energi tak terbatas yang bisa menggerakkan roda sejarah.

Bukanlah mencintai, jika kita masih memikirkan untung rugi. Kita bisa bekerja keras siang dan malam mengerjakan sebuah desain cover buku. Kita sangat yakin hasilnya luar biasa. Lalu kita bikin satu desain alternatif, 11 menit selesai. Kita serahkan klien dan desain 11 menit itu yang terpilih. Apakah kita rugi? Apakah perjuangan siang malam itu sia-sia? Apakah memang sebaiknya kita mendesain 11 menit saja setiap cover buku, toh itu yang akan dipilih klien?
Saya akan temani teman-teman semua tertawa. Karena saya sendiri mengalami hal-hal aneh seperti itu tidak satu dua kali, 10 jari tangan saya masih kurang untuk menjumlahkan kejanggalan-kejanggalan hubungan antara keyakinan, proses bekerja keras dan hasil dari kerja keras itu.
Tapi yakinlah bahwa tidak pernah ada kesia-siaan dalam hidup kita, asalkan kita sudah melakukan yang terbaik yang kita bisa. Dan bukankah 11 menit desain alternatif itu baru bisa tercipta setelah kita bersusah payah siang malam untuk menghasilkan desain yang pertama?

Back to Basic: Nawaitu-nya Gimana?

Mari menukik ke intinya, ke substansi tentang cinta dan visual, curhat saya dan segala pembicaraan ngalor-ngidul saya di atas. Apa sih yang bisa kita ambil sebagai cermin kecil dari situ?

Cinta sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang kita harapkan, melainkan apa yang akan kita berikan. Dan mencintai adalah mempersembahkan kejujuran. Hanya itu yang pantas dijadikan pedoman nilai untuk setiap hal kehidupan yang berhubungan dengan cinta. Kita bisa bilang bahwa kita mencintai keluarga kita, adik atau kakak. Atau pacar. Kita bisa bilang bahwa kita mencintai negeri ini, tanah tumpah darah kita. Kita bisa bilang kita cinta desain grafis setengah mati sampai gak mau tahu tentang dunia audio visual. Kita bisa bilang lebih baik jadi desainer grafis sampai tua daripada jadi tua tapi gak tahu desain grafis. Kita bisa bilang apa saja.

Tapi jika itu tidak dilandasi kejujuran: kita tahu telah berpijak pada lantai yang salah. Nawaitu-nya sendiri sudah nggak pas. Seperti seorang tokoh penulis novel di film The Bonfire of The Vanities bernama Peter Fallow (diperankan Bruce Willis) yang dengan getir berkata,”Apa untungnya bagi manusia jika bisa meraih dunia tapi kehilangan jiwanya?”

Ya, se-simple itu.

Jadi, apa untungnya kita bisa bikin desain komunikasi visual bagus, mempengaruhi sekian milyar orang di muka bumi, membuat mereka membelanjakan ribuan dollar-nya untuk produk yang kita iklankan sementara di dalam hati kita sesungguhnya tahu bahwa itu semua sia-sia belaka? Bahwa itu semua adalah kampanye yang gaduh, penipuan yang soft, indah dan glamour tapi mencemaskan hati di malam-malam kita yang panjang dan sepi. Apa untungnya menjadi manusia paling kreatif sedunia, jika kita kehilangan hal-hal paling substansial di dalamnya? Apa untungnya jika untuk mencapai itu semua, kita harus kehilangan kejujuran dan cinta?

Dua kata yang indah. Yang seharusnya tak perlu dipisahkan.

3 comments:

giffari said...

hebat...saya belum bisa memikirkan yang sedewasa itu...
*nggak bisa bersuara*

alex candra w said...

halo mas arif,
ini tulisan yang di blank! itu kan...
bagus

gfutfy said...

Youth is not wow gold a time of life;world of warcraft gold it is a state of mind; cheap wow gold it is not a Maple Story Accounts matter of rosy cheeks, red lips and supple knees;mesos it is a matter of the will, a quality of the imagination,wow gold kaufen a vigor of the emotions; it is the freshness wow geld of the deep springs of life.maple story mesos Youth means a tempera-mental predominance of courage over timidity, of the appetite for adventure over the love of ease. This often exists in a man of 60 more than a boy of 20.wow gold farmen Nobody grows old merely by a number of years.maple story money We grow old by deserting our ideals.ms mesos Years may wrinkle the skin, but to give up enthusiasm wrinkles the soul. Worry, fear, self-distrust bows the heart and turns the spring back to dust. Whether 60 or 16, there is in every human being’wow powerleveling s heart the lure of wonder, the unfailing childlike appetite of what’s maple story money next and the joy of the game of living.powerlevel In the center of your heart and my heart there is a wireless station: so long as it receives messages maplestory powerleveling of beauty, hope, cheer,world of warcraft power leveling courage and power from men and from the Infinite